TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Untukmu


__ADS_3

Pukul 4 pagi Jo landing di Jakarta. Perjalanan pagi dini hari masih lengang meski sudah ada beberapa aktifitas yang sudah dimulai sejak dini hari. Jo menuju rumahnya dengan menggunakan Gowcar. Setelah selesai membersihkan diri, ia menuju kediaman Mentari.


Ia mendapati Haifa sedang bersama Mentari di dapur. Jo mengendap - endap mendekati Mentari. Haifa yang tiba - tiba berbalik badan, mendapati Jo yang sedang mengendap.


"🤫 " Pinta Jo pada Haifa.


Jo menutup mata Mentari dengan kedua telapak tangannya.


"Abi jangan iseng deh, ini masih pagi." Tegur Mentari sambil meraba tangan yang menutupi matanya. Namun dia mengenal aroma ini, ini bukan aroma Abi. Mentari membalikkan badannya ke arah Jo kemudian berhambur ke pelukan Jo.


"Kakak kemana aja dari kemarin." Mentari memeluk Jo sambil terisak. Setidaknya butuh waktu kurang lebih 17 jam perjalanan Paris - Jakarta.


"Aku kangen kamu sweety, aku mau kasih surprise sama kamu. Kamu seneng ga?" Ucap Jo sambil menangkup wajah Mentari dan menempelkan hidungnya dengan hidup Mentari.


Mentari hanya mengangguk dan kembali memeluk Jo, Dia harus sedikit berjinjit untuk menempelkan kepalanya di ceruk leher Jo. Mentari menghisap dalam - dalam aroma yang saaaaaaangat ia rindukan, begitu pula dengan Jo.


Mentari menciumi sisi dalam leher Jo, hingga bibir mereka bertemu dan tertaut beberapa saat. Merek lupa ada Haifa disana. Mereka membuat Haifa menutup matanya dan berlalu pergi. Sedangkan ART yang sedang menyiapkan makanan juga meninggalkan dapur untuk memberikan ruang untuk nona nya.


Jo merogoh saku celananya, diambilnya sebuah kotak kecil yang tipis. Dia membuka kotak kecil itu dan menyodorkannya pada Mentari. Sebuah Kalung dengan dengan diamond Rubi kecil ditengahnya. Mentari hanya bisa terperangah melihatnya dan Jo memakaikannya di leher indah Mentari. Sekali lagi bibir mereka tertaut.


Mentari menarik Jo menuju kamarnya. Saat ini ia benar - benar ingin meluapkan kerinduan. Dilahapnya bibir Jo dengan rakus. Mendudukkan Jo di tempat tidurnya, ia duduk diatasnya sambil terus ******* bibir Jo. Saking menggebunya mereka bertautan, Mentari menjatuhkan badan Jo diatas tempat tidurnya. Kini Mentari benar - benar menindih tubuh Jo.


Mentari terus ******* dan bergoyang, ia pun sudah merasakan pergolakan di sebuah titik. Sebagai seorang pria normal, mana mungkin ia tidak tergoda. Namun dia tak ingin merusak Mentarinya. Jo menangkupkan wajah Mentari dan menggeleng.


"Aku sayang kamu. Kendalikan diri kamu sayang." Jo Memeluk Mentari.


Mentari meronta sebal. Dia berasa ditolak. Mereka turun bersama, ditemuinya bunda dan ayah yang sudah berada di meja makan. Jo menyalami orang tua Mentari dan kemudian duduk bersama di meja makan.

__ADS_1


"Pulang kapan sayang?" Tanya Bunda pada Jo.


"Baru aja nyampe Bun. Jo udah kangen banget sama anak bunda ini." Ucap Jo sambil mengusap puncak kepala Mentari.


"Papa mama sehat nak?" Giliran ayah yang berbicara.


"Sehat yah, tapi bunda ga ikut ke Paris kemarin." Jawab Jo.


Tiba - tiba seorang ART mendekati mereka di meja makan.


"Non, mbak Haifa dan mas Abi ada di gazebo depan." Ucap Mbak Susi.


"Suruh masuk dong, sini sarapan bareng." Ucap bunda.


"Iya nyonya." ART itu berlalu untuk menawarkan sarapan."


"Makanya, ayo nikah. Nikah hari ini pun aku siap. Kan kamu yang minta nikahnya nanti." Ucap Jo mencoba meluluhkan Mentari.


Mentari menggeleng. Ia masih merajuk. Jo mengemudikan mobilnya menuju kampus sambil salah satu tangan ya meraih tangan Mentari dan diciuminya. Namun Mentari tetap memandang ke arah luar.


Ia ingin sekali membelai kekasihnya saat ini. Namun untuk melakukan hal yang diinginkan ia harus berpikir berulang kali demi dia, demi masa depannya, demi keluarga mereka. Demi hubungan persahabatan yang dibina orangtua mereka hingga saat ini. Bagi Jo, cara yang salah hasilnya tetap tidak indah.


Jo mengemudikan mobilnya melewati kampus yang seharusnya ia singgahi.


"Kampusnya kelewatan." Ucap Mentari.


"Aku tahu." Sahut Jo.

__ADS_1


Jo membawa Mentari ke apartemennya.


"Ngapain bawa aku kesini?" Tanya Mentari saat Jo memarkirkan mobil di basement.


Tak ada jawaban dari Jo, ia hanya menggandeng tangan Mentari dan membawanya ke apartemennya.


Setelah pintu tertutup dengan sempurna, Jo segera mengangkat tubuh Mentari menghadap tubuhnya, dibawanya Mentari ke dalam apartemennya sambil ******* bibir Mentari yang berasa strawbery. Mentari memang lebih suka memakai lip balm dengan aneka rasa.


Mereka tertaut, saling berpagut. Mentari yang sedari tadi masih kehausan pun melahapnya dengan rakus. Menekan kepala Jo dan memperdalam ciumannya. Begitu pula dengan Jo yang sangat merindukan bibir strawberinya selama sebulan terakhir. Tautan itu terlepas, kini Jo menciumi leher jenjang Mentari hingga tubuhnya menggelinjang menarik asal rambut Jo dan meloloskan satu *******. Jo menurunkan tubuh Mentari dan mengunci tubuhnya ke dinding.


"Aku mau bikin kamu k******s meskipun kita ga lakuin "itu"." Ucap Jo sambil tersenyum. Kemudian dia berjongkok dibawah Mentari. Jo men****t dan meng****p sementara tangannya ia arahkan ke mulut Mentari. Mentari menghisap dua jari tangan Jo dengan lahap. Setelah selesai dihisap tangannya berpindah menyusuri bukit.


Jo kembali memindahkan Mentari ke ranjang king sizenya. Dilucutinya semua yang kekasihnya kenakan. Jo bergerilya menjelajah setiap inci tubuh Mentari. Dicecap dan dihisap di berbagai area tertutup. Hingga kekasihnya merasakan benar - benar lemas.


Kini tinggal Jo yang harus berjuang. Ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mentari memeluk Jo dari belakang. Mentari membalik tubuh Jo dan berjongkok. Kini ia membantu perjuangan Jo. Tubuh Jo menegak merasakan sensasi hangat, sesekali ia memejamkan mata dan menekan kepala Mentari lebih dalam ia menikmati ritmenya hingga semburan panas menyembur dan meleleh di mulut. Keduanya membersihkan diri dengan berendam bersama. Kecupan kecupan kecil masih di layangkan di area sensitif Mentari.


"Nikah yuk..." Ajak Jo lagi.


"Nunggu aku minimal semester 5." Jawab Mentari.


"Berarti kamu harus sabar. Jangan penasaran lebih jauh, jangan godain aku mulu. Itu dah resiko kamu yang menunda kita nikah." Jawab Jo memperjelas.


"Kamu gausah penasaran, karena kalo kita udah nikah aku pasti sering bikin kamu lemes lebih dari ini. Tapi dengan catatan ayok nikah." Ajaknya lagi.


Jo kembali menghujani Mentari dengan ciuman. Seharian mereka menonton di apartemen Jo. Meluapkan kerinduan. Mentari hanya mengenakan kaos Jo yang kedodoran, namun tangan Jo selalu menyelinap mencari celah sempit. Sedangkan kepala Jo selalu menempel di ceruk leher Mentari.


"Love U sunshine." Jo memagut kembali kekasihnya, lagi dan lebih dalam.

__ADS_1


__ADS_2