
Hari ini free, kabarnya asisten dosen yang harusnya mengisi jadwal mendapat kecelakaan. Saat sedang asyik menscrrol ponselnya, dia mendapati panggilan masuk dari seseorang bertag "freak".
"Apalagi sih ni orang!!" gerutu Mentari.
"Ya, hallow..." Ucap Mentari ketus.
"Pagi sunshine, masih pagi udah emosian aja." Sapa Jo.
"Pagi juga ka, tumben ada apa nih."
"Noni dah kabarin kamu belum kalo habis kelas kamu sama beberapa anak lain mewakili angkatan kamu rapat di Mako ya... " Papar Jo.uuuu bu
"Oh, belum ka. Kebetulan hari ini ga ada kelas, jadi mungkin Tari kesana lepas jam 10." Jawabnya Lugas.
"Ok. Gitu aja. Sampai Katemu di kampus." Ucap Jo mengakhiri panggilan.
Mentari melewati pagi dengan masam, berbanding terbalik dengan cuaca hari ini. Bagaimana tidak, baru saja dia berencana untuk mengunjungi makam Surya, namun mendadak dia harus ke kampusnya.
Pukul 9.00 dia sudah siap ke kampus dengan balutan short dress bunga bunga cantik, rambut dikucir dua dan diikal dengan baret warna cream diatasnya serta crop cardigan untuk melengkapi busananya.
Mentari turun dari kamarnya di lantai 2 dan menyusuri rumah mencari keberadaan bundanya. Tak lama dia menemukan Bundanya sedang duduk - duduk di gazebo halaman depan ditemani seorang pria yang tak asing bagi keluarga mereka, siapa lagi kalo bukan Abi.
"Eits... mau kemana neng cantik? nge-date?" Sapa Abi.
"Iya nih, anak bunda mau kemana? Biasanya paling anti kalo panas panas gini keluar rumah." Timpal bunda.
"Kampus Bun, ada acara mendadak. Mungkin pulang agak telat ya Bun, mau ke makam abang juga." Pamit Mentari sambil mencium tangan dan pipi bundanya. Kemudian dia bergegas menuju Red Pearl yang baru keluar dari garasi.
"Ka Abi, nitip bunda ya... awas jangan sampe keropeng." Canda Mentari sambil melambaikan tangan asal.
"Ish... keropeng emang bunda Abi gigitin... dasar." Gerutu Abi ketika mendengar cara berpamitan Mentari. Bunda yang mendengar gerutuan Abi hanya terkikik melihat candaan keduanya.
Namun, tanpa disadari di atap balkon rumah sebelah nampak seseorang sedang tersenyum simpul mengamati gerak - gerik Mentari. Dave dari balkon rumahnya sedari tadi mengamati interaksi yang terjadi di halaman rumah sebelah sambil menyesap Espresso favoritnya.
__ADS_1
Mentari melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat melewati toko bunga Mentari mampir sebentar untuk membeli bunga tabur, dan buket bunga kecil. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju kampusnya. Setelah memarkirkan mobilnya ia berjalan menuju Mako.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 10.15 namun di luar Mako masih sangat sepi. Mentari menunggu sejenak di dekat pintu ruang tersebut. Terdengar suara berderit dari dalam ruangan, ia pikir yang lain mungkin sudah ada di dalam ruangan. Mentari pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.
Knock...knock...
Setelah pintu diketuk, Mentari Menyembulkan kepalanya kedalam ruangan, mencari keberadaan anggota rapat yang lain. Namun yang ia dapati hanya sesosok pria tinggi putih kekar dengan rahang kuat besar dan mata cekung yang mengenakan hem putih dengan kaos berwarna hitam di dalamnya. Mentari dapat menebak dengan pasti sosok itu adalah Jo sang senior.
Hening sejenak... Keduanya mengalami kecanggungan akibat pesan singkat semalam. Keduanya hanya saling memandang, tanpa secuil kata yang terucap.
POV ****Mentari****
Hah... ko masih sepi yang lain kemana? ko cuma ada dia disini, mana yang lain... pasti bakal canggung banget nih gegara semalem.
**POV END
POV JO**
Ish... ko dia muncul pas didepan gue gini sih...mana cantik banget lagi. Mati kutu deh gue gegara semalem. Aduh...gue kudu ngomong apa lagi kalo Deket banget gini.
"Ehmmmm... kak, yang lain mana? Ko masih sepi." Mentari mencoba memecah keheningan.
"Ehem..." Jo Coba mengatur kegugupannya.
"Yang lain masih ada kelas kali, belum pada kelar." Jawab Jo dengan susah payah karena dia harus menstabilkan suaranya.
"Yuk, sini masuk dulu... duduk aja dulu pintunya dibuka aja gpp." Ajak Jo.
Mentari memasuki ruangan itu. Mata melihat sekeliling mengamati sekitar. Nampaknya ruangan ini baru saja dibereskan dan sudah disiapkan untuk pertemuan. Mentari duduk di salah satu kursi di ruangan itu, sementara Jo masih sibuk membereskan sesuatu sebelum akhirnya dia duduk di hadapan Mentari.
Hening sejenak...
"Tidur nyenyak semalem?" Tanya Jo membuka percakapan.
__ADS_1
Ruangan itu kini sangat nyaman, dengan aroma rileksasi dari pengharum ruangan otomatis yang baru saja menyemprotkan aromanya. Di iringi lagu The Corrs yang sedari dari mengalun dari sound portable. Yang kebetulan saat ini mengalun lagu berjudul "What Can I do". Memang selera musik Jo anti mainstream, meski lagu lama Jo masih suka menikmatinya.
"Nyenyak dong." Jawab Mentari cuek.
"ehm... Kalo boleh nanya, sejak kapan kakak tinggal di rumah itu. Setahu aku, rumah itu ga dijual atau disewakan, itu kan rumah mas Jojo temen masa kecil dulu." Tanya Mentari penasaran.
"Oh... Kamu masih inget ternyata." Sahut Jojo.
"Hah? Maksudnya masih inget?" Mentari kebingungan.
"Iya, kamu masih inget sama mas Jojo." Jawab Jo.
"Iya... Dia temen aku sama mas Surya waktu kecil dulu, tapi ga tahu kenapa tiba - tiba pergi ikut papanya. Kata mbok sih mas Jojo kecelakaan parah dan maminya segera bawa terbang mas Jo biar mami sama papinya bisa rawat mas Jo, tapi ga ada kabar." Ujar Mentari dengan wajah agak muram.
"Oh..." ucap Jo sambil angguk - angguk.
"Mas Jojo itu, visualnya gimana?" Tanya Jo memancing.
"Emmm... Kalo ga salah inget, matnya biru muda, rambutnya hitam, kulitnya putih. Ganteng sih menurut aku saat itu, dibanding mas surya yang memiliki mata coklat." Jawab Mentari mendetail.
"Kaya gini bukan?" Tanya Jo sambil melepas lensa kontaknya.
"Wah...." Mentari kaget sampai mulutnya terbuka lebar. Mata biru muda yang dia kagumi dulu ada di depan matanya kini. Sosok yang membuat Mentari menangis berhari - hari. Sosok yang dia tunggu di balkon rumahnya. Sosok yang tiba - tiba menghilang bertahun - tahun tanpa kabar.
Mata Mentari berkaca - kaca dan Air matanya hampir tumpah dari pelupuk matanya. Ada rasa senang, ada rasa curiga, ada rasa kecewa yang berkecamuk dalam diri Mentari saat ini. Dadanya sesak, bergemuruh, dia tidak tahu bagaimana bereaksi. Dia ingin menangis, memeluk, berteriak dengan bersamaan. Namun dia memilih diam dan menahan air matanya mengalir.
Entah sudah berapa menit berlalu dalam keheningan. Keduanya terjebak dalam kecanggungan masing - masing.
Tiba - tiba ponsel keduanya berdering bersamaan. Keduanya mengangkat ponselnya masing - masing dan sibuk dengan pembicaraan masing - masing. Mentari mengakhiri ponselnya, mengambil tasnya dari atas kursi dan memberi isyarat bahwa dirinya akan keluar. Namun saat tangan kanannya menggapai handle pintu, salah satu tangannya tertahan oleh genggaman Jo.
Jo melempar ponselnya ke arah kursi dan meraih tubuh Mentari dengan satu tangan lainnya. Tubuh mereka kini saling menempel, Jo memeluk tubuh Mentari erat, dan mendaratkan kecupan di kening Mentari.
"Tunggu sebentar lagi." Pinta Jo lirih sambil mendaratkan kembali kecupan di kening Mentari.
__ADS_1
Mentari enggan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya terdiam dalam pelukan Jo, yang terus menghujani kening melati dengan kecupan.