TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
BBQ Party


__ADS_3

"Bukan aku gak peduli Bang, cuma itu kan privasi Abang. Kalo Abang berkenan kasih tau ke aku, aku sangat berterima kasih. Tapi kalo abang gak kasih tau ke aku, aku juga gapapa sih bang. Toh kita kan ga dalam suatu ikatan apapun." Terang Mentari setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Jadi kalo kita punya hubungan, kamu mau tau apa aja yang aku lakuin dan dengan siapa aku berhubungan?" Tanya Dave sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Entahlah, Abang tahu kan aku amnesia. Aku bahkan tak dapat mengingat diriku sendiri, kembaranku, kalian semua." Mentari menelungkupkan wajahnya ke meja makan. Sepertinya ia pun frustasi dengan keadaannya yang tidak dapat mengingat apapun dari masa lalunya.


Dave beranjak dari tempat duduknya, dia berpindah duduk disamping Mentari.


"Jangan sedih sayang, ada Abang yang akan selalu disamping Mentari mulai saat ini. Mentari tinggal bilang apa mau Mentari ke abang. Hmmmm...." Ucap Dave sambil menghadapkan wajah sayu Mentari yang sedari tadi ia sembunyikan. Dave menyandarkan kepala Mentari di bahunya, dan mengusap lembut surai hitam Mentari.


"Kamu masih mau makan? Tambah dessert? atau minum?" Dave menawari Mentari makanan tambahan untuk meredakan sedihnya. Namun Mentari menggeleng. Dave kembali menyentuh pipi Mentari perlahan, kemudian mendaratkan bibirnya di kening Mentari.


"Tar cewek Abang tadi marah ke Mentari lagi!" Gerutu Mentari.


"Hubungan kami memang sudah benar benar berakhir kok." Jelas Dave lagi.


"Benarkah? Bukan karena Mentari kan?" Ucap Mentari memastikan sambil menatap wajah Dave lekat lekat. Dave mengangguk sambil tersenyum melihat mata Mentari yang tampak berbinar.


Dave mencium bibir Mentari sekilas lalu berpindah mengecup kening Mentari kemudian ia pun memeluk Mentari.


"Mentari bersedia jadi kekasih Abang?" Bisik Dave perlahan tepat di telinga Mentari.


Mentari melepaskan diri dari pelukan Dave dan menatapnya lekat - lekat, ia ingin, tapi di satu sisi ia juga ragu.

__ADS_1


"Gimana? Mentari mau kan..." Ucap Dave lagi.


"Mentari kan amnesia Bang, Mentari takut nanti Abang kerepotan gara - gara Mentari. Kita jalanin aja dulu ya Bang." Mentari memundurkan posisi duduknya, namun Dave kembali menarik tubuh Mentari ke pelukannya.


"Gapapa sayang, Abang bakal dampingi kamu, temenin kamu." Dave kembali mendaratkan kecupannya di kening Mentari. Hari ini entah berapa kali Dave mendaratkan kecupannya di kening Mentari.


"Yuk pulang, atau kamu mampir kemana lagi?" Dave mengajak pulang, namun dirinya masih memeluk Mentari.


"Abang tahu dimana makam Mas Surya?" Mentari mengalihkan pandangannya menatap ke arah Dave. Dave mengangguk.


"Kamu mau mampir kesana?" Tanya Dave memastikan, dan diangguki oleh Mentari.


"Oke! Yuk kita beli bunga, terus mampir ke makam sebelum pulang ke rumah." Ajak Dave sambil beranjak dari tempat duduknya dan meyodorkan tangannya. Mentari meraih tangan Dave dan Mereka pergi meninggalkan Mall menuju ke Makam Surya.


Sebelum sampai di Makam mereka berhenti di toko bunga tak jauh dari pemakaman yang mereka tuju. Mereka memberi bunya tabur, minyak mawar, dan bucket kecil. Setelahnya menyelesaikan transaksi, mereka segera menuju makam.


"Kamu kenapa sayang?" Ucap Dave sambil mengusap rambut Mentari.


"Meski aku gak inget mas Surya kaya apa, tapi kok ada rasa sakit disini. Rasanaya kaya kecubit hatinya." Mentari menghadap ke arah Dave dan menunjuk ke dadanya yang mendadak terasa sangat sakit.


"Abang tahu kamu pasti sangat gemas karena tak mampu mengingat apapun tentang Surya. Tapi yang Abang tahu, kalian sangat saling menjaga dan menyayangi. Abi kan selalu ada diantara kalian dulu, nanti Abang tanya ke Abi biasanya kalian ngapain." Dave mencoba menenangkan Mentari.


Mentari kembali menatap pusara Surya dihadapannya. Terakhir sebelum meningglkan pusara Surya, Mentari meletakkan bucket bunga yang sedari tadi ia peluk. Mentari mngusap dan mencium nisan Surya dan beranjak pergi bersama Dave.

__ADS_1


Dave berjalan beriringan dengan Mentari, mencoba menyamakan langkah dengan Mentari yang berjalan lebih lambat. Meraih tangan dan meletakkan tangannya melingkar di bahu Mentari. Mencoba memberikan Mentari kenyamanan dan ketenangan.


Mentari sudah duduk di samping kursi kemudi, kini tiggal menunggu Dave masuk ke balik kemudi. Baru saja Dave masuk ke dalam mobil, air mata Mentari jatuh tak terbendung lagi. Hening sejenak, Dave sengaja memberi ruang agar Mentari menata emosinya terlebih dahulu.


"Kamu kenapa sayang?" Dave membelai dan memeluk tubuh Mentari, menghujani mentari dengan ciuman di wajahnya setelah tangisan Mentari sedikit mereda.


"Enggak tahu kak, mendadak hatiku terasa sangat sakit, dan air mata Mentari mendadak ngalir." Papar Mentari.


"Abang bisa mengerti sayang." Dave menangkupkan tangannya di wajah Mentari.


"Sekarang kamu udah baikan sayang? Kita bisa pulang sekarang? Atau Mentari mau mampir beli es krim dulu?" Dave berkomunikasi dengan sangat hati - hati, sambil menyisipkan anak rambut yang terurai ke belakang telinga Mentari.


"Pulang aja Bang, Mentari mau istirahat." Ucap Mentari yang diangguki oleh Dave. Dave mengecup bibir Mentari dengan kilat, dan kembali menhadap ke kemudinya. Kemudian Dave memacu mobilnya kelaur dari area pemakaman dan langsung menuju ke rumah mereka yang jaraknya tak jauh pemakaman.


Saat sampai di rumah, disana sudah ada Cassandra dan Haifa yang datang berkunjung. Tak ketinggalan Abi juga berada di sana. Dengan baki yang berisi makanan ringan dan jus jeruk berada di tangan, nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah ketika Mentari tak ada, maka Abi bisa menggantikan Mentari sebagai tuan rumah.


Sejauh ini hanya itu yang bisa disimpulkan oleh Mentari yang amnesia tentang persahabatan diantara keduanya. Mentari menghampiri ketiga sahabatnya itu di gazebo halaman depan, tempat dimana mereka biasa melakukan pesta BBQ.


"Ecieeee... ada yang baru beli hp baru nih..." Gurau Cassandra sambil memainkan sikunya disamping Haifa.


"Iya nih... jalan - jalan kemana say?" Tanya Haifa, tak terpancing oleh Cassandra. Cassndra yang merasa dirinya dicueki pun akhirnya menyerah. Dengan ekspresi manyun ia menirukan ucapan Haifa.


"Cuma beli hp, makan siang, terus mampir ke makam mas Surya." Jujur Mentari. Haifa dan Cassandra menepuk tepuk ruang kosong yang sengaja mereka sediakan diantara duduk mereka.

__ADS_1


"Mari kita unboxing!!" Seru Cassandra yang langsung menyambar Tas jinjing yang Mentari bawa. Mentari hanya pasrah dengan kelkua bar bar sahabatnya itu, sedangkan Dave berdiri bersebelahan dengan Abi sang adik hanya bisa menepuk kening mereka sambil bergeleng - geleng.


Saat para gadis sedang seru unboxing belanjaan Mentari, Dave dan Abi saling berbisik merencakana BBQ parti dadakan disana. Dave meminta Abi menghubungi ART dirumah mereka untuk membawakan bahan - bahan BBQ.


__ADS_2