
Jo POV
Aku tak berani bertindak lebih jauh, meski hasrat ini ingin melakukan lebih. Namun, aku harus bisa menahan agar aku mampu menjagamu, membayar hari - hari sepi yang kau jalani. Andai aku bisa mengingat semua lebih awal, bertemu kembali lebih awal. Aku akan menjagamu Mentari. Aku berjanji, Kau tak akan sendiri lagi. Tersenyumlah Mentari.
Jo POV END
Saat ini Jo sedang mengemudikan mobil yang Mentari bawa. Sesekali perhatiannya mengarah pada buket bunga, dan aroma bunga yang menyeruak di mobil itu.
"mmmm...permisi non, kalo boleh tau saya harus mengantarkan nona kemana?" Tanya Jo menirukan adegan sopir dengan majikan.
"Ke Makam dekat rumah pak." Jawab Mentari enteng.
"Baik non." Serunya lagi.
Mentari masih terbayang - bayang kejadian di dalam ruangan tadi. Saat Jo terus memeluk dan menghujani keningnya dengan kecupan. Sebenarnya terbersit sejenak dalam pikiran Mentari bahwa dirinya akan mendapatkan ciuman di bibirnya, namun kenyataannya tidak demikian. Jo hanya mencium ringan kening Mentari. Mentari pun tak mengerti motif dibalik perlakuan Jo tadi.
"Ehem" Jo berdehem.
Dehem Jo sontak membuyarkan lamunan Mentari.
"Mau diem - dieman aja nih..."Gurau Jo.
"Maafin aku ya... Baru beberapa bulan ini aku balik ke rumah lama, selama beberapa tahun ini aku emang udah di Jakarta tapi tinggal di apartemen. Kata mama, beliau membawa pergi sehari setelah kecelakaan dan aku dinyatakan amnesia. Dan baru tiga tahn terakhir aku mendapatkan serpihan ingatan tentang rumah lama, Surya, dan Mentari. Itu kenapa aku kembali ke rumah lama sesekali dalam beberapa bulan ini." terang Jo Panjang Lebar.
"Iya bang..." Jawab Mentari sambil menahan isaknya.
"Mampir kafe bentar boleh non?" tanya Jo.
__ADS_1
"Yuk!" Sahut Mentari sampil menepis air mata yang nyaris tumpah itu.
Jo tahu benar reaksi Mentari, Beberapa kali dia memperhatikan Mentari yang nyaris menangis. Jo menepikan mobil merah itu di depan salah satu coffee shop miliknya.
"Dia benar - benar menyembunyikan air matanya. Tembok macam apa yang dia bangun sejak kehilangan kakaknya." Gumam Jo sambil membuka pintu mobilnya.
Setelah turun dan menutup pintunya, ia beralih ke sisi pintu yang lainnya untuk membukakan pintu Mentari. Mentari turun dari mobil dan mengekor Jo masuk ke dalam kafe. Seperti biasa, dia selalu memilih spot paling ujung ruangan, di pinggir jendela. Di kafe manapun, selagi spot diujung ruangan kosong, dia selalu memilih spot itu untuk duduk.
Jo masuk ke dalam area cafe, karena cafe ini memang cabang dari cafe milik mama Jo. Tak lama dia keluar dengan membawa strawbery cheesecake dan Espresso miliknya mencari keberadaan Mentari. Setelah menemukan sosok mentari yang sedang asik memandangi lalu lalang diluar jendela besar.
"Hei nona... kamu mau kopi atau coklat?" Tanya Jo.
"iced Americano please..." Jawab Mentari tanpa mengalihkan pandangannya
"Baik nona." Jawab Jo Singkat. Jo segera menekan ponselnya, meminta salah satu pelayan kafe mengantarkan iced Americano ke mejanya.
"Asik bener... nih makan dulu." Jo menyodorkan piring berisi strawbery cheesecake ke arah Mentari.
"Ko cuma satu? Kaka ga makan juga?" Tanya Mentari sampil memperhatikan orang yang duduk di depannya.
"Enggak, aku udah kenyang ko liat kamu makan. Kok kamu selalu memilih spot ini setiap kamu ngafe?"
"Soalnya dari spot ini kita bisa mengamati semua penjuru baik yang di dalam ruangan, maupun diluar ruangan tanpa harus was was dan kita ga akan diperhatikan orang, karena orang yang akan memandang kemari selalu tertangkap pandang lebih dulu." Papar Mentari sambil memotong cake nya dan menyuapkan potongan cake itu ke mulut Jo.
Jo yang bingung dengan potongan cake yang mengarah kepadanya pun tanpa ragu melahapnya. Kemudian Mentari mengambil potongan lain untuk dirinya. Tak lama kemudian, Iced Americano milik Mentari dihantarkan oleh salah satu waitress. Namun ada yang aneh dengan raut muka yang ditunjukkan waitress ini. Dia nampak tidak senang ketika sampai di meja Mentari. Padahal sebelum sampai di mejanya, Mentari yakin melihat waitress itu tersenyum ceria.
"Silahkan pesanan anda bos." Ucap waitress.
__ADS_1
"Baik, terima kasih." Ucap Jo singkat tanpa berpaling pandangan sedikit pun dari arah Mentari.
"Kapan Surya meninggal?" Tanya Jo tanpa mengalihkan pandangan.
"Sekitar dua tahun yang lalu." Jawab Mentari sambil mengaduk aduk iced Americano miliknya.
"Andai aku kembali kerumah itu satu tahun sebelumnya. Aku pasti masih sempat bertemu dengan Surya." Ucap Jo sambil meraih tangan Mentari. Jo menggenggam tangan Mentari lembut.
"Ijinkan aku menemanimu, menggantikan Surya untuk membayar ketidak beradaanku selama 9 tahun. Aku akan menjaga dan membuatmu ceria seperti yang selalu Surya lakukan. Aku yakin, meski aku tak pernah bertemu Surya, dia pasti sangat menjaga adik tercintanya ini." Ucap Jo sambil mengusap punggung tangan Mentari.
"Terima kasih. Tapi aku baik - baik saja. Aku mulai terbiasa setahun terakhir ini." Jawab Mentari sambil perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Jo. Namun genggaman Jo mengencang saat Mentari hampir berhasil melepasnya. Jo meraih tangan Mentari dan perlahan mengecup lembut tangan indah itu.
"Meski kau menolak, aku akan tetap melakukannya." Ucapnya mantap sambil menatap Mentari dan kembali mengecup tangan indahnya. Dan terus menggenggamnya, seolah tak ingin meninggalkan wanita ini lagi.
Mendapatkan perlakuan manis bertubi tubi seharian, membuat hati Mentari mulai tergelitik. Ada perasaan geli yang menggelitik dadanya saat menerima sentuhan lembut, bahkan kecupan. Hal ini membuatnya ingin terus diperlakukan manis oleh pria di hadapannya saat ini. Ia membayangkan pria ini selalu menemaninya, memeluknya, mengecupnya, membelainya. Baru kali ini Mentari merasa diperlakukan manis dan diberi kecupan intens oleh seorang pria.
Tiba - tiba ponsel Mentari berdering. Diraihnya ponsel dari dalam tasnya, ternyata mamanya menelpon.
"Dimana sayang? udah ke tempat mas?" Tanya sang bunda.
"Belum bunda, bentar lagi. Mentari masih makan di kafe." Jawab Mentari sambil mendelik melihat jam menunjukkan pukul 15.30.
"Okelah, makan pelan - pelan, dan hati hati sayang. Kalo bisa jangan kemaleman pulangnya ya nak..." Pesan Bunda.
"Siap Nyonya." Jawab Mentari singkat. seketika panggilan berakhir. Setelah panggilan berakhir, Ia menyimpan kembali ponselnya. Dan bersiap untuk pergi.
"Udah yuk kak, keburu sore ke tempat mas Surya." Ajak Mentari.
__ADS_1
Dengan segera Jo beranjak dari duduknya dan menggandeng tangan Mentari. Pergerakan Jo tidak luput dari pandangan para stafnya apalagi waitress yang mengantarkan pesanan tadi.
Jo membukakan pintu untuk Mentari dan segera mengemudikan mobil Honda Accura NSX milik Mentari ini. Mobil itu dilajukan menuju Pemakaman Umum tempat Mas Surya dimakamkan. Makamnya masih sering mereka rawat dan kunjungi. Bahkan Mentari selalu mengunjunginya pada hari Jumat. Seakan, Mereka tak ingin dipisahkan. Mentari masih mengobrol ringan saat dirinya butuh teman bercerita. Bukan tak memiliki teman, dia hanya lebih nyaman jika bercerita pada kakaknya ini. Apalagi kakaknya saat ini tidak akan pernah membocorkan apa yang akan dibicarakan, karena pada dasarnya Mentari hanya bercerita pada sebuah batu nisan bertuliskan "Surya Diwantara".