TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Nostalgia


__ADS_3

Tiga puluh menit dengan kecepatan diatas rata - rata akhirnya mereka sampai di cafe selanjutnya. Seperti biasa ritual buka - tutup Jo lakukan. Jo memasuki cafe sambil merangkul bahu Mentari. Reaksi penuh tanya kembali terlihat, reaksi yang hampir sama dengan cafe sebelumnya. Hanya saja disini ada satu reaksi yang janggal. Salah satu karyawan disini ada yang menatap Mentari dengan tatapan sinis, tidak suka.


Karina, karyawan wanita di cafe ini yang terang - terangan menaruh hati pada Jo. Karyawan yang lain tahu ambisi dan delusi Karina, sehingga mereka membiarkan saja selama itu tidak mengganggu kinerja mereka semua. Malah dengan begitu dia akan semangat bekerja, apalagi saat Jo mengunjungi cafe ini.


"Mau keruangan, atau disana?" Jo menawari spot favorit Mentari sambil menunjuknya.


"Disana aja." Jawab Mentari sambil menunjukkan gigi - giginya.


"Baiklah." Sahut Jo sambil mencubit hidung Mentari.


"Iced Americano Dan strawbery cheesecake?" Tanya Jo sambil berlalu.


Mentari menganggukkan kepalanya sambil berjalan menuju spot favoritnya. Jo menemui para staff dan karyawan, memperkenalkan Mentari seperti sebelumnya pada para staff dan karyawan cafe.


"Biasa aja tuh. Gadis desa gitu, ga ada spesialnya." Ucap Karina ketus.


Ucapan Karina barusan sontak membuat karyawan di sekitarnya melotot ke arah Karina.


"Dasar kacung ga tau diri." Gumam Sandi salah satu karyawan di cafe ini.


Karyawan lain menatap Karina tidak suka. Nampaknya Karina mulai tidak sadar diri. Reaksi Karina justru membuat Jo ingin menunjukkan bahwa dia tidak sebanding jika disandingkan dengan Mentarinya. Jo meminta Karina untuk membawakan pesanan Mentari. Tentu saja Jo juga mengawasi. Dan benar saja, "PRANK..." terjadilah insiden karena ulah Karina. Pesanan Mentari tumpah semua mengotori baju Mentari. Sontak seisi cafe menoleh ke sumber suara.


"Aduh!!! Maaf mbak... saya ga sengaja." Ucap Karina berdalih.


"Gak papa ko mbak. Saya gak papa." Jawab Mentari tenang.


"Sini biar saya yang bersihkan mbak." Kata Karina sok peduli.


"Gak papa mbak saya bisa sendiri. Terima kasih. Mbak bisa tolong bawakan saya pesanan yang baru?" Pinta Mentari sambil membersihkan sisa sisa kue dari pakaiannya. Sementara beberapa karyawan telah datang membantu membersihkan yang tercecer di lantai.

__ADS_1


Jo menghampiri Mentari yang hampir selesai membersihkan pakaiannya. Merangkulnya dan membawanya ke ruangan milik Jo.


"Kamu tunggu sini, silahkan mandi disana dan tunggu aku sebentar, aku bawakan baju gantinya." Ucap Jo sambil mengambilkan set mandi untuk Mentari dari lemarinya.


Jo memberikan set mandi yang masih baru untuk Mentari. Setelah memastikan Mentari masuk ke kamar mandi miliknya, Jo keluar dan mengunci pintu ruangannya lalu bergegas ke butik depan cafe untuk membeli pakaian ganti untuk gadisnya. Tak butuh waktu lama, Jo memilihkan pakaian yang nyaman dan cocok untuk Mentari kemudian kembali keruangan kerjanya di cafe. Jo mengetuk pintu kamar mandi dan menyodorkan pakaian yang baru saja dia beli untuk Mentari.


"Thank's kak." Ucap Mentari sambil keluar dari kamar mandi.


"Yaudah yuk, aku dah selesai. Kita pulang aja." Ajak Jo sambil menggandeng Mentari keluar ruangan.


"Tapi cake sama kopi aku gimana?"


Jo membelalak, pasalnya masih aja dia inget sama makanan setelah terjadi insiden.


"Laper." Ucap Mentari imut sambil mengelus perutnya. Dan dibalas anggukan dan senyum manis Jo.


Akhirnya mereka duduk di spot semula dan menikmati makanan mereka. Sesekali Mentari menyuapi Jo yang tak berhenti memandang Mentari.


"Terus sejak kapan kamu belajar beladiri? Emang Bunda kamu ini ijinin?" Tambahnya lagi.


"Aku, Mas, Sama Kak Abi kan dulu emang ikut taekwondo, tapi setelah mas ga ada aku ambil Muai Thai." Papar Mentari sambil terus menyendokkan cake ke mulut Jo.


Gerak - gerik keduanya tidak lepas dari pengawasan Karin yang sudah sejak tadi mengeratkan gigi - giginya.


"Awas aja gadis gembel, Lo kira Lo siapa, Lo ga pantes sedikitpun ada di samping prince Jo." Gumam Karina dalam hati.


Setelah cake di meja ludes bersih, Jo mengantarkan Mentari ke rumahnya. Benar saja, di rumahnya sedang sibuk mempersiapkan pengajian untuk Surya.


Jo mampir sebentar ke rumah Mentari. Disana ada ayah, bunda dan Abi. Mereka menyambut keduanya yang baru saja memasuki rumahnya. Ayah baru melihat Jo lagi setelah 9 tahun.

__ADS_1


"Jagoan yang hilang sudah kembali Pulang." Ucap ayah sambil menepuk - nepuk punggung Jo.


"Iya om. Maaf kalo Jo bikin kalian resah."


"Lhoh... kalian kenal Bang Jo?" Kata Abi kebingungan.


"Iya Bi, Jo ini tetangga kami tapi kira kira satu tahun sebelum keluarga Abi pindah ke sebelah, Jo menghilang tanpa jejak dan itu bikin Mentari nangis berminggu - Minggu loh." Terang Bunda.


"Jadi Bang Jo ini dulu tinggal di rumah yang sekarang aku huni gitu?"


"Bukan, rumah Kak Jo ada di sebelah kiri rumah aku kak." Jelas Mentari.


"Oooo... Bang Jo juga kenal Surya dong."


"Ya jelas kenal orang tiap hari barengan aja kaya gerbong kereta, kemana mana selalu bertiga." Papar Bunda kemudian.


"Yuk sini - sini Tante tunjukin foto - foto mereka bertiga." Ajak Bunda.


Mereka berlima bernostalgia dengan album foto Mereka bertiga. Sejak Mentari Bayi, sudah ada sosok Jo yang menemani mereka. Bisa dilihat kalau ketiganya sangat akrab seperti saudara kandung. Beberapa foto diabadikan secara candid, jadi sangat natural kelihatannya, namun tetap saja tingkah mereka menggemaskan.


"Ternyata Lo dulu kaya ikan buntal ya Tari." Ejek Abi sambil menahan tawa. Yang ditanggapi decihan dari Mentari.


"Iya, dari bebek buruk rupa jadi angsa." Jawab Mentari sambil melirik pada Jo.


"Kakak kan Bilang anak itik ga sampe buruk rupa ih. Dan biar endud juga, Mentari emang cantik dari dulu ya kan Bunda, cuma emang dulu tuh endud aja. Ngegemesin pokoknya gemoy banget deh." Balas Jo.


"Iya, dulu kalian hobi nyemil. Tas Jo selalu penuh Snack untuk kalian berdua." Ungkap Bunda.


Mereka berlima hanyut dalam nostalgia mereka sambil mengenang Surya. Hingga akhirnya Mentari ternyata sudah pulas bersandar di paha Jo. Jo meminta ijin untuk memindahkan Mentari ke kamarnya, dan tentu saja Bunda dan ayah mengijinkan dengan mudah. Dalam pikiran mereka Jo Yang sekarang masih sama seperti Jo yang hilang 9 tahun lalu.

__ADS_1


Usai memindahkan Mentari, Jo kembali berbaur bersama Ayah dan Bunda ditambah Abi yang masih betah disana. Abi lebih memilih pindah kerumah Mentari daripada di rumah sendirian. Sejak dulu Abi memang tak suka sendiri, apalagi keheningan yang terlampau hening di rumahnya.


__ADS_2