
Sudah berhari - hari belum ada kabar dari Abi namun mobil Jo sudah kembali ke halaman rumah Jo dengan kunci yang dititipkan ke penjaga rumah Jo. Pesan - pesan yang Mentari kirimkan pun sudah dibaca namun tidak dibalas. Telepon dari Jo maupun Mentari tidak ada yang dijawab. Namun Mentari mendapatkan ide brilian.
Mentari meminta ponsel Surya, dan kebetulan Bunda memang membiarkan nomor ponsel itu tetap aktif. Bunda juga tahu mengenai Abi yang tiba - tiba lost contact. Sehingga bunda mengijinkan Mentari untuk meminjam ponsel Surya.
Mentari men-dial nomor Abi. Entah sadar atau enggak Abi mengangkat sambungan. Terdengar isak tangis diseberang sana.
"Ya... dimana Lo? gue butuh Lo ya..." Rengek suara diseberang sana.
Jo yang ada di samping Mentari, merespon dengan segera.
"Lo dimana sekarang? Gue kesana! Oke?"
"Bukit Bintang."
Jo menatap Mentari, dengan raut bingung.
"Oke! Gue kesana sekarang." Ucap Jo tegas.
"Sayang, kamu tahu bukit bintang?" Jo segera menanyakan pada Mentari.
"Aku tahu kak." Sambil mengangguk Mantap.
"Yuk!" Dengan segera Mentari mengekor masuk ke dalam SUV milik Jo. Mereka menuju bukit bintang.
Mentari memandu Jo menuju bukit bintang. Dia juga khawatir mengenai keadaan Abi saat ini, apalagi dia sampai terisak menangis dan terkecoh. Dia lupa kalau Surya sudah meninggal. Ada Apa dengan Abi sebenarnya?
Mereka sampai di spot yang biasa Abi kunjungi. Terlihat sosok yang mereka cari duduk di atas kap mobil. Mereka menghampirinya perlahan. Tanpa ingin mengganggu kedamaian, Jo menepuk perlahan pundak Abi. Sementara Mentari menunggu dibawah pohon tak jauh dari sana. Menurut Jo, lebih baik dia yang bicara dengan Abi, Pembicaraan antar pria katanya.
"Hey ko Lo tau bisa kesini Kak?" Tanya Abi dengan kagetnya.
__ADS_1
"Surya ngasih tau gue kalo sahabatnya lagi galau disuatu tempat dan nuntun gue sampe disini." Papar Jo dengan wajah tenang.
"Iya tadi Surya nelp..." Kalimatnya Menggantung, nampaknya dia sadar kalo si punya nama sudah tiada.
"Ah... ****... tadi itu Lo kak... ko bisa pake nomor Surya." Jo merutuki dirinya yang lupa tentang Surya. Mungkin saat ini dia sedang kacau sampai lupa tentang sahabatnya. Atau malah saking butuhnya dia akan sahabatnya.
"Lo kalo ada apa - apa, cerita aja ke gue. Lo tau gimana kuatirnya Mentari? Pesan ga dibales, telepon ga diangkat. Lo inget kan janji Lo ke Surya? Tapi kenapa jadi Lo yang kek gini? Gimana bisa jagain Mentari coba." Jo mengomeli Abi yang sedang kalut.
"Gue ga bisa jagain Mentari kak. Gue gagal. Gue percayain Mentari ke Loe Kak." Ucap Jo dengan nada putus asa.
"Lo tuh kenapa co... ba..." Jo belum menyelesaikan kata - katanya ketika Jo menunjukkan bekas Kissmark di lehernya. Ada banyak tanda disana, beberapa masih agak jelas, beberapa mulai memudar.
"Wow... hebat banget ya... kita kuatir, Lo malah *** ***." Gerutu Jo sambil menepuk tangan.
"Yaudah deh berhubung kekhawatiran kita ternyata salah, gue pulang ya..." Jo menepuk bahu Abi dan berbalik hendak meninggalkan Abi. Namun tangan Abi meraih tangan Jo, dan malah memeluk Jo.
"Gue malu." Cicit Abi.
"Mau cerita ke gue?" Abi mengangguk. Jo berdiri di samping Abi yang memandang jauh kelap - kelip lampu di bawah sana.
"Kemarin pas gue nemuin Clara, Clara ngejebak gue. Gue bangun Jam 3 pagi di apartemen Clara. Dan Lo tau pasti yang terjadi tanpa gue ceritain panjang lebar kan kak?" Papar Jo dengan nada kecewa sambil tetap memandang jauh ke depan.
"Tapi Lo menikmati?" Gurau Jo dengan nada tetap tenang.
"Gue ga inget. Yang gue tau pas gue bangun gue udah naked dan banyak bekas disana sini."
"Wow... seru pasti ya ... " Ucap Jo dengan nada sedikit mengejek.
"Kalo se-seru itu, gue ga se- frustasi gini kak." Ucap Jo jengkel.
__ADS_1
"Gue ga bisa nerima kenyataan gue lakuin hal itu. Gue ga terima bukti bukti di badan gue ini." Pekik Abi.
"Apalagi itu Clara, gue ga suka dengan tabiat dia yang selalu memandang rendah Surya dan Mentari." Abi menceritakan kekecewaannya.
"Reaksi ini kan biasanya cewek yang alami... ko ini cowok ya..." Gumam Jo dalam hati. Dia ingin tertawa tapi takut dosa. 🤭🤣🤣🤣
Jo menahan tawanya. Dia melambai ke arah Mentari, mengajaknya bergabung dengan mereka. Mentari menghampiri keduanya. Namun Abi masih mengemban kekecewaan yang menggunung.
Mentari menepuk - tepuk punggung Abi pelan. Dari aroma parfumnya, Abi sudah sangat mengenal aroma ini.
"Kayaknya kak Abi baik - baik aja. Pulang yuk kak." Mentari meraih tangan Jo karena Abi tidak menanggapi kehadirannya.
Abi meraih mereka dengan kedua tangannya. Kini mereka berpelukan. Mereka memutuskan untuk meninggalkan bukit bintang. Abi ikut pulang bersama dengan Jo dan Mentari sementara mobilnya akan diambil oleh supir Abi nanti.
Abi melihat keakraban mereka dari kursi penumpang. Melihat Jo yang selalu mencuri pandang ke arah Mentari, menggenggam tangan Mentari dan mengecup tangan Mentari tana menghiraukan keberadaan Abi. Sepertinya ia harus merelakan Mentarinya untuk Jo. Dan dia harus menata hatinya kembali.
Mentari meminta ijin pada bunda agar Jo dan Abi menginap dirumahnya. Mengingat kerinduan Abi terhadap sosok Surya, Bunda bisa memahaminya sehingga mereka diijinkan untuk menginap. Sepanjang malam Jo mendengarkan segala hal tentang Surya, perkembangan Surya yang dia lewatkan selama 9 tahun kini tergambar dalam imajinasinya.
Di kamar Surya yang mereka tempati saat ini terpampang foto - foto Surya, bahkan foto Surya denga Jo pada saat itu pun masih terbingkai rapi. Semua barang milik Surya masih rapi dan dijaga dengan baik. Meski tak dihuni namun tetap rajin dibersihkan sehingga tampak seperti si pemilik kamar masih hidup.
Melihat betapa antusiasnya Abi menceritakan sosok Surya, membuat Jo memahami bagaimana Surya tumbuh.
"Dia pasti menjadi sosok pemuda yang tampan, baik, pintar."
"Begitu banyak kenangan yang mereka ingat tentang Surya, hingga 2 tahun kepergiannya masih menyisakan duka yang sangat dalam. Semoga dia ditempatkan di tempat terindah di sisi Tuhannya." Gumam Jo.
Saking asiknya mengobrol tanpa terasa Fajar telah menyingsing. Mereka baru saja terlelap 30 menit yang lalu ketika alarm subuh berdering dari kamar Mentari. Jo belum menceritakan perihal yang dialami Abi. Dari awal Jo bertekad ini adalah rahasia antara Jo dan Abi. Adapun yang akan terjadi nanti, kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi sudah mereka berdua semalaman.
Mereka masih terlelap ketika pintu kamar di ketuk oleh Bunda untuk mengajak mereka sarapan berama. Bunda benar - benar Welcome pada keduanya. Apalagi pada Jo yang sedang mereka pertimbangan keinginannya untuk menikahi Mentari. Meski Jo belum meminta Mentari secara langsung pada kedua orangtuanya.
__ADS_1