TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Nihil


__ADS_3

Pukul 10:15 dokter jiwa melakukan kunjungan ke bangsal VVIP Mentari. Saat ini mereka sedang melakukan komunikasi. Mentari menjawab dengan kooperatif. Sesekali ia terdiam sebelum akhirnya menjawab apa yang dokter tanyakan.


Dokter Laura, itulah nama yang tersemat pada name tag di jas putihnya. Dia sangat berwibawa, kalimat - kalimat yang di ucapkan bagai sihir yang langsung melekat, pada hati dan pikiran orang yang diajak berkomunikasi. Kali ini Mentari terpejam, Dokter Laura menggenggam tangannya dan mengatakan sebuah kalimat, seperti sedang mensugesti Mentari, Mentari mengangguk dengan mata masih terpejam.


Abi hanya bisa mengamati aktivitas konseling dari jarak beberapa meter. Abi tak ingin mengganggu sesi konseling Mentari. Dan nampaknya sesi konseling sudah selesai. Mentari membuka matanya dan tersenyum pada dokter Laura. Dokter Laura mempersilahkan Abi untuk mendekat ke arah mereka.


"Bi, dimana bang Dave?" Tanya Mentari dengan sorot mata berbinar dan suara yang ringan. Nampaknya, suasana hatinya jauh menjadi lebih baik sari sebelumnya.


"Abang ke kantor sebentar, dia bilang jika irisannya sudah selesai, ia akan segera kemari." Ucap Abi.


Abi tersenyum simpul saat Mentari menyunggingkan senyumnya saat merespon ucapan Abi. "Semoga setelah ini, kau akan terus tersenyum seperti ini Mentari." Gumam Abi dalam hati.

__ADS_1


"Baiklah, saya rasa sesi kunjungan saya disini sudah selesai. Saya undur diri, Mentari tersenyumlah dan jangan lupa bahagia, banyak orang yang menyayangimu dan mencintaimu. Saya pamit." Pamit dokter Laura.


"Terimakasih dok..." Ucap Mentari dan Abi bersamaan. Selepas berpamitan, dokter Laura meninggalkan bangsal VVIP Mentari.


"Jadi, gimana kondisi lo sekarang?" Tanya Abi pada Mentari yang masih terduduk di ranjang pasiennya.


"Lo ga liat gue baik - baik aj?" Sahut Mentari.


Benar juga, Abi tak melihat wajah sendu Mentari yang kemarin. Hari ini Mentari nampak berseri seperti Mentari yang Abi sebelumnya.


Bang... buruan kesini.

__ADS_1


Dave yang menerima pesan dari Abi segera bergegas menuju rumah sakit. Hanya membutuhkan 30 menit dari tempat Dave bekerja, menuju Rumah Sakit tempat Mentari dirawat. Sesampainya di rumah sakit Dave segera berlari menuju Bangsal VVIP Mentari, sesampainya disana Dave bergegas menghampiri Mentari yang sedang terlelap di ranjang pasiennya.


"Ada apa Dek? Bagaimana kondisi Mentari saat ini? Bagaimana hasil pemeriksaan dokter?" Cecar Dave memberondong pertanyaan pada Abi.


" Mentari nggak apa-apa Kak, kayaknya dia juga udah jauh lebih baik dari sebelumnya."Jawab Abi tenang.


"Syukurlah." Ucap Dave sambil menghela napas.


Kini Dave sudah mengganti pakaiannya dan menunggu Mentari terbangun dari mimpi indahnya. Semoga benar kata Abi, Mentari sudah jauh lebih baik saat membuka mata nanti. Dave menunggu dengan sabar, sesekali ia mengusap kening Mentari hingga membuat Mentari menggeliat. Ia juga menggenggam tangan Mentari, seolah tak ingin terpisahkan.


Dave sudah mendapatkan konfirmasi dari beberapa Rumah Sakit di negara Singa mengenai keberadaan seseorang yang tenggelam di laut, atau selamat dari kecelakaan di laut. Tidak ada yang menerima pasien dengan kondisi demikian. Namun, Dave tetap berkoordinasi siapa tahu nantinya akan ditemukan pasien dengan kondisi tersebut.

__ADS_1


Besar harapan yang ia tanamkan dari upaya ini. Ia tak ingin melihat Mentari bersedih. Mentari harus bahagia meski bukan dengannya. Dan tak dipungkiri, Dave sempat berada dalam dilema, antara bersedih atas hilangnya Jo, atau bersorak gembira karena kini ia memiliki kesempatan bersama Mentari.


"Pencarian di tiap rumah sakit pun hasilnya Nihil. Lalu dimanakah Jo saat ini? Apakah Jo masih hidup?" Gumam Dave dalam hati.


__ADS_2