
Mentari mengerjapkan matanya, menyesuaikan proporsi sinar matahari yang masuk ke pupilnya. Ia pun meregangkan badannya. Dilihatnya Dave tersenyum menatap dirinya. Ia pun membalas senyuman Dave.
"Abang udah dari tadi?" Tanya Mentari sambil mengusap tangan Dave.
"Enggak ko, baru aja." Jawab Dave.
"Iya baru sejam." Celetuk Abi. Dan tentu saja mendapatkan lirikan tajam dari Dave.
"Jam makan siang udah lewat, yuk makan, terus minum obatnya." Ucap Dave.
Dave membawakan makan siang ke hadapan Mentari.
"Biar aku makan sendiri bang, aku bisa ko." Ucap Mentari sambil tersenyum pada Dave.
"Baiklah, hati - hati makannya." Sahut Dave.
"Abang sendiri sudah makan? Abi?" Tanya Mentari sambil mendongakkan kepala ke arah Abi.
Abi mengangguk sambil menunjukkan dua kotak besar pizza di meja.
__ADS_1
"Tapi baru gue aja, abang mah belum tuh." Sanggah Abi.
Mentari menatap ke arah Dave. Dia membuka penutup makanan dan mulai menyendokan sesuap untuk dirinya, dan sesuap ia sodorkan ke hadapan mulut Dave.
"Buat aku?" Tanya Dave sambil menunjuk ke arah sendok yang masih mengambang.
Mentari mengangguk. Kini justru Dave yang disuapi oleh pasien. Pemandangan yang sangat kontras. Di sudut lain ruangan itu ada Abi yang mengamati sambil sesekali menggeleng - gelengkan kepalanya. Pasalnya ia tak pernah sekalipun melihat apalagi menerima perlakuan manis dari Dave si kakak.
"Bang!" Panggil Abi.
"Hmmmmm" Sahut Dave dengan mulut penuh dan menengok ke arah Abi.
Dave tersenyum setelah berhasil menelan makanannya dengan susah payah.
"Adik abang ya Abi dong..." Jawab Dave.
"Mentari mah calon kakaknya Abi..." Gumam Dave dalam hati.
"Tapi gue gak pernah di sayang - sayang begitu sama abang." Rengek Abi, menirukan gaya anak kecil yang sedang iri.
__ADS_1
Mentari terkekeh melihat aksi Abi. Kedua kakak beradik itu saling menukar pandang ketika terdengar kekehan kecil dari arah Mentari. Keduanya bahagia bisa melihat dan mendengar kekehan kecil dari wanita di hadapannya. Abi dan Dave ikut tersenyum melihatnya.
Sorenya mereka berkemas, dokter sudah mengizinkan Mentari untuk menjalani pengobatan dari rumah. Namun, ia harus kembali menjalani konsultasi. Jadwalnya sudah diberikan, Abi dan Dave sudah standby dengan jadwal konsultasi Mentari.
Sesampainya dirumah, Haifa, Cassandra, Noni dan Mike sudah terlebih dahulu menyiapkan kejutan di rumah Mentari. Mereka hanya menyiapkan cake favorit Mentari dan Pesta bbq di halaman rumah Mentari.
"Kalian... aku kirain kalian sibuk. Terima kasih." Ucap Mentari sambil berhampur saling berpelukan.
"Kita si sini babe... kita kangen sama Lo. Lo sehat kan?" Ucap Haifa.
Mentari mengangguk mengiyakan pertanyaan Haifa.
"Abi, gak ada telpon dari bunda?" Tanya Mentari sambil menengok ke arah Abi.
"Ada, semalem mereka bilang lusa mereka akan kembali. Pencarian dihentikan karena tidak membawa hasil." Papar Abi.
Sontak semua yang berada di sana menatap tajam ke arah Abi. Bisa - bisanya Abi membahas mengenai pencarian Jo saat Mentari baru saja pulih. Mentari mengedarkan pandangan ke arah teman - temannya.
"Gue gak papa ko. Gue udah bisa menerima kenyataan dan kemungkinan terburuknya." Ucap Mentari mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Kita cuma bisa mendoakan, semoga bila dia masih hidup, dia selamat dan segera kembali ke sisi kita. Apabila dia memang sudah kembali ke sisi Tuhan -Nya semoga dia kembali dengan tenang dan bahagia." Sambung Mentari yang kemudian di Amini oleh semua yang ada bersama Mentari saat ini.