TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Jalan bertiga


__ADS_3

*Morning my sunshine...


^^^*pagi kak...^^^


*Maaf hari ini aku ga bisa


nemenin kamu


^^^*gak papa kak...^^^


*acara pengajian


mulai jam berapa beb...


^^^*Ba'da maghrib ko^^^


*oke aku usahain


sore meetingnya


dah kelar


^^^*oke sip. Hati - hati^^^


^^^selamat bekerja^^^


💋💋💋


^^^💋^^^


Jo menimbang lagi. Lebih baik mampir dulu, atau langsung berangkat. Semalam dia sudah pamit ke ayah bunda kalo hari ini dirinya ga bisa bantu - bantu karena ada janji temu dengan klien mamanya. Lama dia menimbang sambil bersiap pergi.


"Sekalian lewat ini, gak papa donk sekalian recharge energi." Gumam Jo sambil merapikan dasinya di depan cermin.


Jo memarkirkan SUV nya dihalaman rumah Mentari. Masih ada waktu satu jam sebelum pertemuan, dia rasa cukup untuk mampir sebentar. Sementara di dalam rumah Mentari bersiap untuk pergi membeli beberapa barang yang kurang.


Mentari sudah siap dengan jeans hitam dan kaos oversized nya. Dengan rambut di kepang belakang dan make up natural dia rasa sudah cukup. Dia Mencari Abi di halaman belakang, sedari pagi Abi sudah ada di rumah Mentari membantu seisi rumah berbenah. Saat hendak berbalik menuju ruang tengah.


BUGHHHH...

__ADS_1


Suara debam yang kencang. Mentari menabrak tubuh Jo. Dengan tampang linglung Mentari menutup mulutnya yang menganga.


"Mau kemana sih beb buru - buru amat." Ucap Jo sambil membungkukkan badannya menyamakan postur Mentari.


"Eh? Sapa nih keren amat kaya om om ci i ow..." Ledek Mentari.


"Enak aja om om. Kamu mau sama om om?"


"Boleh lah kalo om om nya kaya Kaka." Balas Mentari sambil terkikik.


"Udah deh, aku ga bisa lama lama. Cuma mau pamit dan recharge energi aja. Kita becandanya lanjut nanti malem okey?" Ucap Jo sambil mengecup kening Mentari dan mencuri kecupan di bibir Mentari yang ia sambar secepat kilat. Kemudian Mentari menemani Jo sambil bercerita bahwa ia akan pergi berbelanja dengan ditemani Abi. Keduanya pun berpisah dan memulai harinya masing - masing.


Mentari pergi berbelanja keperluan pengajian bersama Abi. Mereka terdampar di salah satu supermarket besar untuk mencari keperluan yang bunda butuhkan. Setelah menjelajahi supermarket untuk memenuhi isi troli belanjaan mereka, mereka mampir untuk mengisi tenaga di salah satu food court. Resto masakan Jepang selalu menjadi favorit Mentari. Mereka berdua menikmati santapan Jepang sambil bercerita kanan kiri tanpa menghiraukan sepasang mata yang sedari tadi mengamati dan mengarahkan lensa kamera ke arah mereka.


Karina ada si seberang tak jauh dari spot Mentari dan Abi duduk. Dia Mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua, ia membidikkan kameranya secara berkala. Sepertinya dia tidak mau kehilangan moment. Setelah mendapatkan beberapa bidikan dia mengirimkannya ke grup isinya karyawan - karyawan kafe milik Jo. Dia menambahkan kata - kata.


"Betapa malangnya Bos pujaan baru juga go publik, eh sekarang sudah sudah ditikung." #tikungantajam


Sontak seisi grup membahas foto - foto yang Karina kirimkan. Demikian juga dengan Jery yang merasa sebagai karyawan terakrab dengan bos nya itu segera membagikan foto yang ia dapat di grup ke ponsel bosnya.


*Bos ada yang panas tapi bukan api.


Jery mengirimkan beberapa file foto pada bosnya. Namun tidak ada reaksi dari bosnya tersebut.


"Wah gawat, bos ga respon foto - foto iti. Pasti bos langsung marah nih?" Pikir Jery.


*My Sunshine... lagi ngapain nih...


^^^*Lagi makan kak sama ka Abi.^^^


Konfirmasi selesai, Mentari ga bohong sekarang dia sedang apa dengan siapa. Jo makin gemas, pasalnya kapan lagi dia memiliki gadis yang sejujur dan sepolos itu.


Iya, cewek gue lagi makan sama mantan cowoknya. Puas?


"Njir... si bos oke aja gitu ceweknya jalan sama mantan cowoknya." Pekik Jery sambil menepuk kening saking gemasnya.


Jery langsung menyebarkan pesan konfirmasi dari Jo ke grup karyawan. Namun Karina terus mengasapi arang yang mulai terbakar. Dia memprovokasi dengan opininya sendiri.


"Udahlah bukan urusan gue juga. Yang punya hubungan juga enjoy aja." Gumam Jo sambil melempar ponselnya ke sofa di area istirahat karyawan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pengajian telah berlangsung dengan khidmat. Saat ini mereka semua berkumpul di gazebo depan, angin malam terasa sangat sejuk saat ini. Mereka berbincang mengenai kesibukan mereka masing - masing. Raut wajah Jo nampak sangat lelah. Mentari membelai wajah Jo dan mengikat rambut depan yang terurai sedikit menutup wajahnya. Jo menyandarkan kepalanya di bahu Mentari hingga tanpa sadar ternyata Jo sudah tertidur pulas. Menyadari Jo sudah terlelap, Mentari memindahkan kepala Jo ke pahanya.


Malam mulai larut, sepertinya Jo benar - benar kelelahan. Mentari mencoba membangunkan Jo berkali - kalo namun tak bergeming. Akhirnya mereka memutuskan untuk ngeronda di gazebo. Bunda dan Mentari tidur di kamar masing - masing sedangkan Ayah dan Abi menemani Jo tidur di gazebo.


...****************...


Hari Minggu yang cerah. Mentari mencari Jo di gazebo. Ternyata gazebo sudah kosong, entah kemana perginya 3 pria yang semalam tidur disana. Mentari memutuskan membantu bunda di dapur. Terdengar suara ketiga pria yang menghilang ketika semua sarapan siap, Mentari segera menata meja makan untuk mereka.


Mereka menghabiskan hari Minggunya bersama. Mentari bersama Abi dan Jo pergi bertiga untuk menonton. Dari kursi Belakang Mentari teringat sosok Surya. Biasanya saat mereka pergi bertiga, yang ada di belakang kemudi adalah Surya.


Mentari enggan membuyarkan lamunannya tentang Surya, hingga pelupuk matanya basah, matanya berkaca - kaca. Jo yang sedari tadi berbincang dengan Abi, teralih pandang melihat sorot mata Mentari yang sudah mendung.


"Mentari, are you ok?"


Si empunya nama tergagap saat namanya dipanggil.


"mmmm .... ahhh aku gak papa." Sambil menyeka air mata yang nyaris tumpah.


"Beneran." Jo memastikan lewat spion tengah.


Abi menoleh ke belakang memastikan keadaan Mentari.


"Lo kalo ada apa - apa cerita aja ke kita. Ato ke gue aja juga gak papa. Lo beruntung loh bodyguards Lo ganteng - ganteng, ya gak kak?" Ucap Jo sambil menepuk ringan bahu Jo.


"Idih enak aja bodyguard, gue mah calon imam kali, ya gak beb?" Sahut Jo sambil mengerlingkan mata lewat spion.


"Enak aja, kalo calon suami jelas gue lah. Gue terikat wasiat Surya tau gak Lo kak?" Abi bersungut tak mau kalah.


Mereka berdua adu mulut namun yang bersangkutan tidak bergeming. Saat ini Mentari mengganggap yang ada di hadapannya adalah anak usia 5 tahun yang sedang memperebutkan permen saja. Sesekali Mentari tertawa dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka berdua.


"Aduduh... kalian ini mamah pusying." Ucap Mentari berlagak seperti ibu mereka.


"Udah anak - anak mama yang ganteng, kakak... abang... jangan ribut mulu ya... mama pusing nih jadinya." Sambung Mentari lagi.


"Tium mah... tium dulu." Renget Jo sambil menirukan gaya anak kecil.


Alih - alih menciumnya, Mentari membelai rambut kedua pria di depannya.

__ADS_1


Sontak ketiganya terbahak dengan gurauan mereka sendiri.


__ADS_2