TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Lost Stars


__ADS_3

Empat Puluh Lima menit berlalu. Abi belum juga kembali. Keduanya sudah resah, mereka tidak melakukan hal hal yang diinginkan. Pakaian mereka masih utuh, hanya Cardigan Mentari saja yang sudah tanggal, namun semunya masih pada tempatnya. Mereka memutuskan untuk pulang tanpa menunggu Abi.


Beruntung di parking Lot cafe ada Mobil Jo yang kemarin ia tinggalkan di sana sehingga mereka tak perlu memesan mobil online. Seperti biasa, Jo mengemudikan mobilnya sambil menggenggam tangan Mentari.


"Sayang, kita nikah aja yuk. Minimal tunangan aja dulu. Tapi lebih baik kalo langsung nikah aja sih." Ajak Jo serius.


"Aku kan baru masuk semester awal Kak."


"Justru itu, kalo aku dah lulus tapi kamu masih kuliah gimana dong kalo kamu belum resmi diikat. Aku takut kamu diambil orang." Ungkap Jo posesif. Dia menciumi punggung tangan Mentari.


"Kakak ngomong langsung aja ke ayah sama bunda ya..." Jawab Mentari pasrah.


Jo mengangguk mantap. Ia yakin bahwa Mentari adalah pelabuhan hatinya. Jo mengantarkan sampai tepat di depan teras rumahnya. Kebetulan nampaknya Bunda juga baru saja sampai rumah.


"Hei Jo, mampir nak..." Bunda menawari Jo sambil membalas salam Jo.


"Nanti lagi aja bunda, makasih. Kan udah dari kemarin Jo disini." Gurau Jo sambil menyalami bunda.


"Oke deh. Makasih ya, udah jagain Mentarinya bunda."


"Dengan senang dan sepenuh hati bunda." Sahut Jo.


Jo melambaikan tangan dan bergegas pulang. Dia ingin segera melakukan pendinginan. Begitu juga Mentari yang langsung meluncur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Bunda sedang menyiapkan makan malam saat Mentari turun dari kamarnya. Dia bergelayut manja pada bahu bunda.


"Eh, ada apa nih... kok tumben?" Tanya bunda sambil mengelus kepala Mentari.


"Ayah mana bun?" Mentari mencari cari keberadaan ayahnya.


"Ko tumben belum pulang?" tambahnya lagi.


"Bentar lagi juga dateng sayang. Tumben amat nanya ayah?"


" Ya kan biasanya juga jam segini ayah udah di rumah bun. Ini kan hari Minggu."


"Ayah paling ketemu masmu."


"Hush Bunda sembarangan aja kalo ngomong ihh." Gerutu Mentari.


"Sembarangan gimana sih sayang?" Bunda membalikkan badan Mentari.


"Lah itu bunda bilang kalo ayah ketemu mas Surya? Bunda doain ayah..." Mentari menggantungkan kalimatnya.


"Ish... kamu nih!" Bunda menepuk bahu Mentari asal sambil berjalan menuju lemari pendingin.


"Maksud bunda, tadi ayah bilang hari ini mau mampir ke tempat mas Surya." Papar bunda berbalik menuju meja makan dengan Mentari mengekor di belakangnya.


"Ooooo..." Sahut Mentari seraya memeluk bundanya dari belakang.


Ting


Ponsel Mentari berdenting, tanda ada pesan masuk.


*Udah mandi sayang kakak


^^^Udah donk^^^

__ADS_1


Berarti dah wangi donk*


^^^Iya lah....^^^


jadi pengen cium wanginya


Mentari mengirimkan gambar parfum yang ia pakai dan menyisipkan link tempat ia membeli parfumnya.


"Ihhh... polos banget nih... bisa bahaya kalo dia ketemu cowok lain... lebih baik aku cepet cepet ajak dia nikah." Gumam Jo sambil mengetuk - ketuk ponsel ke dagunya lalu tersenyum tipis memikirkan keluguan Mentari.


"Berarti gue kudu ekstra jagainnya." Gumamnya lagi.


*Besok aku jemput ya...


^^^SIAP*^^^


"Siapa Cantik? Abi?" Tanya Bunda.


"Bukan Bun. Kak Jo. Tau deh kak Abi kemana dari tadi sore."


"Tanyain gih dah makan belum. Sekalian tawarin makan kesini."


^^^*Kakak udah makan?^^^


^^^Yuk sini makan bareng*.^^^


*Masih kenyang sayang


^^^terus lagi ngapain^^^


^^^dong sekarang?^^^


tapi mikirin kamu*


Mentari belum sempat membalas pesan Jo, ketika ayah selesai membersihkan tubuh dan mereka makan malam bersama. Usai makan, Mentari teringat pada sahabat kakaknya, sedari tadi Abi belum ada kabar.


*Kak... sibuk banget kayaknya


sampe lupa jemput kita


^^^........^^^


Belum ada respon dari yang punya nomor. Baiklah, Mentari naik ke kamarnya, menyambar gitar yang berdiri di ujung sofa kamarnya dan menuju tempat favoritnya. Dimana lagi kalo bukan di balkon kamarnya, tempat Mentari biasa mengadakan konser tunggal yang disaksikan bintang dan bulan.


Mentari mulai memetik gitarnya, melantunkan lagu sendu berjudul "Lost Stars" milik Maroon5 yang juga pernah di cover oleh Jungkook BTS. Lagu ini sering dinyanyikan Surya saat dia baru saja didiagnosa penyakitnya. Saat itu Surya begitu putus asa dengan masa depan dan hubungannya dengan Clarisa.


Mentari begitu menghayati permainannya hingga tanpa sadar ada sepasang mata yang mengawasinya. Jo di ujung sana sedang menatap gadisnya yang memainkan gitar. Jo yang semula hanya menatap di ruang dari ruang kerjanya kini sudah berpindah ke balkon ruang keluarganya. Dia hanya bisa mendengar sayup sayup petikan gitar yang dimainkan Mentari.


Jo menuliskan beberapa pesan namun belum terbaca. Pasalnya Mentari memang meninggalkan ponselnya di atas tempat tidurnya. Usai satu lagu dia mainkan, dia tertunduk dengan gitarnya. Ada kerinduan yang dia rasakan pada sosok kakak ya itu. Mentari dan Surya adalah kembar identik, sehingga wajar saja kekosongan itu sangat terasa diantara di dalam diri Mentari.


Jo menatap dari kejauhan, padahal dia tampak ceria dan baik - baik saja saat mereka bersama. Namun ketika Mentari sedang seorang diri, dia tampak sangat suram bak diliputi kesedihan. Apa sehampa itu hidupnya? Jo berpikir keras mengenai hal itu, dan dia tak tahan melihat gadisnya bersedih. Sehingga dia mencoba untuk menghubungi gadisnya kini.


🎶🎶🎶


Ponsel Mentari berdering sebanyak 5 kali. Dipanggilan ke- 6 dengan langkah gontai ia beranjak dari tempat dia terduduk. Meninggalkan gitarnya dan menerima panggilan.


**Kamu kenapa sayang

__ADS_1


^^^*Aku gak kenapa napa ko...^^^


*Aku liat kamu diem


aja sendirian di balkon


^^^*Aku beneran gak papa ko^^^


*Apa aku perlu kesana sekarang?


Bunda belum tidur kan?


^^^*Gak tahu, Aku ke balkon^^^


^^^cuma cari angin^^^


*Emang kamu tadi main


lagu apa?


^^^*Lost Stars^^^


*Sayang kan ada aku,


Abi, ayah, bunda...


kamu gak usah sedih ya


masih banyak yang sayang kamu*


tak ada sahutan


terdengar suara isakan lirih


*sayang...


belum ada jawaban


*sayang...


masih belum ada sahutan dan masih terisak...


Abi belum menutup panggilannya ia segera berlari menuju rumah Mentari, Meminta dibukakan gerbang seperti dikejar setan dan langsung menerobos rumah Mentari menuju kamar Mentari yang kebetulan belum dikunci. Mbak Mirna ART dirumah Mentari sangat segera melaporkan pada ayah dan bunda Mentari mengenai tindakan tak wajar Jo. Segera Bunda dan Ayah bergegas menuju kamar Mentari. Dari pintu kamar yang masih terbuka, Mereka menyaksikan Jo yang memeluk Mentari mereka dari belakang.Mereka mendengar isak tangis anak mereka, mengamati dari balik pintu.


Jo membalikkan badan Mentari, namun Mentari enggan menatap Jo. Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya dari siapa pun. Jo dengan telaten membujuk Mentari yang menangis dan disaksikan kedua orang tua Mentari.


"Sayang, cerita sama Kakak ya..." Ucap Jo dengan nada lembut dan berusaha mengadakan wajah Mentari.


Mentari menggeleng.


"Kamu kenapa sayang? Apa Kakak salah? Kakak minta maaf kalo kakak bikin kamu sedih."


"Ayo sayang, kakak ga bakal ngerti kalo kamu cuma diem gini." Jo meyakinkan Mentari, membawa Mentari kepelukannya, memeluknya dengan lembut, membelai Surai hitam bergelombang. Membenamkan Mentari dalam ceruk lehernya. Terus membelai hingga isakannya sedikit mereda.


"Aku masih belum bisa sendiri." Gumam Mentari lirih.


"Siapa bilang kamu sendiri sayang, masih ada Kakak, Abi, Bunda, ayah juga. Mentari ga sendirian kita sayang sama Mentari, kita ga bakal buat Mentari sendirian." Jo meyakinkan Mentari. Di balik pintu Bunda dan Ayah saling menatap mereka ikut merasakan kesedihan Mentari. Selama ini mereka pikir Mentari sudah baik - baik saja pasca ditinggal kakak kembarnya.

__ADS_1


"Apa perlu kakak percepat rencana pernikahannya? gak usah lamaran langsung nikah. Biar Mentari ga sendirian lagi." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Jo. Ayah dan Bunda Melotot mendengar kalimat Jo. Namun mereka juga menimbang niat Jo.


Mentari kembali terisak. Dia berpikir kenapa dia masih selemah ini? Kenapa dia masih harus bergantung pada orang lain. Kenapa dia melemah saat bertemu Jo? Padahal dia sudah bertekad untuk menjaga diri sendiri. Namun dia melemah seketika saat merasakan perhatian dari seseorang. Ayah dan Bunda tidak bisa menahan lagi, mereka menerobos masuk dan merangkul keduanya.


__ADS_2