TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Duka


__ADS_3

Dave dibantu oleh perawat mengeringkan tubuh Mentari dan mengganti baju yang basah. Dave mengeringkan rambut Mentari menggunakan hair dryer dengan telaten. Kini Mentari sedang duduk sambil memeluk lututnya, Dave merasa sangat iba melihat pemandangan di hadapannya. Dipeluknya tubuh Mentari yang masih memeluk lututnya.


Lagi - lagi Mentari tidur dalan pelukan Dave. Dave membaringkan tubuh Mentari dan kemudian ia juga ikut berbaring di sampingnya sambil memeluk tubuh Mentari. Hingga pagi Menyingsing, mereka masih terlelap sambil berpelukan.


Pagi itu Abi segera bergegas ke rumah sakit. Dia begitu menghawatirkan keadaan Mentari saat ini. Sesampainya di bangsal VVIP Mentari, Abi terkejut mendapati Abangnya dan Mentari tidur berpelukan. Abi mendekat ke samping Abangnya yang tertidur pulas sambil memeluk Mentari.


"Bang... Bang Dave...." Panggil Abi sambil sedikit menggoyangkan bahu kakaknya.


Dave mengerjap. Matanya menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk. Ia melihat Abi berada di sampingnya. Ia berusaha untuk bangun, dan melepaskan satu tangan yang tertindih kepala Mentari.


"Ahh... elu dek. Jam berapa sekarang?" Tanya Dave sambil menguap dan meregangkan badannya. Sesekali tangannya menyeka wajah bantalnya pagi ini.


Dave menuruni ranjang pasien. Badannya nyaris sakit semua karena tidur berimpitan di atas ranjang pasien. Apalagi salah satu tangannya dijadikan bantalan untuk kepala Mentari. Dave melakukan gerakan peregangan saat sebelum membersihkan diri pagi itu.


"Bang, Lo bilang hari ini lo ada urusan bentar ke kantor kan? Biar gue yang gantian jagain Mentari." Ucap Abi sambil mengamati Dave yang merapikan posisi tidur Mentari.

__ADS_1


"Gimana kondisi Mentari semalam? Ga ada yang serius kan?" Tanya Abi kemudian.


"Mentari semalem main air di kamar mandi. Dia udah basah kuyup waktu Gue dan suster nemuin dia di kamar mandi." Papar Dave.


"Gue titip Mentari bentar, kalo hasil pemeriksaan hari ini baik - baik aja, gue mau bawa Mentari buat temuin Ayah dan Bundanya." Sambung Dave.


"Lo gila bang?" Sanggah Abi.


"Bawa Mentari ke tempat itu, malah bakal bikin Mentari terluka bang." Lanjut Abi yang kini berhadapan tepat di depan Dave.


Benar juga, sudah hampir seminggu pencarian Jo belum menemukan titik cerah. Kemungkinan terbesar Jo sudah tiada, kemungkinan lain Jo ditemukan nelayan setempat dan belum siuman. Tiba - tiba Abi terpikirkan 2nd Opinion yang baru ia sadari.


"Bang, Lo tunggu sini bentar. Gue mau ke ruang informasi." Pinta Abi.


"Lo mau ngapain?" Tanya Dave.

__ADS_1


"Kita terlalu fokus ke TKP kenapa kita ga nyari si rumah sakit setempat atau rumah sakit terdekat. Sapa tau Jo ditemukan nelayan atau orang lain dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit." Terang Abi bersemangat.


"Bener juga Lo dek." Ucap Dave kagum.


"Lo sini aja, biar gue yang urus ide lo." Sambung Dave, sambil mulai men-dial beberapa nomor bersamaan.


Dave melakukan conference calls dengan beberapa temannya. Dia meminta temannya untuk mencari informasi di rumah sakit terdekat dan seluruh rumah sakit di Negeri Singa itu tentang keberadaan Jo.


"Gue nitip Mentari dek, kasih tau gue hasil visit dokter nanti." Ucap Dave sambil menepuk bahu Abi dan berlalu pergi. Abi mengangguk menanggapi permintaan Abangnya.


Abi memandangi adik sahabatnya dengan nanar. "Surya, tolong bantu kami menguatkan adik kamu..."Gumam Jo dalam hati. Mentari masih terlelap bahkan saat visit dokter pagi ini.


Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan kesalahan pada tubuh Mentari. Kondisi tubuh Mentari cenderung normal. Sehingga Mentari harus mendapat pemeriksaan psikologi. Siang ini akan dijadwalkan kunjungan psikologi untuk Mentari.


Abi tahu benar kondisi psikologi Mentari sedang tidak baik - baik saja. Ia terduduk menatap Mentari dengan kesedihan. Baru juga dia bahagia, namun duka kembali merenggut senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2