
Ryando adalah sahabat Dave. Yang Dave tahu, Ryando di besarkan dan dibiayai pendidikannya oleh seorang dermawan, sehingga dia merasa berhutang budi pada orang itu dan keluarganya. Hingga saat ini Dave dan Ryando masih saling berhubungan. Baik secara personal maupun partnership.
Saat ini keduanya tengah berada di salah satu coffee shop milik Jo, di sebuah ruangan khusus namun tetap memiliki akses melihat ke luar cafe. Keduanya membicarakan kerjasama yang akan mereka mulai pada pertengahan tahun ini.
Ketika keduanya tengah asik membahas sebuah dokumen, mata Dave menangkap sosok wanita yang ia kenal turun memarkirkan motornya tepat di hadapannya yang hanya dibatasi kaca tebal. Wanita itu memarkirkan motornya dengan seksama, membuka helm full face nya, sarung tangannya, dan mengikat surai hitamnya yang tergerai kemudian menghilang dari pandangan.
Sepertinya wanita itu masuk ke dalam cafe.
"Sebentar, gue ke kamar mandi dulu." Pamit Dave mencari alasan.
Dave keluar dari ruangan khusus meeting tersebut, dan benar saja, ia menemukan sosok wanita yang membuatnya tak bisa tidur semalam sedang berbincang akrab dengan beberapa pegawai cafe. Mereka terlihat sangat akrab.
"Hei." Sapa Dave sambil menepuk bahu Mentari.
Mentari menoleh dan menebar senyum pada sosok yang menyapanya.
"Bang Dave? Lagi disini?" Tanya Mentari kaget, ternyata sosok yang menepuk bahunya adalah Dave.
"Lagi meeting di dalem." Jawab Dave sambil menunjuk ruang di dekatnya dengan menggunakan ibu jarinya.
"Oh..." Ucap Mentari.
"Selamat bekerja Bang." Ucap Mentari menyemangati.
"Kamu sendiri ngapain disini? Kamu mau ngafe - ngafe cantik?" Tanya Dave.
"Iya, ngafe sambil periksa laporan cafe." Jawab Mentari sambil mengangkat kertas - kertas di tangan kanannya.
"Yuk bang, aku mau periksa stok dibelakang dulu." Ucap Mentari sambil beranjak dari tempat ia berdiri saat ini dan diikuti beberapa pegawai cafe.
Sepeninggal Mentari, Dave kembali ke dalam ruang meeting. Disana masih ada Ryando yang sedang menikmati kopinya.
"Udah?" Tanya Ryando pada Dave yang datang dengan wajah bingung.
" Lo napa deh? Masuk - masuk kusut gitu." Tanya Ryando penasaran.
"Lo kena sawan?" Tambahnya.
"Sembarangan!" Dengus Dave kesal.
"Akhir - akhir ini gue ngerasa ada yang menggelitik di perut sampe perut gue tiap ketemu cewek." Ungkap Dave.
"Kayaknya Lo lagi kasmaran deh. Kaya anak ABG aja." Ucap Dave sambil mengulum senyumnya.
__ADS_1
"Iyakah?" Tanya Dave.
"Gue pernah jatuh cinta, tapi belum pernah sampe se-menggelitik begini. Tiap kebayang senyumnya aja, udah kaya ringan banget jiwa gue, kaya ada kupu - kupu yang terbang di dalem perut gue." Ungkap Dave lagi.
"Apalagi kaya barusan nih, gue ketemu ama dia." Tambahnya.
"Seriusan? Cewe yang bikin lo begini lagi ada di sini?" Tanya Ryando heboh.
"Yuk, gue mau liat." Ajak Ryando sambil bergegas berdiri dan menggandeng Dave.
"Ish! Apaan sih lo. Tar kapan - kapan gue kenalin ke lo." Ucap Dave.
Ryando kembali duduk di kursinya. Dia masih mengamati sahabatnya yang sedang dimabuk asmara. Mereka tampak seperti eksekutif muda yang cool, tapi sebenarnya mereka hanyalah pemuda biasa yang sudah matang secara finansial, perilaku mereka saat bersama tetap sama seperti anak muda lainnya.
Dave menyesap kopinya untuk yang kesekian kalinya. Dipandanginya kuda besi tunggangan pemilik hatinya diluar kaca pembatas.
"Itu, motor tunggangan cewek yang gue ceritain." Ucap Dave sambil menunjuk pada BMW 1200 Gs di hadapannya.
"What?" Ucap Ryando.
"Kali ini selera lo berubah?" Tanya Ryando.
"Enggak juga. Kita liat nanti ya..." Jawab Dave.
Ryando menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya yang mendadak seperti Abg labil.
"Dah mau pulang Tari?" Tanya Dave saat melihat Mentari di depan pintu.
"Eh bang, dah mau balik? Mentari masih ada urusan, Abang mau mampir?" Ucap Mentari sambil menunjuk ke ruangan di sebelahnya.
"Ganggu gak?" Ucap Dave.
"Enggak kok. Udah selese juga. Silakan masuk." Jawab Mentari sambil membuka pintu dan mempersilahkan Dave dan Ryando masuk.
"Silakan duduk." Mentari menawari mereka duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.
"Jadi bunda ikutan buka coffee shop juga?" Ucap Dave sambil memindai seisi ruangan yang di salah satu dindingnya terpampang foto Mentari dengan seorang Pria sedang berpelukan mesra.
"Itu pasti Jo." Guma Dave sambil memandangi foto tersebut dari tempat ia duduk.
"Bukan, ini coffee shop milik Jo. Mommy Jo meminta Bunda untuk meneruskan usahanya ini, kalo harus ditutup, kasian pegawai disini dan 4 cabang yang lain." Papar Mentari sambil mengemas tasnya.
"Ohh... Jadi kamu yang kelola cafe ini?" Tanya Dave.
__ADS_1
"Ya... untuk sementara." Jawab Mentari sambil berjalan ke arah sofa tempat Dave dan Ryando duduk.
"Mau ngopi lagi? Kalian pasti belum makan siang kan? Mau cobain lasagna cafe ini ga?" Mentari menawarkan.
"Kita coba lain kali. Sekarang kita makan di luar gimana?" Ajak Ryando.
Dave menoleh ke arah Mentari, mencoba mencari jawaban.
"Oke." Jawab Mentari.
"Yuk. Kalian duluan. Tari bawa motor." Ucap Mentari.
"Motornya ditinggal sini aja dulu bareng mobil Dave. Kita berangkat bertiga naik mobil gue aj. Tar gue anter kalian kesini lagi sekalian jalan pulang." Ajak Ryando.
"Gimana?" Sambung Dave.
"Bolehlah." Jawab Mentari.
"Okey yuk." Ajak Ryando.
"Baiklah." Jawab Dave.
"Bentar, gue titipin dulu ke anak - anak di luar." Ucap Mentari.
Mentari menghampiri Jeje, salah satu pegawai cafe.
"Je, gue nitip motor gue sama mobil sedan item di depan sana ya.. tar gue balik lagi buat ambil mobil. Kalo jam 8 nanti gue belum ambil motor, Lo bawa aja pulang motor gue." Ucap Mentari pada Jeje.
"Bu bos mau kemana?" Tanya Ibra.
"Gue mau makan ama Abang gue bentar. Mumpung dia lagi pulang. Gue nitip ya." Jawab Mentari.
"Oke." Jawab Jeje.
"Tar Jeje bawa pulang rumah bu bos atau rumah Jeje?" Tanya Ibra lagi.
"Rumah Jeje atau Ibra terserah aja." Ucap Mentari sambil menyerahkan kunci motornya.
"Udah ya... gue nitip." Ucap Mentari sambil berlalu dari counter.
"Siap bos." Ucap Jeje dan Ibra bersamaan sambil tangan mereka menghormat.
"Ati - ati bos." Ucap Ibra sambil berteriak.
__ADS_1
Mentari melambaikan tangan tanpa berbalik badan.
Diluar para pria sedang menunggu Mentari didepan mobil sedan Hitam milik Ryando. Entah kenapa mereka suka sekali warna hitam. Ketika sampai di dekat mobil, Dave membukakan pintu mobil untuk Mentari, sebelum dirinya masuk ke kursi samping kemudi. Mereka berkendara ke suatu tempat untuk mengisi perut mereka siang ini.