
Jauh di alam bawah sadarnya, saat ini Mentari berada di sebuah lorong penuh cahaya. Begitu menyilaukannya hingga dia harus memperkecil pupilnya. Dia berjalan menyusuri lorong penuh cahaya itu. Begitu panjang, meski terus berjalan, namun Mentari belum juga menemukan ujung lorong tersebut.
Saat sedang menyusuri lorong dia melihat sosok yang familiar baginya... Sosok itu menoleh, memperlihatkan mata biru yang sangat familiar. Namun kemudian sosok itu berlari menuju cahaya terang di depannya, kemudian menghilang.
Mentari terus menyusuri lorong sepi tak berujung itu hingga kemudian ia melihat sosok yang mendekat ke arahnya.
"Hai cantik. Aku datang untuk menjemputmu." Ucap sosok yang menyerupai Surya, kembarannya.
"Mas?" Sahut Mentari.
Sosok menyerupai Surya kemudian menawarkan tangannya untuk bergandengan tangan, dengan senang hati, Mentari menyambutnya. Mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan, menyusuri lorong tersebut.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di ujung lorong, Disana terlihat hamparan kebun bunga, dan pepohonan rindang diantara air sungai yang mengalir sangat jernih. Sosok menyerupai Surya mengajak Mentari untuk duduk di salah satu bench di bawah sebuah pohon yang sangat rindang.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Surya.
"Aku gak papa Mas." Jawab Mentari tenang.
"Seharusnya kamu belum boleh menapak disini. Bahkan saat ini kamu seharusnya berbahagia diantara orang - orang yang menyayangimu. Kenapa kamu malah terjebak di sini?" Ucap Surya.
"Entahlah, aku pun tak tahu saat ini ada dimana." Ucap Mentari lirih.
"Aku... kembali... ke mana..." Ucap Mentari dengan penuh kebingungan.
__ADS_1
Dalam sekejap, Mentari mendapati dirinya kembali berada di sebuah lorong penuh cahaya. Kali ini ada satu buat cahaya terang di salah satu sisi dan sisi lainnya gelap. Secara naluriah Mentari memilih sisi lorong dengan titik terang di penghujung jalan.
Dia berjalan menyusuri lorong yang hangat, dan terang, serta terdengar sayup - sayup suara yang sangat familier. Suara isakan tangis yang sesekali memangil namanya, suara seseorang yang melantunkan doa atas dirinya, seseorang yang menggaungkan harapan - harapan untuk dirinya.
Mentari terus menyusuri lorong itu, berharap ia akan segera sampai di penghujung lorong. Semakin ia berjalan mendekati penghujung lorong, suara - suara yang dapat ia tangkap semakin banyak dan semakin jelas.
Hingga akhirnya Mentari sampai di ujung lorong tepat sebuah cahaya terang itu berada di hadapannya. Cahaya putih itu seakan menjadi vortex teleport yang menghisap Mentari mendekat dan masuk ke dalamnya, hingga ia merasakan perpindahan dimensi.
Kini Mentari tak hanya mendengar suara - suara yang familier baginya, namun juga merasakan sentuhan demi sentuhan di tubuhnya. Mentari berusaha merespon sentuhan yang dia rasakan. Dalam bawah alam sadarnya, Mentari ingin membuka matanya dan menggerakkan jari yang tengah di genggam seseorang. Namun ia tak bisa membuka kelopak matanya. Hingga tanpa disadari, monitor yang memantau kinerja gelombang otak (EEG) berbunyi.
"Dokter... Dokter..." Teriak Dave Panik. Meski ia telah memencet tombol darurat, Ia tetap berteriak memanggil - manggil dokter.
__ADS_1
Tak lama dokter jaga segera datang dan memeriksa monitor EEG (Electroencephalography), di sana terjadi perubahan laju gelombang. Gelombang alpha Menurun, sedangkan Gelombang Betha Meningkat. Itu tandanya terjadi perubahan aktivitas otak. Dokter juga menemukan bola mata Mentari yang bergerak, dan dokter pun memberi stimulus pada jari - jari Mentari selama beberapa saat hingga akhirnya jari - jari Mentari mulai bergerak perlahan.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter keluar dari kamar tempat dimana Mentari dirawat dan dipantau secara intensive selama 30 Hari terakhir. Ya... Mentari berada dalam fase koma selama sebulan. Dan hari ini, sepertinya dokter akan menyampaikan kabar bahagia pada keluarga Mentari.