Terjerat Pesona Gadis Tomboy

Terjerat Pesona Gadis Tomboy
Bab 19


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Dion segera berlari Seraya menggendong tubuh Jovita yang masih tak sadarkan diri itu.


"hey suster!! dokter!! tolong istri saya!"teriak laki-laki tampan itu hingga membuat beberapa orang yang tengah menunggu keluarganya, menoleh ke arah Dion berada. dengan tatapan berbeda-beda.


Namun, hal itu tak membuat Dion menghentikan langkahnya. laki-laki tampan itu malah semakin lebar melangkahkan kakinya untuk menuju ke tempat unit gawat darurat


"hai Martin, tolong segera selamatkan istriku."ujar Dion saat laki-laki tampan itu tak sengaja melihat seorang dokter yang baru saja melintas di hadapannya.


Membuat laki-laki yang baru saja dipanggil namanya itu, seketika menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.


Tentu saja dokter Martin merasa sangat terkejut. Apalagi, melihat laki-laki yang ada di hadapannya kini tengah menggendong seorang gadis.


"Dion, untuk apa kau di sini? dan siapa gadis ini?"tanya Martin berturut-turut membuat Dion merasa sangat geram.


"sudahlah Martin jangan terlalu banyak bertanya. nanti aku ceritakan. sekarang, tolong selamatkan istriku dulu."ujar Dion Seraya membaringkan tubuh Jovita di atas brangkar rumah sakit.


Mendengar ucapan dari sahabatnya itu, bukannya membuat Martin semakin mempercepat pekerjaannya, malah membuat laki-laki yang berprofesi sebagai dokter spesialis organ dalam itu, malah semakin mematung di tempatnya.


" hey, jangan melamun!"sentak Dion Seraya menyenggol tubuh laki-laki itu dengan sedikit keras. hingga membuatnya, terhubung ke belakang.


Dengan segera, Martin memerintahkan para perawat yang berada di sampingnya, untuk membawa seorang wanita yang tergeletak di atas Brangkar rumah sakit itu.


"kau utang penjelasan ku,"ujar dokter Martin sebelum laki-laki tampan itu benar-benar menjauh dari tempat Dian berada.


Dengan langkah perlahan, Dion mengikuti brangkar yang membawa istrinya itu untuk menuju ke ruang ICU.


"maafkan aku sayang, tidak seharusnya aku melakukan hal ini. Seharusnya, aku lebih mengutamakan akal sehatku daripada egoku,"ujar Dion lirih.

__ADS_1


Andai saja waktu dapat diputar kembali, maka Dion tidak akan pernah bertindak gagabah seperti ini dengan menikahi gadis tomboy itu secara diam-diam. dan membuat keselamatan gadis itu terancam.


Namun apalah daya, semuanya telah terjadi dan tidak bisa dikembalikan seperti dahulu lagi. karena di dalam pernikahan itu, tidak ada unsur perceraian apapun yang terjadi kedepannya. dan itu sudah disetujui dan ditandatangani oleh Jovita sendiri.


Memang surat pranikah di antara mereka sedikit aneh. namun itu dilakukan oleh Dion, bukanlah tanpa alasan. laki-laki tampan itu, tidak ingin kehilangan gadis tomboy itu apapun alasannya. dan hanya maut yang dapat memisahkan mereka. dan kedua orang tua Jovita pun, merestui hal itu.


Asalkan tidak adanya KDRT dan perselingkuhan, semua masih dapat dibicarakan secara kekeluargaan. Dion mendudukkan dirinya di kursi ruang tunggu yang ada di depan ruangan ICU. di mana istrinya saat ini tengah berjuang antara hidup dan mati.


"bagaimana keadaan Jovita?"tanya seseorang yang kini tengah duduk di samping Dion.


Entah apa yang dipikirkan oleh Dion, hingga laki-laki tampan itu tidak menyadari jika kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya, telah sampai dan saat ini berada di hadapannya.


Tanpa basa-basi lagi, Dion segera memeluk tubuh sang ibu dengan erat Seraya menangis sesunggukkan seperti seorang anak kecil yang kalah berkelahi.


"apa kau sangat mencintai Jovita?"tanya Vania dengan spontan. karena wanita paruh baya itu merasa, sangat terharu. karena putrinya, cintai sebegitu dalam oleh laki-laki sebaik Dion.


Vania yang mendengar itu seketika tersenyum senang. ternyata, pilihannya tidaklah salah. karena ternyata, Dion adalah sosok laki-laki yang sangat bertanggung jawab. dan terlebih lagi, laki-laki tampan itu sangat mencintai Putri kesayangannya.


"syukurlah kalau begitu, berarti Mami tidak salah karena memilihmu sebagai pendamping hidup putri kesayangan Mami. tolong jaga Putri kesayangan Mami baik-baik ya,"ujar Vania tersenyum hangat.


Dion yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. "tentu Tante, itu akan menjadi prioritas utamaku saat ini." ucapnya dengan wajah yang sangat serius.


"loh kenapa masih panggil Tante, kalian kan sudah sah menjadi suami istri. jadi panggil saja seperti Jovita memanggil seperti biasanya Mami."ucap Vania Seraya menatap menantunya itu dengan tatapan hangat.


Dion yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. kemudian menyuruh keempat manusia paruh baya itu, untuk pulang. karena pasti mereka sangat kelelahan dengan apa yang terjadi hari ini. walaupun semuanya sudah ditangani oleh wedding organizer, namun tetap saja mereka itu sudah separuh baya. jadi tenaganya, sudah tidak sekuat yang masih muda.


"ya udah kalau gitu Mami pulang dulu, jaga Putri Mami baik-baik ya, nanti kalau sudah sadar, tolong kabari mami."ucap Vania.

__ADS_1


Dion yang mendengar itu, seketika menganggukan kepala."Mami tenang saja, Dion akan menjaga Putri Mami dengan sepenuh hati."ujar laki-laki tampan itu dengan suara tegasnya.


Mereka semua akhirnya menganggukkan kepala dan dengan segera pulang ke rumah masing-masing.


Tak berapa lama, tepat saat keempat orang tua itu pergi, ruang ICU terbuka. dan menampilkan dokter Martin berjalan menghampirinya.


"bagaimana keadaan istriku?"tanya Dion Seraya berjalan dengan cepat menghampiri dokter tampan itu.


"dia tidak apa-apa dia hanya merasa syok saja,"ujar Martin Seraya duduk di samping laki-laki itu.


"bisa tolong jelaskan, kenapa hal ini bisa terjadi?"tanya Martin dengan raut wajah yang sangat penasaran.


Dion yang mendengar itu, dengan segera menceritakan dari awal hingga akhir.


"kau serius menikahi seorang pelajar?"tanya Martin seakan tak percaya.


"seriuslah. memangnya kenapa?"tanya Dion Seraya melirik ke arah sahabatnya itu.


Martin yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang. "aku harap kau akan kuat menghadapi konsekuensi dari tindakan yang kau ambil ini."ujar Martin Seraya menepuk pundak Dion dengan pelan.


Membuat video yang tidak mengerti, seketika menautkan alis."maksudnya bagaimana?"tanya Dion.


"gadis ABG itu berbeda dengan gadis dewasa pada umumnya Dion, mereka itu gampang sekali berubah-ubah suasana hatinya. dan kau harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya,"


Tepat saat Martin selesai mengatakan hal itu, ponsel yang ia genggam yang tak lain adalah milik Jovita, seketika berbunyi. Membuat mereka berdua seketika saling pandang.


"my love,"ujar Dion dengan nada yang sangat lirih dan juga raut wajah yang berubah masam.

__ADS_1


"itu salah satunya,"Martin berucap Seraya beranjak dari duduknya. karena laki-laki tampan itu harus kembali bertugas sebagai tim penyelamat yang sangat dibutuhkan di rumah sakit ini.


__ADS_2