
"Udah apa?" Tanya Bunda yang muncul dari pemisah dinding ruangan.
"I...itu bun, Jo udah pengen nikahin Mentari tapi Mentarinya ga mau, padahal mereka dah sering .... ja... jalan bareng." Jawab Abi agak tergagap.
"Bunda tau, Mentari minta waktu 2 tahun lagi, sampe dia punya dasar ilmu buat kelola usaha Bunda sama Ayah." Jawab Bunda sambil merangkul Abi masuk.
"Abi tadi baru aja melamar Haifa bun." Ucap Abi.
"Haifa? Haifa temen Mentari yang kemarin itu?" Tanya Bunda memastikan.
Abi mengangguk.
"Orangtua Haifa setuju?" Tanya Bunda lagi.
Abi mengangguk lagi.
"Kamu dah bilang sama mami papi kamu belum?" Bunda menelisik
Kali ini Abi menggeleng.
"Abi baru akan beri tahu mereka sore ini. Dan minta mereka melamar secara resmi." Ucap Abi dengan mantap. Ia yakin orangtuanya pasti akan setuju dengan hubungan mereka.
"Baiklah. Kasih tau yang bener biar lancar. Yuk sekarang kita makan dulu." Bunda mengajak Mentari dan dua bodyguardnya makan bersama mereka. Abi dan Jo selalu bersama Mentari, untunglah ada yang menjaga Mentari.
Hari keberangkatan Jo akhirnya tiba. Selama Dua hari terakhir, Jo selalu mengabadikan moment bersama Mentari. Untuk keberangkatannya kali ini, dia sangat bersemangat. Dia ingin segera berangkat dan menyelesaikan semuanya, sehingga dia bisa segera pulang lagi. Begitu pikirnya.
Kini bunda dan ayah Mentari ikut mengantar keberangkatan Jo. Setelah ritual berpamitan, ia segera menuju pintu naik karena keberangkatannya sudah 20 menit lagi.
Meski Jo sudah naik, namun Mentari menunggu pesawat yang ditumpangi Jo benar - benar telah lepas landas. Mentari kembali ke rumah di temani Abi. Ia harus kembali bersiap menjalani hari tanpa Jo lagi. Bagi Mentari hari - hari tanpa Jo itu sangat berat. Ia harus kembali bertemu Clara yang hanya berulah saat tidak ada Jo. Hah... Belum juga sehari tapi sudah pening.
"Hhhhhhhhhuh!" Mentari membuang napas kasar. Ia merasakan kepalanya berdenyut.
Jo sudah mengutarakan keinginannya pada kedua orang tuanya, bahkan mami nya segera menghubungi bunda Mentari untuk mengkonfirmasi pribadi Haifa. Takutnya Abi terlalu bucin jadi yang dilaporkan hanya yang baik - baiknya saja. Namun, Haifa memang anak yang bersahaja, agamis, pengertian dan baik hati. Sehingga Mami Abi semakin penasaran, ia ingin segera bertemu calon mantu. Mereka berencana untuk menyambangi rumah Haifa minggu depan.
__ADS_1
Di rumahnya Mentari terus memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Meski sudah meminum obat pereda sakit kepala, namun ia masih merasa sangat menderita dengan sakit kepalanya.
Drrrt drrrrrt
🎶🎶🎶🎶🎶
Ponsel Mentari berdering. Mentari meraih tasnya dan mengeluarkan ponsel miliknya.
Mentari : Iya yah...
^^^Ayah : Tadi Jo berangkat^^^
^^^jam berapa? naik^^^
^^^maskapai apa?^^^
Mentari : Jam 7 tadi kan yah... naik S******* Airlines. Kenapa yah?
"Ish... ayah nih kenapa lagi tiba - tiba nanyain Jo." Ucap Mentari.
Karena kepalanya masih berdenyut dengan hebat, Mentari memutuskan untuk mulai merajut bulu matanya. Menanti esok segera tiba.
Matahari telah menyingsing, kini saatnya Mentari bangun dan bersiap untuk kembali mengenyam ilmu. Sabar Dua bulan lagi sudah libur Semester, jadi ia dan teman - temannya bisa liburan ke Paris seperti yang Jo janjikan. Membayangkannya saja sudah membuat Mentari senang, ia turun untuk sarapan sambil bersenandung. Mentari menghampiri bundanya di dekat meja makan.
Cup
"Pagi bun..." Ucap Mentari sambil mengecup pipi bundanya yang sedang menyiapkan meja makan.
Mentari langsung mendudukkan dirinya disalah satu kursi makan. Pandangannya berkeliling mencari sosok ayahnya yang belum juga muncul.
"Ayah belum bangun Bun?" Tanya Mentari ketika tak jua menemukan sosok ayahnya.
"Ayah belum pulang, masih harus periksa liputan katanya." Jawab bunda sambil menarik salah satu kursi.
__ADS_1
"Bunda gak ke rumah sakit?" Tanya Mentari lagi, karena tumben bundanya belum bersiap berangkat.
"Enggak. Ayah minta bunda nemenin dia hari ini." Terang Bunda.
"Ish... Ayah tuh lagi kenapa sih aneh banget dari semalem." Mentari merasa ada yang janggal dengan gelagat ayah sejak semalam. Tapi dia abaikan, ia pikir nanti juga tahu ada apa sebenarnya dengan ayahnya?
Tak lama Abi datang, seperti biasa kedatangan Abi selain untuk menjemput Mentari ia juga selalu ikut sarapan. Karena Abi cuma tinggal sendiri di rumah besar di samping, hanya ditemani oleh beberapa ART dan tukang kebun. Bunda juga sudah biasa dengan kedatangan Abi dan kebersamaan dia sehari - hari.
Setelah sarapan mereka bersiap untuk menjemput Haifa sebelum mengarahkan mobilnya ke kampus. Karena ia tahu perjalanan Jakarta - Paris paling cepat 17 jam maka dia kali ini bersabar menunggu kabar dari Jo selama 17 jam. Sehingga dia tak bolak balik cek ponsel seperti kejadian beberapa hari yang lalu. Ia membiarkan ponselnya tergeletak manja di dalam tasnya.
Saat sampai di rumah Haifa, Haifa sudah siap di depan teras rumahnya, memandangi ikan - ikan koi yang berlalu - lalang. Warna - warni yang indah yang membuat mata jadi fresh. Saat melihat mobil Abi sudah sampai di gerbang, Haifa segera menghampiri dan mereka siap ke kampus.
"Udah dapet kabar dari Jo?" Ucap Haifa saat baru saja memasuki mobil Abi.
"Belum lah, kan belum 17 jam, dia juga pasti belum nyampe lah." Ucap Mentari. Padahal yang Jo lakukan kemarin karena dia bermaksud memberikan kejutan pada Mentari jadi seharian tak memberi kabar. Sebenarnya meskipun di pesawat, kita masih bisa mengirim dan menerima pesan WhatsApp menggunakan jaringan wifi dari pesawat tersebut. Sehingga meskipun jaringan selular dimatikan, karena memang jaringan selular dapat mengganggu transmisi elektromagnetik dari pesawat itu, namun untuk pesawat yang menyediakan fasilitas WiFi, kita tetap bisa menerima dan mengirim pesan.
Abi hanya tersenyum melihat reaksi Mentari yang meskipun dia kaya tapi tidak selalu minta liburan ke LN. Dia memang tidak suka bepergian apalagi ke tempat yang ramai. Sehingga Abi tak heran jingga si cantik yang satu ini agak kudet.
Akhirnya mereka sampai di kampus dan segera bergabung dengan Cassandra yang baru saja memarkirkan mobilnya.
"Eh ... eh... liat deh... Cassandra bareng sama... Mike?" Ucap Mentari yang keheranan dengan kedekatan mereka.
"Sejak kapan kucing sama anjing akur?" Celetuk Abi. Mereka berjalan menghampiri Cassandra yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Lo mungut ini dimana?" Ucap Abi sambil menunjuk Mike yang baru keluar dari belakang kemudi.
"An*** Lu. Lo kira gue sampah dipungut - pungut." Sahut Mike kesal.
"Gue pungut dia depan rumah coba. Pagi - pagi udah ada yang minta nebeng ke kampus. Gila kan? Dapet contact gue dari mana lagi ni tikus." Ucap Cassandra sebal.
"Issshhh... Lo tuh..." Belum sepat Mike menyelesaikan kata - katanya, Cassandra sudah melotot ke arahnya.
" Gue tampar pake bibir gue nih." Ucap Mike geram pada Cassandra.
__ADS_1