
Kali ini mereka mengikuti keinginan Mentari. Tapi hanya kali ini. Mereka berharap tak ada lain kali. Lain kali hanya untuk hal - hal baik dan bukan lagi tragedi yang menyangkut Mentari.
Mentari selesai diperiksa di rumah sakit, kini tangannya kembali harus diistirahatkan karena masih bengkak. Entah apa yang akan mereka katakan pada Jo, jika Jo mengetahui keadaan Mentari saat ini.
Malam ini Haifa ikut menginap di rumah Mentari bersama Noni lantaran ia masih khawatir dengan keadaan Mentari. Haifa merasa ada yang sengaja menjadikan Mentari target untuk disakiti. Mungkin itulah sebabnya Jo sangat over protektif terhadap Mentari.
"Lo gak papa nginep disini? Umi ngijinin? " Tanya Mentari pada Haifa yang masih menemani Mentari di kamarnya.
"Ijinin dong, Abi juga ijinin kok. Mereka prihatin ama keadaan Lo kayaknya ada yang sengaja jadiin Lo target deh." Terang Haifa.
"Gak heran sih kalo kak Jo sampe segitu over protektif ya ke Lo." Sambungnya lagi sambil mengelus - elus kepala Mentari.
"Lo tidur Ama gue aja disini." Ajak Mentari.
"Gak deh, gak enak sama kak Noni nanti sendirian di kamar sebelah. Nanti gue pindah kalo Lo udah tidur." Jelas Haifa.
"Lo tidur gih." Pinta Haifa.
"Bentar lagi jadwalnya Jo nelpon." Bisik Mentari.
"What? Yaudah gue tinggalin ya..."
"Jangan... sini dulu temenin gue... " Pinta Mentari sambil menarik - narik baju Haifa.
"Yaudah." Haifa menyerah, ia menuruti kemauan Mentari, jadi obat nyamuk.
🎶🎶🎶🎶
Benar saja, tak lama kemudian Jo melakukan panggilan video.
"Tuh kan." Mentari menunjukkan ponselnya yang berdering tepat pukul 22.00. Mereka berdua terbahak.
Hari ini dia harus bisa menyembunyikan cidera tangannya. Dia tak ingin Jo mengetahui kejadian yang menimpanya hari ini.
__ADS_1
"Hi... sweetheart... my sunshine..." Sapa Jo sambil melambaikan tangan.
"Hi... darling." Jawab Mentari sambil melambaikan tangan Haifa, menyembunyikan tangan kanannya.
"Itu ada siapa?" Jo menunjuk sosok yang duduk di samping Mentari.
"Haifa, sapa lagi. Dia nginep disini malam ini." Terang Mentari sambil menarik kepala Haifa agar muncul di frame. Sedangkan Haifa hanya nyengir kuda menunjukkan gigi - giginya yang kecil.
"Oh... syukur deh. Jadi kamu ada yang nemenin. Maaf ya karena aku ga bisa pulang cepet." Ucap Jo.
"Gak papa kak... kakak temenin papa dulu, bantuin juga biar cepet kelar, jadi cepet pulang donk." Ungkap Mentari.
"Hmmm...jadi pengen peluk cium." Ucap Jo Manja. Haifa Mendelik namun terkikik juga mendengar Jo manja secara langsung.
"Tadi aku mampir belanja, ada beberapa yang aku beli buat kamu sama bunda." Jo menunjukkan beberapa paperbag yang menumpuk di sofa.
"Banyak banget." Ucap Mentari.
"Buat aku ada juga ga?" Tagih Haifa.
"Haifa, Lo ga nginep aja di rumah Abi?" Gurau Jo.
"Apaan sih kak Jo." ucap Haifa malu.
"Eh tunggu, ko mata Lo biru kak? Lo pake kontak?" Ucap Haifa heran. Pasalnya yang ia lihat dan ingat selama ini, mata Jo berwarna hitam.
"Yah ketahuan deh." Ucap Mentari sambil mengarahkan dagunya pada Jo.
"Mata Jo aslinya juga biru, justru kalo item dia lagi pake softlens." Jelase Mentari.
"Emang kenapa kalo ga pake lensa hitam?" Tanya Haifa penasaran.
"Tar Lo naksir lagi y gue." Gurau Jo pada Haifa.
__ADS_1
Merek terbahak bersamaan.
"Iya sih, lensa hitam aja banyak yang kerubutin, apalagi kalo beneran ga pake lensa hitam. Tak ada celah untukmu wahai Mentari. Lo bakal dimusuhin banyak cewe." Kecam Haifa.
Mentari menyenggol sisi perut Haifa. ngomongin musuh, Mentari takut muncul spekulasi negatif.
Mereka bertiga ngobrol seru hingga akhirnya Haifa yang tertidur lebih dulu. Ya begitulah nasib obat nyamuk, lebih banyak diabaikan ketika mereka sedang asik bercanda.
Tengah malam ketika Mentari sudah terlelap, Haifa berpindah ke kamar tamu tempat dimana Noni sedang tertidur pulas. Sangat hening, hanya terdengar suara satwa malam yang berkelebat di udara.
Esok harinya Haifa bangun lebih awal untuk mengerjakan rutinitas paginya, ia membantu bunda dan ART yang lain di dapur. Saat Mentari turun, Haifa sedang berada di kolam koi di halaman belakang. Di gazebo sudah tersedia berbagai hidangan pagi untuk mereka bertiga siapa lagi kalo bukan Haifa yang menyiapkannya. Noni bangun paling siang. Hari ini mereka ada kelas jam 9 jadi masih ada waktu untuk bermalas - malasan.
"Pagi Ladies?" Sapa Abi sambil merangkul Mentari yang berada di pinggir kolam.
"Lo mau numpang sarapan, atau mau cari perhatian sama Haifa?" Mentari mencebik. Ia geram dengan sahabat kakaknya itu. Makin kesini makin eror, pantas kakak akrab dengannya, sebagai penyeimbang mungkin.
"Dua - duanya dong." Jawab Abi sambil mencubit hidung Mentari dan berlalu menuju Haifa yang sudah berada di gazebo.
"Mike kesini ga?" Tanya Abi pada Noni.
"Entahlah." Jawab Noni ragu.
"Paling masih molor tuh anak. Lagian ART di rumah Jo pasti sudah menyiapkan makanan untuknya." Ucap Mentari yang sedang disuapi oleh Haifa.
"Aaaaaaak..." Abi membuka mulutnya, berharap Haifa bersedia menyuapinya juga.
Apa boleh buat, Haifa sarapan sambil menyuapi dua bocah kadaluarsa. Bunda dan ayah melihat dari seberang ruang makan tersenyum bahagia melihat putrinya memiliki teman - teman yang baik yang menyayanginya, yang menghiburnya dan membuatnya tersenyum kembali. Meski bunda tahu, kehampaan sering melanda, bunda pun merasakan sebab bunda juga ditinggal oleh saudara kembarnya saat masih SMP. Dan ketika bertemu Ibu Jo dan Abi lah Bunda mulai bisa tersenyum ceria lagi. Mungkin seperti itulah yang dirasakan juga oleh Mentari, Jo dan Abi saat ini.
Setelah sarapan, mereka bergegas untuk menuju kampus. Mereka berpamitan pada Bunda yang belum juga berangkat ke rumah sakit.
"Sering - sering nginep sini ya nak...Bunda seneng banget rumah bunda jadi rame. Terima kasih ya udah jagain dan temenin anak bunda." Ucap bunda sambil memeluk mereka satu per satu saat berpamitan.
"Iya Bunda. Terima kasih. Kami bakal seriiiiiing mampir." Ucap Haifa sambil menyalami dan memeluk Bunda.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum. Kita berangkat dulu ya bunda. Bunda juga hati - hati di jalan." Usai berpamitan dan memberi salam, mereka ke kampus bersama mengendarai mobil milik Abi.
Mereka menyelesaikan kesehariannya di kampus seperti biasa tanpa adanya tragedi. Abi mengantar dan menjemput Mentari hingga tepat di depan kelasnya. Abi juga memastikan Mentari duduk dibangkunya baru dia akan pergi menuju kelasnya. Kini Abi selalu siaga, kalau - kalau Clara kembali muncul dan membuat gara - gara, karena sepertinya Clara menyimpan dendam membara pada Mentarinya. Ya Mentari mereka semua. Mereka yang menyayangi Mentari tentu saja.