
"Tolong jaga Mentari ya Dave..." Ucap Bunda.
Perkataan Bunda barusan seperti membawa angin segar bagi Dave. Bukankah itu artinya Bunda mempercayakan Mentari padanya? Malam kian larut, kini sudah saatnya bagi Dave dan Abi berpamitan.
"Terima kasih atas makan malamnya, Dave dan Abi pamit dulu." Ucap Dave sambil mencium tangan Ayah dan Bunda Mentari.
"Jangan lupa nanti ikut mengantar Abi melamar ya Bunda..." Tambah Abi.
"Siap. Kita pasti ikut anterin Abi melamar Haifa. Iyakan Mentari?" Jawab Bunda.
"Iyap." Sahut Mentari.
"Oke, kita pamit ya.. Selamat malam..." Ucap Dave sambil berlalu meninggalkan kediaman Mentari.
Sesampainya di rumah, Dave mendaratkan pantatnya di sofa ruang tengah mereka. Ia mengambil ponsel dari dalam sakunya kemudian mengirim pesan text pada Mentari.
-My ☀️-
"Besok, Ada kelas?"
^^^-Bang Dave-^^^
^^^"Ada bang"^^^
-My ☀️-
"Besok Abang yang
anter ya..."
^^^-Bang Dave-^^^
__ADS_1
^^^"Aku ada janji sama^^^
^^^temen bang"^^^
^^^"Mungkin lain kali😉"^^^
Dave mengusap wajahnya kasar. Dia gagal mengajak Mentari berangkat bersama.
"Masih ada hari esok." Gumamnya sambil tersenyum kecut.
Dave mengalihkan pandangan ke sekitarnya, mencari sosok Abi yang belum juga terlihat. Padahal tadi mereka masuk ke dalam rumah bersama.
"Dek..." Panggil Dave.
"Hei..." Sahut Abi.
"Lo dimana dek?" Tanya Dave.
Dave beranjak dari tempatnya dan bergegas menuju tempat Abi berada. Mereka kini ada di teras belakang rumahnya.
"Lo besok pergi sama Mentari dek?" Tanya Dave penasaran.
"Enggak bang, emang kenapa?" Jawab Abi kebingungan.
"Kirain temen yang Tari maksud tuh kamu." Papar Dave.
"Tari?" Ucap Abi makin bingung.
"Iya, tadi abang tawari dia buat abang antar ke kampus besok, tapi Tari tolak, katanya ada janji mau keluar sama temen. Gue kira itu elo dek." Papar Dave lagi sambil menahan kecewanya.
"Enggak, bukan gue ko bang." Jawab Abi lagi.
__ADS_1
"Mungkin bareng Cassandra atau Noni bang." Tambah Abi.
"Yasudahlah, mungkin lain kali." Pungkas Dave.
"Yuk Tidur!" Ajak Dave sambil berlalu masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya.
Dave masuk ke dalam kamar tidurnya yang bernuansa abu - abu. Dia menanggalkan polo shirtnya yang sejak tadi menyembunyikan Abs perutnya. Dia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah ritualnya selesai, kini dia telah mengenakan shirt polosnya.
Dave membaringkan diri di tempat tidurnya. Mematikan lampu kamar dan menyalakan lantunan musik instrumental melalui smart assistance, Dave mencoba memejamkan matanya. Tiga puluh menit berlalu namun matanya belum juga bisa memejam. Kini hatinya terasa digelitiki membayangkan senyuman Mentari. Doa merasakan ada ribuan kupu - kupu yang beterbangan di dalam perutnya.
Dave meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas. Dipandanginya foto Mentari yang ia ambil saat di rumah sakit. Senyumnya mengembang dan ribuan kupu - kupu itu kembali berterbangan di dalam perut Dave.
Mentari...
Dave terlelap setelah beberapa kali mengatur napasnya.
Esok harinya, Dave melihat Mentari tengah bersiap ke kampusnya melalui balkon dirumahnya. Darisana nampak Mentari sedang memanaskan BMW 1200 Gs Adv kesayangan almarhum Surya dan kembali masuk ke dalam rumah.
"Dia ngampus naik itu?" Gumam Dave sambil menyunggingkan senyumnya.
Tak lama Dave melihat Mentari menenteng helm full face dan tas ransel di punggungnya. Mentari memakai helm full face dan sarung tangannya sebelum naik ke atas kuda besinya. Kemudian Mentari melajukan si kuda besi keluar dari gerbang rumahnya menuju kampusnya.
"Ck... Gadis yang menarik." Gumam Dave lagi sebelum akhirnya menuntaskan isi gelas kopinya pagi ini.
-My ☀️-
"Semoga harimu menyenangkan 🥰"
Dave membawa tas kerjanya dan turun ke lantai bawah ketika Abi sedang memakai sepatunya.
"Dek, nitip Mentari di kampus ya... kalo bisa, jangan ada yang deketin Mentari." Ucap Dave sambil menepuk pundak Abi dan berlalu menuju mobil yang sedang dipanaskan sopirnya.
__ADS_1
Hari ini Dave hanya ada pertemuan bisnis dengan sahabatnya dulu, Ryando. Mereka akan membahas kerja sama dalam bidang properti.