
Hari berlalu dengan sangat cepat. Abi makin akrab dengan Jo, Jo makin bucin dengan Mentari. Dalam minggu - minggu ini Abi selalu waspada dengan ponselnya. Kemungkinan Clara akan memainkan drama hamil karena ulah Abi malam itu selalu menghantui Abi akhir - akhir ini. Abi sedikit mendapatkan sosok pengganti Surya pada diri Jo.
Saat ini Jo sedang diundang makan malam oleh ayah dan bunda. Jo meluncur ke lokasi makan malam langsung dari cafe nya, Jo menjemput Mentari yang tengah berada di apartemen miliknya. Jo membawa Mentari ke apartemen miliknya untuk membersihkan diri dan sekedar bersiap sebelum pergi ke acara makan malam.
Mentari sudah siap dalam balutan cocktail dress dengan square neck berwarna ungu dan rambut yang di bun saat Jo datang menjemput. Meski simpel namun tetap cantik. Jo mengecup kening Mentari dan segera membawanya menemui ayah dan bunda.
Saat masuk ke dalam resto yang dimaksud, Ayah melambai kepada anak gadisnya itu, sedangkan bunda sedang sibuk membaca menunya. Ini hanya makan malam bersama, tidak terlalu resmi, tidak juga mewah. Mereka makan di resto favorit mereka bukan di resto hotel bintang lima.
Jo dan Mentari menyalami keduanya dan duduk di hadapan kedua orang tua Mentari.
"Maaf kami telat bun... yah..." Ucap Jo.
"Kita juga baru dateng ko sayang." Ucap bunda sambil menutup buku menu.
"Sebentar, bunda pesankan makanan dulu, ya... kalian pasti udah laper kan..." Sambung bunda. Bunda mengucapkan beberapa menu yang telah dipilih kepada waitress di sampingnya.
"Ada apa nih, tiba - tiba ngajak kak Jo makan bareng juga. Biasa juga cuma kita bertiga." Ucap Mentari masih merasa bingung dengan tujuan orang tuanya itu.
"Jangan - jangan bunda sama ayah mau adopsi kak Jo?" Sambungnya lagi.
"Kalo mau adopsi, Mentari lebih milih adik perempuan daripada kakak laki - laki." Cecar Mentari.
"Dari pada adopsi adik buat kamu, mending cucu dari kamu aja." Ucap ayah sambil mengerling pada bunda dan Jo.
Jo kaget bahagia dengan apa yang diucapkan ayah barusan.
"Jo udah punya kekasih?" Tanya Ayah sambil menatap Jo.
"Udah yah." Jawab Jo.
"Oooo..."
"Hari ini Jo juga datang bareng kekasih Jo yah." Ucap Jo sambil menggenggam tangan Mentari.
"Jo jatuh hati sama anak ayah sebelum Jo tau kalo dia adalah Mentari teman masa kecil Jo." Papar Jo.
"Mungkin takdir Jo adalah Mentari, setelah 7 tahun amnesia dan selama 9 tahun tidak bertemu, nyatanya Hati Jo bergetar saat bertemu gadis yang ternyata itu adalah Mentari." Sambung Jo sambil menatap mata gadisnya.
__ADS_1
Bunda dan Ayah saling menatap sejenak.
"Lalu apa rencana kamu Jo?" Tanya Ayah.
"Jo berusaha buat terus temenin Mentari, jagain Mentari, buat Mentari Tersenyum, buat Mentari bahagia." Jawab Jo sambil Mengusap puncak kepala Mentari.
"Kalian ada rencana untuk menjalin hubungan yang serius?" Tanya Ayah lagi.
"Kalo Mentari bersedia dan itu pun kalo kalian merestui, Jo pengen segera jadikan Mentari istri Jo." Jawab Jo mantap dengan tetap menggenggam tangan Mentari.
"Gini loh sayang." Ayah menggenggam anak gadisnya.
"Ayah tau kamu kesepian, kehilangan mas Surya. Dan dalam hati kamu masih ada kekosongan yang mas mu tinggalkan." Ayah menjeda kalimatnya.
"Ayah pernah denger keinginan Jo buat nikahin kamu. Dan ayah sama bunda udah pikirin mateng - mateng, kalo kalian memang ingin segera menikah, ayah dan bunda merestui." Ayah mengakhiri kalimatnya dengan anggukan mantap.
"Me... menikah?" Mentari tergagap.
"Mentari aja baru semester 2 yah, gimana kuliah Mentari, Mentari juga belum dapet ilmu marketing, Mentari juga masih terlalu muda, Mentari juga belum berkarir." Papar Mentari.
"Mentari beruntung bisa ketemu kak Jo lagi, Kak Jo juga udah jagain Mentari dengan baik sejauh ini." Sambung Mentari sambil menatap Jo.
"Ayah tahu... ayah tahu..." Ayah menenangkan Jo.
"Tapi kamu belum apa - apain Mentari kan?" Tanya Ayah sambil melotot ke arah Jo. Jo dan Mentari bertukar pandang. "Apa - apa" yang dimaksudkan ayah itu begitu ambigu.
"Belum yah..." Jawab Jo sambil menggoyangkan tangannya.
"Iyakan sayang?" Jo mencoba meyakinkan. Mentari mengangguk dan tertunduk kemudian. Pasalnya dia juga bingung batasan "apa - apa" yang ayah maksudkan sejauh apa.
Selama ini mereka sering melakukan p*****g tanpa melakukan p*n*t***i. Karena Jo selalu berusaha untuk tidak melakukan yang lebih jauh. Meski terkadang tersisa rasa frustasi diantara keduanya.
Akhirnya pesanan datang, dan mereka bersantap bersama. Mereka menikmati hidangan makan malam dengan harmonis. Usai menikmati makan malam bersama mereka melanjutkan pembicaraan yang tertunda.
"Kamu lulus kapan Jo?" Tanya Bunda.
"Kalo sesuai rencana Tahun depan aku dah lulus Bun." Jawab Jo.
"Setelah Mentari melewati semester 6, kalian boleh menikah. Gimana sayang?" Bunda mencoba meyakinkan Mentari.
__ADS_1
"Bunda yakin Mentari bisa bertahan dari godaan juga, kamu juga bisa menahan godaan juga." Sambung Bunda lagi sambil berbagi pandangan dengan kedua sejoli di hadapannya.
Mentari dan Jo mengangguk menyetujuinya.
"Sabar ... dua tahun lagi." Gumam Jo dalam hati.
"Ayah nitip Mentari ya nak... Jangan lupa tanyakan pendapat orang tuamu juga. Sampaikan juga salam dari kami buat mereka." Ucap Ayah sambil menggenggam tangan dua sejoli itu.
"Siap ayah." Jo mengiyakan.
Usai perbincangan selsai mereka pulang. Ayah dan Bunda pulang lebih dulu, barulah disusul Jo dan Mentari. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Jo hanyut dalam pikirannya sendiri, membuat Mentari merasa bersalah atas pemikirannya barusan.
"Kak... " Cicit Mentari.
"Hmmm..." Sahut Jo.
Kakak kecewa sama aku? Sama pendapat aku barusan?" Ucap Mentari lirih dengan sangat hati - hati.
"Enggak ko." Jawab Jo singkat sambil Menengok dan mengangkat dagu Mentari dengan sebelah tangannya.
"Aku cuma takut ga bisa nahan dua mil tahun lagi sayang." Ungkap Jo.
"Kalo kakak ga bisa nahan juga gak papa ko. Mentari juga mau." Ucap Mentari lirih sambil menghadap Jo.
Jo mengusap puncak kepala Mentari sambil tersenyum. Ada keraguan dan kebimbangan yang bergelayut di hati Jo saat ini.
Mentari meraih tangan Jo dari puncak kepalanya. Diciuminya tangan Jo. Kali ini Jo akan berusaha tenang dan tidak tergoda oleh tingkah laku Mentari. Saat mereka memasuki cluster tempat mereka tinggal, Mereka melihat sosok pria mirip Abi dengan wanita di taman tempat mereka tinggal.
"Itu Abi bukan?"Tanya Jo sambil menunjuk keluar.
"Iya kayaknya kak Abi." Jelas Mentari.
"Sama sapa tuh? Itu Clara?" Tanya Jo lagi.
"Bukan deh kayaknya. Lebih Mirip Clarisa. Tapi Clarisa kan ga berhijab?" Mentari menerangkan.
"Kamu kenal sayang?"
"Kenal lah.. dia ceweknya mas Surya."
__ADS_1