TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Ambulance


__ADS_3

Saat terbangun di pagi harinya, Mentari terkejut mendapati dirinya sudah berada di tempat tidurnya.


"Ah... Skit!! Gue pasti semalem ketiduran pas jalan pulang." Gerutunya.


Mentari melihat ke arah jam dinding yang terletak jauh diseberang tempat tidurnya. Jarum pendeknya berhenti di angka 5, ini tandanya pagi sudah menjelang.


Mentari turun dari tempat tidurnya dan keluar ke arah balkon. Mentari merentangkan kedua tangannya dan menarik nafas dalam, kemudian ditahan beberapa detik, baru dihembuskan. Mentari memandang nanar rumah yang berada di seberangnya, ada rasa sakit yang teramat menusuk di relung hatinya, hingga tanpa ia sadari air matanya terurai. Lututnya melemas, dan ia pun jatuh terduduk di lantai balkon. Semua kenangan bersama Jo berseliweran di dalam ingatnnya. Si pemilik mata Biru yang sempat menghilang, kini kembali menghilang tanpa jejak.


Senyumnya, tawanya, candanya, semua berkelebat dalam ingatan Mentari. Dunia terasa berputar dan Mentari merasakan dirinya tersedot dalam sebuah vortek ilusi. Beberapa kali tubuhnya terhuyung nyaris tersungkur, namun ia menahannya. Ia mencoba bangun, namun kembali terhuyung kemudian terjatuh. Darah segar mengalir dari kepalanya yang terantuk dinding pembatas balkon yang membuatnya tak sadarkan diri.


Hingga pukul 08:00 Mentari belum juga turun ke lantai satu untuk sarapan. Membuat Mbak Sari salah satu ART di rumah Mentari ini kebingungan, haruskah ia naik ke kamar nonanya dan membangunkannya, atau ia hanya harus menunggu nona nya turun untuk sarapan.

__ADS_1


"Bangunkan saja... Barangkali Mbak Tari beneran masih tidur gara - gara kecapean." Ucap Mbok Mar.


"Tapi kan Mbak Tari belum pernah sekalipun bangun sesiang ini." Sahut Mbak Sari.


"Iya, makanya tengok ke kamarnya saja." Sambung Mbok Mar.


Mbak Sari mengikuti saran Mbok Mar, ia naik ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar Mentari.


Tok tok tok


Tok tok tok

__ADS_1


"Mbak..." Mbak Sari kembali memanggil Mentari, namun tetap saja tidak ada sahutan.


Hingga akhirnya Mbak Sari memutuskan untuk membuka pintu kamar Mentari. Saat pintu terbuka, Mbak Sari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, namun tak menemukan sosok Mentari. Mbak Sari pun mencoba masuk ke kamar Mentari. Selangkah demi selangkah Mbak Sari masuk ke dalam kamar Mentari. Hingga saat kangkahnya mendekati tempat tidur Mentari, dirinya terkejut. Mbak Sari segera mengambil langkah seribu menghampiri sosok yang terbaring di balkon.


"Mbak Tariiiiiiiiiiiiii..." Teriak Mbak Sari saat menemukan sosok Mentari yang terbujur dan bersimbah darah. Mbak Sari mendekatkan badanya ke bankon dan mencondongkan badanya ke arah bawah sambil berteriak.


"Pak Abe... tolong pak... Mbak Tari Pak..." MBak Sari memanggil Pak Abe, Satpam rumah Mentari dari lantai dua.


Pak Abe yang mendengar teriakan Mbak Sari segera naik ke kamar Mentari dan memeriksa keadaan.


"Ya Allah Sari, Mbak Tari kenapa?" Tanya Pak Abe khawatir.

__ADS_1


"Udah ceritanya nanti aja, kita tolong mbak Tari dulu." Ucap Mbak Sari.


Pak Abe segera menelepon Bunda Mentari untuk mengabari keadaan Mentari. Sedangkan Mbak Sari segera menelepon Rumah Sakit mengenai keadaan Mentari. Hingga 30 menit kemudian, Ambulance sampai di rumah Mentari. Dave yang saat ini berada di halaman rumahnya, melihat mobil Ambulance melintas di depan rumahnya dan mengarah ke rumah Mentari. Dave sampai di rumah Mentari saat Mobil Ambulance telah siap membawa Mentari ke rumah sakit. Mbak Sari mendampingi Mentari di dalam Ambulance, sedangkan Dave mengikuti Ambulance dengan mobilnya.


__ADS_2