TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Hampir Saja


__ADS_3

Makam Surya benar - benar terawat. Pusara itu masih terawat seakan masih basah. Mentari tertunduk sambil mengusap Nisan tergrafir nama Surya Diwantara setelah menabur bunga dan meletakkan karangan bunga diatas pusara itu. Mulutnya komat - kamit namun tak bersuara seolah merapatkan mantra. Jo yang semula hanya berdiri di belakang Mentari kini berjongkok disamping Mentari, memeluknya perlahan, seolah menguatkan. Air mata Mentari tak terhindarkan. Kini air matanya telah tumpah dan terisak dalam pelukan Jo.


Rasa sesak dan air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tak terbendung. Dia terus terisak dalam pelukan Jo hingga akhirnya terkulai lemas. Jo mengangkat tubuh Mentari dan membawanya ke dalam mobil. Jo mengemudikan mobil itu menuju kediaman Mentari.


Jo POV


Damn... kenapa hari ini dia pake short dress sih, mana harus diangkat. Sabar... Sabar... Aku harus bisa jagain Mentari.


Jo POV End


Di dalam mobil Jo terus mengucap kasar wajahnya. Ia sangat frustasi dengan situasi saat ini. Meski Jo sudah menutup tubuh bagian bawah Mentari dengan jaketnya, namun ada sesuatu yang menyembul di bagian dada dress yang Mentari kenakan. Crop Cardigan yang Mentari kenakan terkesiap memperlihatkan bentuk yang tersembunyi di dalamnya, sehingga membuat pria disampingnya berkali kali menelan ludah, mengacak wajah hh frustasinya. Hingga tak bisa berkonsentrasi dengan kemudinya.


Jo adalah seorang laki laki yang terbiasa dengan hedonisme. MK


malam sudah menjadi tempat bermainnya. Sudah banyak wanita yang dia jadikan One Night Stand. Namun lain cerita dengan Mentari, dia tak berniat untuk merusaknya. Setidaknya untuk saat ini. Ia bertekad untuk menjaga dan membahagiakan gadis ini. Dia tidak berniat melampiaskan hasratnya pada Mentari, dan menjadikan Mentari pemuas Nafsunya. Dia menginginkan Mentari menjadi Pemilik hatinya yang akan dia jadikan dan diperlakukan secara layak, tidak seperti wanita - wanita yang sering dia bawa sebagai penghangat tempat tidurnya semata.


Sampai di gerbang rumah Mentari pintu segera terbuka, karena si penjaga pintu hafal mobil milik tuan rumahnya yang tersorot kamera cctv. Kaca mobil Jo turunkan dan dilajukan mobil itu sampai ke depan pintu rumah Mentari. Di depan pintu Jo membopong Mentari yang masih terkulai karena lelah menangis. Dengan tergopoh - gopoh penjaga rumah menghampiri seorang pria yang membopong nona rumahnya itu. Security itu membukakan pintu rumah tuannya, memanggil ART dan nyonya rumahnya. Seketika Nyonya Rumahnya datang dengan raut muka khawatir.


"Ada apa dengan anak saya? Anda Siapa?" Ucap nyonya rumah dengan penuh rasa khawatir.


"Saya Jo Tante, senior Mentari, yang..." Belum sempat Jo menyelesaikan ucapannya. Nyonya rumah meminta Membawakan Mentari ke kamarnya di lantai dua.


"Tolong, bawakan anak saya ke kamarnya di lantai dua. Ayo..." Pinta nyonya rumah sambil memandu Jo menuju kamar Mentari.


Usai membaringkan Mentari di tempat tidurnya, Jo Merapikan posisi tidur, bantal dan selimut Mentari dengan telaten. Membuka tirai jendela sambil tersenyum melihat ke arah kursi dan balkon dirumah seberang.


"Terima kasih nak Jo. Terima kasih banyak nak udah bawain Mentari pulang. Perkenalkan saya bundanya Mentari." Ucap Bunda Mentari sambil menyodorkan tangannya.


Jo membalas salam Bunda Mentari sambil mencium punggung tangan bunda. Salaman khas Indonesia.

__ADS_1


"Iya bunda, Bunda masih cantik kaya dulu." Timpal Jo.


"Kaya dulu?" Bunda Mentari bingung.


"Iya, wajah ayu bunda masih awet sejak terakhir bertemu 9 tahun lalu." Terang Jo.


Bunda mengamit tangan Jo, membawa Jo menuju Teras Balkon rumahnya. Duduk di kursi taman yang sering ia liat dari rumah seberang. Layung senja yang menguning melukiskan pemandangan yang sangat indah menemani keduanya.


"Tunggu - tunggu, 9 tahun yang lalu? kita bertemu? nak Jo?" Tanya Bunda keheranan.


"Iya bunda, Jojo... rumah sebelah..."Terangnya lagi.


Bunda Mentari berusaha mengingat nama Jojo.


"Jojo..." "Jojo ya... mmmmm..." Gumam bunda Mentari sambil menjentikkan telunjuknya yang lentik ke dahinya. sesekali memandang wajah Jo dan kembali mengingat tentang anak bernama Jojo 15 tahun yang lalu.


Ketika pandangannya mengarah ke wajah Jo, kemudian termenung melihat manik mata berwarna biru.


Bunda mengusap wajah Jo lembut, kemudian membelai rambutnya. Tatapannya mengandung banyak tanya.


"Mor sama far sehat?" Tanya Bunda kemudian.


"Sehat bunda. Jo turut berbela sungkawa atas kepergian Surya Bunda. Coba kalo Jo inget dan kembali lebih awal, pasti Jo bisa ketemu Surya." Ucap Jo sambil menggenggam tangan Bunda.


"Sudah, gak papa sayang. Setidaknya Surya udah ga ngerasain sakit lagi. Eh, gimana kamu bisa ketemu Mentari?" Sambung Bunda penasaran.


Saat hendak bercerita, tiba - tiba pintu geser itu terbuka. Mentari keluar dari kamar menuju balkon tempat Bunda dan Jo sedang ngobrol. Jo memberi isyarat pada bunda Mentari untuk membalikkan tubuhnya.


Mentari berjalan gontai dengan mata yang sembab dan crop Cardigan yang sudah terlepas, membuat kulit putih tubuhnya terekspos lebih banyak. Jo berusaha keras menjaga tatapan dan detak jantungnya. Jika dibandingkan dengan para wanita yang pernah Jo bawa, Mentari terbilang paling sempurna dengan proporsi tubuhnya yang tidak terlalu kurus, dan dada serta bokongnya berisi. Sedangkan wanita yang sering Jo bawa adalah wanita setipis triplek dengan tulang selangka yang sangat menonjol.

__ADS_1


Bunda menghampiri Mentari dan memapahnya duduk di antara dia dan Jo.


"Kamu gak papa sayang?" Tanya Bunda sambil mengusap dan memperhatikan wajah gadis kesayangannya.


Mentari mengangguk lemah. Pandangannya masih kosong.


"Kamu udah inget Jojo?" Bunda kembali bertanya.


"Jo?" Ucap Mentari lirih.


"Kak Jojo?" Ucapnya lagi sambil mengalihkan pandangan ke arah Jo.


"Kak Jojo." Ucapnya lagi seraya memeluk Jojo dan kembali terisak. Jo membalas pelukan Mentari sembari mengusap Kepala Mentari dengan lembut.


Bunda meninggalkan keduanya, untuk menyiapkan camilan untuk mereka.


Mentari menghirup aroma tubuh Jo secara intens. Begitu pula Jo, menikmati setiap detil pelukan yang ia terima. tubuh lembut Mentari, aroma tubuhnya, feromon yang menguar. Membuat Jo kuwalahan menahan hasratnya. Dia ingin berbuat lebih. Tapi dia takut mengkhianati janjinya. Dia hanya berani mengecup pucuk kepala Mentari, kening Mentari dan tangan Mentari. Namun dia ingin terus mengecup bagian yang terekspos. Dikecupnya bahu Mentari, berkali kali. Membuat tubuh Mentari menegang dan sebuah Erangan lolos dari bibir mungil Mentari saat Jo Mengecup leher Jenjang Mentari.


"Ahhh..." Erang Mentari kegelian. Seketika menyadarkan Jo bahwa yang dilakukannya sudah berlebihan. Jo segera mengecup Kening Mentari dan mengakhiri kecupannya. Jo melepas pelukan Mentari dan mengusap wajahnya kasar.


Cup!!!


"Maaf." Jo kembali mendaratkan kecupan di kening Mentari sambil mengucapkan kata maaf.


"Aku pamit ya, udah sore. Kamu yang tenang, dan kalo ada apa apa hubungi Kaka."


"Ups. Jangan, Kaka yang akan menjaga dan mengawasimu, jangan abaikan pesan dan telepon dari kakak, mengerti?" Titah Jo.


"Kalo mau ke kampus, hubungi kakak. Kota berangkat sama sama." Jo menambahkan ucapannya sambil segera berlalu.

__ADS_1


Jo menuruni anak tangga saat dia berpapasan dengan bunda. Jo berpamitan sambil mencium tangan Bunda. Melihat Jo sangat terburu - buru membuat Bunda menggelengkan kepalanya.


"Dia masih sama kaya Jojo yang dulu." Gumam Bunda menatap punggung Jo yang menjauh melewati pintu depan rumah Melati.


__ADS_2