
Setelah menjalani beberapa fisioterapi dan konseling, kini Mentari diperbolehkan untuk pulang. Dave mengemasi barang - barang milik Mentari dan memastikan tidak ada yang tertinggal disana.
"Nak, gak usah repot - repot, nanti juga semuanya dibawain pulang. Kamu lupa kita dimana?" Bunda yang baru saja masuk ke dalam ruangan, segera menghampiri Dave yang sedang berkemas.
"Dave hampir lupa Bun, ini kan Rumah sakit milik Bunda. Hahahahaha..." Sahut Dave yang diakhiri dengan tawa renyahnya. Dave menertawai kebodohannya sendiri, nampaknya dia terlalu antusias untuk pulang kerumah.
Bunda Mentari tertawa ringan melihat kelakuan Dave. Beberapa bulan terakhir Dave yang mendampingi Mentari, padahal sebelumnya pulang kerumah pun sangat jarang. Mommy Dave pun merasakan perubahan Dave yang signifikan, sehingga Mommy Dave menitipkan putra sulungnya itu kepada Bunda Mentari sebagai kandidat calon mantu.
Meski demikian, seorang ibu tetaplah seorang ibu, dia akan waspada dan menjaga anaknya dengan sangat teliti. Nuraninya pun terasah tajam untuk mengendus karakter seperti apa yang disembunyikan dibalik topeng tampan seorang pria. Namun bukan berarti Bunda tidak menyetujuinya juga. Bunda menghargai kebulatan tekad dan niat tulus seseorang.
Usai membenahi semua perkakas yang dirasa penting, Dave mengantar Mentari dan kedua orangtuanya kembali ke rumah mereka. Kepulangan kali ini Mentari hanya disambut Haifa, Cassandra dan Abi. Senyum Mentari merekah ketika melihat sahabat sahabatnya menyambut kedatangannya kembali.
"Sayang... Selamat Datang kembali... semoga seterusnya Lo sehat terus." Ucap Cassandra sambil berhambur memeluk Mentari yang baru saja memasuki pintu rumahnya.
Tangis Haifa pecah, Ia segera bergabung memeluk Mentari. Bagaimana tidak, ingatan Mentari hilang, bahkan ia sempat tak mengenali dirinya sendiri apalagi para sahabatnya itu. Namun, dengan begitu bukankan Mentari juga melupakan Jo?
"Terima kasih." Ucap Mentari lirih. Setelah mereka melepas pelukan dan membawa Mentari ke sofa ruang tengah. Dave bergabung bersama mereka sambil membawakan segelas air putih untuk Mentari.
"Minumlah." Ucap Dave singkat.
"Terima kasih." Mentari memulas senyum tipis favorit Dave.
__ADS_1
Sementara Mentari bersama dengan Haifa dan Casandra, Abi dan Dave bergabung dengan Ayah dan Bunda Mentari di gazebo belakang. Nampaknya para gadis asik dengan pembahasan mereka. Entah apa yang dibahas namun, gelak tawa mereka dapat Dave dengar hingga tempat dia berada saat ini.
Bunda dan Dave tersenyum senang mendengar orang yang mereka sayangi sudah bisa tertawa renyah. "Semoga engkau segera pulih dan bahagia seperti sedia kala." Gumam Dave dalam hati.
Mentari berjalan menyusuri ruangan menuju gazebo belakang rumahnya. Disana masih ada Ayah, Bunda, Abi dan Dave. Mentari bergelayut manja di lengan Dave. Semua yang ada disana terbelalak melihat perilaku Mentari.
"Sayang... sini duduk disamping bunda aja. Itu nanti Bang Dave pegel dong." Bunda membujuk anak gadisnya itu yang tiba - tiba berperilaku seperti kucing.
"Hmmm... bentar bunda." Sahut Mentari tak mengindahkan.
"Bunda tau nggak, aroma tubuh Bang Dave ini sama kaya Bunda, aromanya bikin tenang." Ucap Mentari penuh antusias.
"Sini anak gadis bunda, ga boleh nakal. Sini boboan di pangkuan Bunda, udah lama, Bunda kangen." Ucap Bunda sambil menepuk - nepuk pangkuannya.
Karena merasakan kenyamanan belaian Bunda, Mentari akhirnya terlelap dipangkuan Bundanya. Bunda menepuk ringan punggung Mentari.
"Tidur Bun?" Tanya Dave.
Bunda mengangguk, ia takut membangunkan putrinya yang baru saja terlelap.
"Bisa tolong ambilkan selimut ya?" Pinta Bunda pada Ayah Mentari.
__ADS_1
"Biar Dave saja yang ambilkan Bunda." Dave menawarkan diri.
"Minta ke bibi ambil di lemari ruang Laundry ya Bang..." Ucap Bunda lagi.
"Baik Bunda." Ucap Dave sambil berlalu menuju bagian dalam rumah Mentari.
Dave masuk mencari salah satu ART dirumah itu.
"Nyari siapa bang?" Tanya Haifa yang sedang sibuk di dapur.
"Nyari bibi. Mw ambil selimut buat Mentari." Jawab Dave sambil celingukan mencari sosok yang belum ia temukan.
"Dikamar?" Haifa menunjuk ke arah kamar Mentari.
"Kata Bunda di ruang Laundry."
"Oh... yuk..." Haifa memimpin jalan menuju ruang Laudry dan membuka lemari yang tersedia disana.
"Nih bang!" Haifa memberikan selimut yang dia ambil pada Dave.
"Thanks." Ucap Dave kemudian berlalu membawa selimut, sedangkan Haifa mengekor di belakang.
__ADS_1
Sesampainya di gazebo belakang, Dave memberikan selimut yang dibawanya pada Bunda. Bunda menyelimuti tubuh Mentari yang tengah pulas tertidur.