TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Jonathan


__ADS_3

Dia adalah Jonathan, pria Eurasia percampuran Eropa dan Asia. Pria dengan panggilan Jo ini lebih sering tinggal di apartemennya dan singgah di rumahnya hanya ketika orangtuanya pulang ke Tanah Air. Dan beberapa hari yang lalu dia baru saja landing dari Swedia tempat orangtuanya tinggal. Dia menghabiskan waktu liburan semester untuk mengunjungi familinya disana.


Usai membersihkan diri, dengan handuk yang masih menjuntai di bahunya dia melayangkan pandangan ke arah balkon rumah sebelah. Sambil sesekali mengeringkan rambutnya dia memandang jauh ke arah gadis berambut panjang diseberang rumahnya itu. Tidak seperti malam sebelumnya si gadis memainkan gitar, kali ini si gadis memainkan biola.


"Ckckck... Gadis multi talented... Aku suka..." Gumamnya lirih.


"Mas... Ini kopi dan makanan kecil yang mas minta, saya taruh di meja ya..." Ucap mbok Parti.


"Iya mbok... Terima kasih." Sahut Jo.


"Kalo begitu saya permisi mas Jo. Saya pamit istirahat. Kalo mas Jo butuh sesuatu tinggal panggil saya mas." Pamit mbok Parti sebelum pergi.


"Mbok sudah mau istirahat?" Tanya Jo.


"Saya cuma tidak mau mengganggu mas Jo. Barangkali mas Jo mau istirahat." Ujar mbok Parti.


"Saya pengen ditemani mbok Parti sebentar boleh?" Pinta Jo.


"Boleh mas. Apa ada yang bisa saya bantu? Ato mas mau mbok pijit?" Ucap mbok Parti menawarkan.


"Duduk mbok." Ucap Jo.


Mbok Parti duduk di kursi dengan sungkan. Di keluarga Jonathan tidak memandang rendah para asisten rumah tangga. Karena mommy Jonathan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang susah sebelum diperistri oleh dokter kaya asal Swedia.


Jo masih memandang gadis diseberang sana tanpa menghiraukan mbok Parti. Setengah jam berlalu namun tidak ada perbincangan antara Jo dan mbok Parti. Mbok Parti pun tak tahu tujuan dirinya diminta menemani tuannya itu. Dia mengalihkan pandangan, menyusur arah pandangan tuannya. Setelah mengetahui arah pandangnya, mbok Parti tersenyum kecil.


"Namanya non Tari mas..." Ucap mbok Parti membuka kebisuan.


"Eh..." Respon Jo gugup.


"Dia cantik loh mas..." Tambah mbok Parti.

__ADS_1


"Eh... Iyakah??" Balas Jo.


"Iya mas. Kayaknya dia kesepian sejak kembarannya meninggal. Tiap malam dia duduk sendiri di balkon itu. Dulu biasanya ada 3 orang yang duduk disana, ada Mas Surya, Mas Abi sama Non Tari. Tapi sejak Mas Surya meninggal kemarin, non Tari duduk disana sendirian, cuma main musik aj." Jelas mbok Parti panjang lebar.


"Ohhh..." Sahut Jo tenang namun penasaran.


Mbok Parti sendiri bingung dengan reaksi yang Jo berikan. Dan tumben tumbenan bos kecilnya itu pulang kerumah tanpa mommy sama daddy nya. Pasalnya biasanya Jo tinggal di apart-nya karena lebih dekat dengan kafe milik mommy nya. Jo diberikan tugas oleh sang mommy untuk mengurus kafe dan penginapan milik sang mommy selama mommy nya tinggal di Swedia. Itu sebabnya Jo lebih sering tinggal di apart yang lokasinya dekat dengan kedua tambang koin sang mommy.


Dibanding mengurus penginapan milik mommy nya, Jo lebih sering berada di kafe nya. Karena dulu Jo pernah mendapati perempuan yang sangat ia cintai yang menjadi kekasihnya sejak SMA bergandengan mesra memasuki kamar di penginapannya. Padahal selama 4 tahun berpacaran dengan Jo, dia hanya sesekali mencium kening selebihnya tidak ada.


⛈️⛈️⛈️


Tiba - tiba terdengar gelegar guruh di sambut dengan petir yang membawa hujan. Membuyarkan pandangan Jo yang fokus pada gadis diseberang. Ya ... Masih memandang gadis diseberang.


Dia mengernyitkan dahinya, melihat si gadis tak bergeming dengan guruh dan petir serta hujan yang mulai turun. Si gadis tetap memainkan biolanya sambil menari. Seolah dia sedang melakukan show diatas panggung. Tak menghiraukan gemuruh dan hujan.


Dari dalam rumah terlihat seorang wanita paruh baya yang tergopoh-gopoh dengan handuk di tangannya berlari dan mendekap gadis tersebut sambil membawanya masuk ke dalam rumah.


Lama memandang ke seberang sana, Jo memperhatikan gerakan ibu dan anaknya yang berpelukan, mengusap rambut, yang diakhiri dengan kecupan di dahi sang gadis dan lampu di seberang sana pun dimatikan.


Dapat disimpulkan bahwa ternyata kamar si gadis tepat ada di seberang ruang keluarga lantai dua milik Jo.


Banyak hal yang sebenarnya ingin Jo tanyakan pada mbok Parti. Tapi mungkin lain kali, karena malam semakin larut, Jo mempersilahkan Asisten rumah tangga itu untuk beristirahat. Sepeninggal mbok Parti, Jo masih betah di posisi duduknya saat ini. Sesekali dia menyesap kopi yang hampir dingin.


Jo terus memikirkan gadis yang memikat perhatiannya saat ini. Dari paras, penampilan, talent, emosi, semua bergelayut di pikirannya. Rasa penasarannya semakin memburu. Belum pernah satu kali pun ada gadis yang menyita perhatiannya seperti Mentari saat ini.


"Mentari..." Gumamnya lirih.


Sesaat dia tersadar.


"Ah...****... Kenapa baru kepikiran sekarang."

__ADS_1


Erangnya kemudian sambil memukul sofa yang didudukinya saat ini. Dia segera meraih ponselnya dan mencari kontak yang akan dia telpon. Yang tak lain adalah Noni sang sekretaris panitia di fakultasnya.


Drrrrt... Drrrrt ...


Dalam dua deringan panggilan itu terangkat.


"Arrggghhh paan sih malem malem gini gangguin tidur gue" Erang Noni di seberang sana.


"Ekhem... Gue Jo." Ucapnya.


"Eh... Eh... Tumben lo... Ngapain coba..." Tanya Noni Sambil mengucek matanya dan menggulung rambutnya.


"Loe bawa data mahasiswa baru pulang kerumah loe ga?" Tanya Jo to the point.


"Ekhm... Bentar gue cek map dulu." Segara dia menyambar map pink bermotif kupu - kupu di meja dekat pintu kamarnya.


"Ada!" Jawabnya kemudian.


"Gue minta capture in form atas nama Mentari segera. Thank. Gue tunggu." Ucapnya to the point dan langsung memutus panggilan.


"****!" Umpat Noni selepas panggilan berakhir.


"Dia bangunin gue cuma buat kirimin dia foto formulir cewek yang namanya Mentari? Penting banget gitu?" Gerutu Noni sambil mengacak isi mapnya untuk mencari formulir milik Mentari.


"Gotcha!" Dia menemukan apa yang dia cari. Formulir atas nama Mentari dengan foto gadis berambut hitam dikucir kuda.


"Manis juga sih, tapi ada hubungan apa dengan Jo? Apa dia bermasalah?" Gumamnya sendiri sambil mengcapture formulir tersebut dan segera mengirimkannya ke Jo. Selanjutnya Noni kembali ke kasur nyamannya.


Ting ting


Bunyi pesan masuk di ponsel Jo. Segera dia menjamah ponsel yang ada di bawah bantal yang dia tiduri saat ini. Jo sudah bersiap tidur saat pesan dari Noni masuk. Melihat pesan yang Noni kirimkan, mendadak rasa kantuknya pun sirna. Segera Jo memeriksa informasi yang tertulis di formulir tersebut. Dari nama, tanggal lahir, makanan favorit, hobi, genre film kesukaan sampai ke nomor ponsel dan akun sosmednya tentu saja.

__ADS_1


Ya... Informasi ini yang dia butuhkan untuk saat ini. Dia memasukkan nomor Mentari ke ponselnya dengan nama ❤️2B. Setelah menyimpan kontak itu, kembali dia menyimpan ponselnya di bawah bantal disampingnya dan segera dia terlelap dalam mimpinya.


__ADS_2