TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Kan Ada Matahari


__ADS_3

"Sayang kita mampir kafe dulu buat cek barang ya? Beberapa kafe minta restock barang." Ujar Jo.


"Oke." Jawab Mentari singkat.


Mobil mereka melaju ke salah satu cafe milik Jo. Sejak tadi pagi Jo tidak melepaskan pandangannya pada Mentari. Wajah Jo nampak lebih berbinar hari ini. Pada dasarnya Jo orang yang ramah, namun dia dingin terhadap wanita, apalagi wanita yang berniat menggodanya.


Mentari pun sama, pria mata biru yang pernah hilang dari hidupnya kini telah kembali. Dulu saat Jo tiba - tiba menghilang, Mentari menangis lebih dari sepekan, dia bak kehilangan kakak kesayangannya. Sama seperti saat Mentari kehilangan Surya dia nyaris kehilangan semangat hidupnya. Sehingga saat Jo hadir kembali, dia tanpa ragu menyambut dengan suka cita.


Jo memasuki cafe dengan menggandeng tangan Mentari, sontak para karyawan cafe heran dengan perilaku bosnya hari ini. Dia tersenyum sangat cerah sejak memasuki pintu cafe, dan itu membuat para karyawan ketakutan, karena tidak biasanya dia begitu bersinar. Seolah ada matahari mengiringinya sepanjang jalan.


Jo membawa Mentari ke ruangannya. Saat melewati para karyawan, mereka menatap dengan tatapan kepo penuh tanya.


"Tumben bos bawa cewe. Korban hipnotis dari mana?" Celetuk Ciko.


"Ia, bos hari ini lebih bersinar dari biasanya." Tambah Jery sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Jo.


"Jelas lebih bersinar, kan ada Matahari di samping gue?" Balas Jo sambil menunjukkan genggaman mereka ke arah para karyawan yang berkerumun sambil berlalu.


"Hah? Matahari? maksudnya?" Timpal Jeje.


Jo hanya terkikik mendengar reaksi para karyawan.


"Mo dibawa kemana tuh cewe?" Tanya Jery.


"Ke ruangannya kali." Timpal Jeje.


"Hah? Sejak kapan si bos masukin cewe keruangannya?" Seru Ibra.


"Ye... terserah di bos lah. Udah - udah bubar bubar, kerja lagi." Ajak Jeje yang mulai memisahkan diri kembali ke pekerjaan mereka.


Di dalam ruangan Jo dengan sigap menutup pintu dan memeluk tubuh Mentari. Di kecupnya bibir ranum Mentari yang sedari tadi sudah sangat menggoda. Bibir Mentari memang menggemaskan, karena bentuknya tipis, sehingga setiap dia berbicara seolah mengerucut menggemaskan membuat lawan ingin mengecupnya. Itulah yang membuat Almarhum Surya selalu menarik bibir Mentari saat gemas dan kemudian diciumnya bekas tangan yang ia pakai untuk menarik bibir Mentari. sungguh perilaku seorang kakak yang aneh.


Mereka bercumbu di balik pintu ruangan Jo. Keduanya saling *******, dan bertukar Saliva hingga kehabisan nafas. Mereka lupa tujuan mereka ke tempat ini. Yang mereka ingat hanyalah menarik nafas dan melanjutkan ciuman mereka. Jika sudah seperti ini tidak mungkin tidak terpancing. Gelisah, Berkedut, Berdenyut, dan Berdegup dengan kencang.

__ADS_1


Dan demi menghindari hal - hal yang diinginkan, Jo mengakhiri lumatannya dengan kecupan di kening Mentari.


"Udah dulu, aku kerja dulu ya. Tar sambung lagi." Kata Jo sambil mengeringkan matanya.


Jo Merapikan rambut dan bajunya serta membawa sebuah map hitam dari atas mejanya.


"Sayang nunggu disini aja ya... takut dilaletin kalo nunggu diluar. Tapi kalo bosan boleh ko keluar, atau mau aku bawain sesuatu?" Tanya Jo sambil merapikan anak rambut Mentari yang terlepas dari ikatannya.


"Aku diluar aja deh." Pinta Mentari.


"Sebentar." Ucap Jo.


Jo keluar ruangannya dan memastikan Spot favorit gadisnya tersedia. Dan kembali ke ruangannya.


"Kamu disini dulu, nanti kalo spot favorit kamu kosong, aku kabari. Oke?" Ucap Jo menawari gadisnya lewat pintu yang terbuka sedikit.


Mentari mengangguk tanda setuju. Jo pun menutup pintu dan bergegas mengecek kebutuhan cafenya ini. Di dalam ruangan Mentari memasangkan airpodsnya. Mentari melepas sepatunya dan menyandarkan dirinya ke salah satu sandaran tangan dan menaikkan kakinya ke sofa panjang di ruangan itu. Musik yang mengalun dari airpodsnya mengantarkan Mentari ke alam mimpinya.


Jo meminta salah satu karyawannya untuk membawakan Iced Choco Hazelnut ke ruangannya mendapati Mentari sedang tertidur dengan damai.


Sofia melaporkan bahwa penghuni ruangan Jo saat ini sedang tertidur.


Dalam hati Jo bersyukur karena Mentari tumbuh menjadi anak yang mandiri dan ga rewel, untung dia mengutus Sofia ke ruangannya, coba kalo yang di utus Jery udah abis tuh kali.


"Semuanya denger sebentar." Jo mengomando.


"Yang diruangan gue, itu calon bini gue. Namanya Mentari. Kalian inget wajahnya baik - baik." Perintah Jo sambil menunjukkan foto Mentari pada karyawannya.


"Jangan ada yang keliru, jangan pernah percaya kalo ada yang ngaku cewe gue! Kalo cewe gue dateng, dengan siapa pun, perlakukan santai tapi istimewa. Ga perlu berlebihan, tapi buat dia nyaman. Mengerti!" Tambah Jo menginstruksikan .


Jo jarang menggunakan ruangannya hanya sesekali untuk memandang foto mereka bertiga saat anak anak dulu dan merindukan mereka. Jo masuk ruangannya untuk mengecek keadaan Mentari, menyesuaikan suhu pendingin ruangan, menyelimuti Mentari, dan mengganti Reed Diffuser lalu kembali bekerja.


Tiga puluh menit adalah waktu yang cukup untuk sekedar take a nap. Mentari terbangun oleh suara ponselnya. Notifikasi dua tahun meninggalnya.

__ADS_1


"Pantes bunda sibuk. ternyata besok Selamatan buat Mas Surya. Ko aku bisa lupa sih." Gumam Mentari kecewa dengan dirinya yang lupa akan sang kembaran.


Mentari keluar dari ruangan Jo, disambut senyum manis dan lambaian Jo dari balik bar table.


"Udah bangun nih Mentariku, kayaknya kamu capek banget jadi ga aku bangunin. Yuk kita pulang aja." Ajak Jo sambil melepas Apron nya.


"Lha tadi Kaka bilang mau ke dua kafe. Ini baru satu loh." Ucap Mentari mengingatkan.


"Iya juga sih. Soalnya besok aku harus meeting juga. Jadi restocking 2 kafe ini harus segera. Serius kamu gak papa?" Jo memastikan.


Mentari mengangguk dengan semangat. Dan akhirnya mereka berpamitan dan menuju ke kafe selanjutnya.


"Cantik yang sebenarnya." Ujar Jerry penuh kagum.


"Iya, lagi tidurnya aja cantik, bangun tidurnya juga cantik. Wah..." Timpal Sofia menambahkan.


"Dapet darimana sih si bos tuh. Gue juga mau yang begitu." Tambah Yolan.


Jo membawa Mentari ke kafe selanjutnya. Dia memacu dengan segera karena hari sudah mulai senja.


"Kak, besok kayaknya aku ga bisa nemenin kakak deh." Ujar Mentari.


"Kayaknya aku yang ga bisa nemenin kamu malah." Ucap Jo.


"Emang kamu mau ngapain?" Tanya Jo melanjutkan.


"Aku mau bantu bunda siapin pengajian selamatan buat Kakak." Terang Mentari.


"Maaf ya, aku ga bisa bantu soalnya besok pas banget aku harus gantiin mama meeting." Ucap Jo.


"Udah gak papa kak, aku ngerti Ko." Balas Mentari.


"Terimakasih sayang." Ucap Jo sambil membelai puncak kepala Mentari.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan tangan Jo tidak lepas dari tangan Mentari. Beberapa kali menengok ke arah Mentari kemudian tersipu dan tersenyum simpul. Aish... beginilah jika sedang dimabuk cinta...


__ADS_2