
"Clara, Clara, Clara ngapa sih tuh anak segitu gak sukanya sama gue." Omel Mentari sambil menyesap Jus alpukat nya.
"Kalian juga anggep gue benalu? Apa gue benalu buat kalian?" Tanya Mentari pada Haifa dan Cassandra yang duduk di hadapannya.
Mereka berdua menggeleng kompak. Tak lama pesanan mereka datang. Kini mereka memesan dan minta diantarkan, tak ingin tragedi kemarin menimpa mereka untuk kedua kalinya. Baru saja Mentari mengambil satu sendokan yang akan ia arahkan ke mulutnya, sendoknya berbelok arah menuju mulut yang lain.
Jo duduk tepat di sebelah Mentari an mengarahkan sendok yang sedang Mentari angkat menuju ke mulutnya.
😫💥🔥🥵 Huaaaaahhhhh
Jo meraih jus alpukat di hadapan Mentari dan menyedotnya hingga tandas.
"Pedeh banget humpah. Hamu mahan mie ayam atau mahan cabe hayang?" Tanya Jo sambil menahan rasa pedas di mulutnya.
Mentari, Haifa dan Cassandra menatap Jo kebingungan.
"Lah kakak tuh main comot - comot aja. Enak kan?" Ucap Mentari sambil terkik.
"Lagian, udah tau ceweknya doyan banget makan pedes, masih berani - berani main comot aja." Ucap Cassandra ketus.
Mike datang bersama Noni dan bergabung bersama mereka.
"Ada apa nih. Lo kenapa lagi?" Mike penasaran dengan reaksi Jo.
"Kepedesan dia." Jawab Cassandra.
"Ooh." Balas Mike datar.
Mike duduk diantara Jo dan Cassandra. Dia mencomoti kentang goreng milik Cassandra.
"Eitts.... udah itu aja, minum gue mah jangan. Enak aja!" Sungut Cassandra saat Mike hampir mencomot minuman miliknya juga.
"Biasa aja kali. Gue juga najiz minum bekas Lo." Ucap Mike tak kalah nyolot.
Keduanya membuang muka. Akhir - akhir ini Mike sering buat ulah, tujuannya bikin Cassandra marah, minimal ngedumel. Puas deh dia kalo Cassandra udah sampe manyun - manyun.
Abi belum kelihatan batang hidungnya, padahal Clara sudah bolak - balik melewati meja Mentari dkk.
__ADS_1
Selang beberapa saat Abi muncul dengan wajah sumringah, dia langsung menarik kursi diantara Noni dan Haifa. Dia merangkul ujung kursi Haifa dan kursi miliknya. Hubungannya denga Haifa sudah sedikit berkembang, hanya saja Haifa memang menjaga norma agama yang ia anut, dan Abi menghormatinya. Mereka juga sudah sering bertukar pesan.
Abi mencomot bakso bakar dari piring Haifa. Haifa yang melihatnya langsung menangkis.
"Permisi dulu. Jangan asal comot kebiasaan!!" Ucap Haifa sambil menampik tangan Abi.
"Baik Umi." Sahut Abi.
"Umi, Abi boleh minta bakso bakalnya ga?" Ucap Abi menirukan gaya bicara anak kecil yang minta ijin ke ibunya.
"Ish." Haifa mencebik kesal.
"Maaf... becanda."Ucap Abi sambil mengedipkan matanya dan mengembalikan baso bakarnya ke piring Haifa.
"Ambil aja gak papa kok. Lagian aku dah kenyang. Asal jangan kebiasaan asal comot." Ucap Haifa lagi.
Abi mencubit hidung Haifa namun mendapat pelototan mata dari Haifa.
"Maaf ... maaf... Abisnya gue gemesh." Ucap Abi sambil ******* - ***** jari tangannya.
Yang lain hanya terbahak melihat pasangan ini yang makin hari makin lengket.
"Kakak ngomongnya ke Abi aku jangan ke aku." Jawab Haifa.
"Tapi kamu mau?"
Haifa mengangguk.
"Cie...." Sorak teman - teman di meja mereka. Sontak semua pengunjung cafetaria melihat ke arah sumber keriuhan. Semua mata tertuju pada meja tempat Mentari dkk duduk, tak terkecuali Clara dkk yang berdecih tidak suka.
"Paan sih caper banget." Ucap Clara sewot.
Selepas dari cafetaria Jo mengajak mereka menonton bioskop. Jo juga merencanakan mengajak mereka semua berlibur ke Paris saat liburan semester. Mereka pun antusias pergi kecuali Haifa. Sehingga Mentari, Jo dan Abi berencana untuk meminta ijin secara langsung pada orang tua Haifa.
Sekalian menemani Abi untuk meminta ijin pada Ayah Haifa. Abi tau ini mendadak, tapi minimal dia ketemu orang tua Haifa lebih dulu baru kemudian Abi akan membawa kedua orang tuanya untuk bertemu dengan orang tua Haifa. Abi merasa sudah mantap dengan pilihan hatinya.
Sebelum senja, Abi mengantarkan Haifa pulang bersama dengan Jo dan Mentari. Kebetulan Ayah Haifa sudah ada di rumah. Saat ini mereka sudah duduk berhadapan dengan orang tua Haifa.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum om... Tante... perkenalkan saya Abi, tetangga sekaligus teman kecil Mentari." Ucap Abi memperkenalkan diri.
"Wa'alaikum salam. Iya nak Abi... gimana... nak Abi pengen menyampaikan pa?" Sahut Ayah Haifa.
"Begini om, saya berniat meminta ijin pada om dan Tante untuk menjalin hubungan dengan Haifa. Kalo om dan Tante merestui, Abi akan membawa orang tua Abi untuk meminang Haifa." Ucap Abi mengutarakan maksud kedatangannya.
"Haifa masih kuliah loh nak. Terus nanti gimana kuliah Haifa?" Tanya Ayah Haifa.
"Gak apa apa om... Haifa bisa lanjut kuliah, dan untuk menghindari maksiat, lebih cepat saya meminang dan menjadikan Haifa halal bagi saya. Saya di rumah tinggal sendiri om. Papa Mama jarang pulang ke Indonesia. Lebih lengkapnya biar nanti saya bawa papa mama jika om merestui hubungan kami." Ungkap Abi.
"Kami tidak membatasi dengan siapa Haifa berhubungan hanya saja apa Haifa dan orang tua kamu berkenan? Dan menurut om juga bagus kalo itu untuk ibadah dan menjauhi maksiat memang lebih baik segera di sahkan." Papar Ayah Haifa.
"Jadi om dan Tante menyetujui? Haifa?" Abi memastikan. Ia melihat reaksi orang tua Haifa yang berbinar, dan Haifa yang mengangguk.
"Alhamdulillah..." Ucap Abi penuh syukur dan bahagia.
"Jadi kapan Abi bisa bawa orang tua Abi? Kapan om dan Tante bersedia bertemu orang tua Abi?" Tanya Abi.
"Insya Allah kami siap menerima orang tua nak Abi kapan saja. Kabari dulu kalau Orang tua nak Abi sudah siap dan bersedia datang meminang." Sahut Ayah Haifa.
Abi, Mentari dan Haifa sangat senang. Maksud mereka diterima dengan baik. Kini tinggal Abi memberitahukan pada orang tua Abi.
Setelah mereka berbicara panjang lebar, Akhirnya mereka pamit. Jo dan Mentari ikut dengan mobil Abi karena mobilnya dibawa Mike, Cassandra dan Noni. Dan kini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Terus kita kapan?" Ucap Jo mengkode pada Mentari. Ia melirik ke arah Mentari yang duduk di kursi penumpang lewat spion tengah.
"Kapan - kapan." Ucap Mentari ketus. Sambil melibat tangan ke dadanya.
Selalu saja begitu. Selalu saja berubah mood jika diajak menikah.
"Apa sih kurangnya aku?" Tanya Jo pada Abi. Abi mengangkat kedua bahunya.
"Tar juga kalo kita dah nikah, terus ceritain hubungan menggelora kami, Mentari juga pengen. Sabar Yak!!!" Goda Abi.
"Bener juga. Udah gih buruan nikahnya. Buruan kasih tau orang tua kamu." Paksa Jo.
Abi memarkirkan mobilnya di halaman rumah Mentari. Dia berteriak di depan teras rumah Mentari menuju ke dalam rumah Mentari.
__ADS_1
"Ayah... Bunda... ni Jo udah ngebet pengen nikah tapi Mentarinya ga mau tapi mereka udah... mmmmmmmpppphhh" Abi tidak dapat meneruskan kalimatnya karena mulutnya di bekap oleh tangan Mentari.
"Udah apa?" Tanya Bunda.