
Beberapa bulan berlalu dan Mentari kini sudah mahir berkendara. Baik mengendarai motor Surya maupun mobil pemberian Tante Mommy. Dia juga rajin fitnes di fitnes room yang ada dirumah Abi.
Namun selama dia bolak - balik kerumah Abi, dia belum pernah menemukan sosok Dave. Terang saja, Mentari datang kerumah Abi pukul 9:00 pagi sampai pukul 12:00 dan Dave sudah meninggalkan rumahnya sejak pukul 07:00. Sehingga beberapa bulan ini Mentari kembali kehilangan sosok Dave. Dia menganggap sehari bersama Dave saat itu hanya mimpi sesaat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setahun berlalu. Mentari memilih menunda studinya satu tahun. Namun Abi sudah mulai studinya tahun lalu, jadi dia menjadi senior Mentari sekarang Dia akan mendaftar tahun ajaran depan.
Esok adalah hari pertama bagi Mentari menginjakkan kakinya di kampus tempat dia akan menimba ilmu. Memang agenda besok hanya untuk pembekalan Masa Orientasi Kampus. Mentari berencana berangkat ke kampus sendiri - sendiri. Dia tidak ingin di cap sebagai benalu yang selalu menempel pada Abi.
Saat ini Mentari sedang duduk di bench yang ada di beranda kamarnya di lantai 2. Dia bersenandung dan memetik gitarnya, setidaknya gitar itu yang menemaninya saat ini. Biasanya dia dan sang kakak menyanyi bersama ditempat dia berada saat ini. Lagu demi lagu, nada demi nada, kenangan demi kenangan larut didalamnya.
Tanpa disadari, ada sosok yang mengamati dari seberang rumah. Rumah yang biasanya tampak sepi, tidak ada lalu lalang di teras rumahnya. Kini nampak seseorang yang mengamati, menikmati alunan yang Mentari mainkan.
Malam semakin larut dengan hati yang kalut Mentari memutuskan untuk beristirahat. Ia menyudahi konser tunggalnya dan memasuki kamarnya. Tak lama ia mematikan lampu kamar dan memejamkan matanya, menanti esok segera tiba.
Keesokan harinya Mentari datang ke kampusnya tepat 30 menit sebelum acara pembekalan dimulai. Dia datang dengan motor BMW milik Surya. Saat motornya selesai diparkir. Dia melihat sekeliling area parkir. Nampak olehnya Abi sedang berbincang dengan beberapa pria yang ia tidak kenal dan beberapa teman perempuan satu sekolah dengan mereka. Beberapa orang terlihat mengamati keberadaan Mentari saat ini.
Cewe sapa nih yang pake motor ginian
Sapa tuh
Kayaknya anak baru nih
Setelah setidaknya mengetahui ada beberapa sosok yang ia kenal. Mentari melepas helm pink doff yang ia kenakan. Dengan tampilan casual chic-nya. Rambut ekor kuda, make up natural, lip tint pink, celana jeans panjang yang dipadukan dengan camisole pink berenda di dada yang ditutupi dengan jaket denim yang kancingnya terbuka.
Ckckck cewek cantik
__ADS_1
Eh dia anak baru gak sih
Eh liat itu si benalu
Hahhh itu kan si Mentari
Ehh dia siapa... Anak baru kan...
Usai melepas helm pink doff full face nya dia turun dari motor dan berniat menghampiri Abi. Tapi niat itu ia urungkan ketika melihat 2 cewek anggota genk mantan si Abi, Fira dan Yunita yang selalu menganggap Mentari sebagai benalu bagi Abi. Namun Abi yang diberitahu kedatangan Mentari oleh cewek disebelahnya tadi segera menghampiri Mentari.
"****... Dandanan loe Tar. Kaya queen mafia. Lo naik apa berangkatnya." Tanya Abi sedikit heran melihat dandanan Mentari. Pasalnya dia jarang sekali memakai jeans untuk sekedar eskul di sekolah. Selalu feminim dengan skirt baik jeans atau dress tapi tidak dengan celana jeans.
"Naik kuda!! Keren kan gue." Jawab Mentari asal.
"Mana kudanya? Ga ada kuda - kuda disini." Protes Abi sambil celingukan mencari keberadaan kuda yang dimaksud Mentari.
"Yaelah, gue juga becanda kali." Elak Abi.
Mentari mempercepat langkahnya. Dia menyadari bisikan bisikan di belakangnya. Namun Abi menarik lengannya.
"Eh... Eh... Non mau kemana sih, buru - buru amat." Sergah Abi.
"Cari tempat yang adem. Lagian bentar lagi acara mulai. Gue mau langsung ke aula fakultas aja." Jawab Mentari.
"Bareng aja gak usah buru - buru gitu juga kali." Timpal Abi.
Tanpa menghiraukan Abi, Mentari berjalan menuju arah auditorium fakultas, tempat acara akan dilangsungkan.
__ADS_1
Belum juga jauh dari Abi, Fira dan Yunita muncul tiba - tiba dihadapan Mentari dan merintangi langkah Mentari. Membuat si empunya geram.
"Kali ini ga ada kata jaim, gue harus hadapi sendiri." Batin Mentari.
Abi yang melihat Mentari diganggu Fira dan Yunita. Segera menghampiri mereka dan memperingatkan mereka. Fira dan Yunita melaporkan kejadian itu pada Clara. Clara yang masih tidak terima dengan keputusan Abi untuk berpisah rupanya menaruh dendam pada Mentari. Clara pun menyusun beberapa siasat untuk membalas dendam pada Mentari.
Hari mulai petang, setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar, sampai telinga terasa bebal saat ini. Mentari meninggalkan ruang auditorium paling akhir. Ia hanya tidak mau berdesakan saat keluar ruangan, sehingga ia memutuskan meninggalkan ruangan itu saat pintu sudah tidak ramai di jejali kerumunan mahasiswa baru.
Ditengah perjalanannya menuju area parkir, ia mendapatkan panggilan dari sang bunda. Mentari yang sedang asik menelpon sambil berjalan tidak memperhatikan ketika Duo Serigala menyemprotkan saos sambal ke arah Mentari. Entah apa yang dipikirkan Duo Serigala beracun itu.
Menyadari dirinya diserang, Mentari mengakhiri panggilannya dan segera memasukkan ponselnya ke kantong celana.
"Belum juga ospek, tapi sudah dikerjai" pikirnya.
Dengan gerakan lincahnya Mentari mendapatkan pergelangan kedua gadis beracun itu. Dia mengunci pergelangan mereka. Mereka meronta, namun nahas cengkeraman Mentari sangat kuat. Selama ini mereka meremehkan Mentari dan menganggap Mentari adalah gadis lemah karena selalu ada di ketiak sang kakak.
Setelah memberikan sedikit wejangan pada duo beracun itu Mentari melepaskan cengkeramannya dan berlalu begitu saja.
Namun tanpa disadari ada sepasang mata yang sedari tadi mengawasi pergerakan gadis cantik tersebut. Mata itu terus membuntuti, mengikuti arah pergerakan Mentari seolah dia adalah mangsa lezat yang siap diterkam.
Karena suasana saat itu sudah lumayan sore, Matahari pun sudah siap berpulang berganti shift dengan sang rembulan. Mentari segera menuju sepeda motornya yang saat ini berdiri sendirian tanpa ada yang menemani. Tidak mengetahui bahwa dirinya sedang dikuntit, si gadis langsung saja melajukan motornya menembus kericuhan senja jalanan ibu kota.
Tanpa menghiraukan perut yang bernyanyi, Mentari melajukan motornya sambil membayangkan hidangan lezat buatan sang Bunda. Sampai di depan komplek cluster sosok pemuda yang sedari tadi mengikutinya tersenyum dalam hatinya bersorak riang karena si gadis berapa di area cluster yang sama. Dan si pemuda nyaris berteriak girang saat mengetahui letak pasti rumah si gadis. Si gadis tinggal tepat di samping rumahnya yang jarang ia singgahi.
Rumah yang dia huni sendiri ditemani para asisten rumah tangga sejak lima tahun yang lalu. Rumah yang selalu nampak sepi dari luar pagarnya. Rumah yang ia singgahi hanya karena ia rindu keluarganya. Selebihnya ia tinggal di apartemen dengan kehidupan hedonisnya.
Agaknya sekarang dia akan lebih sering pulang kerumah. Karena tetangga yang tidak dia duga.
__ADS_1
"Eh... jadi yang semalem main gitar sambil nyanyi tuh dia..." Gumam si pemuda penguntit.