
Mentari masih berada di IGD untuk melakukan serangkaian pemeriksaan. Pasalnya, ia kehilangan banyak darah dan belum juga siluman dalam waktu yang cukup lama.
Bunda terus menangis sambil menguatkan diri di ruang tunggu Rumah Sakit. Mulutnya merapalkan doa untuk kesembuhan di buah hati. Kecemasan pun merundung Dave yang berada tak jauh dari Bunda dan Ayah Mentari. Ia terus menggigit buku - buku jari tangannya, kebiasaan yang Dave lakukan kala mengalami kecemasan.
Mentari baru akan dipindahkan ke ruang rawat inap bila dia sudah siuman. Namun, ini. sudah lewat tengah hari dan Mentari belum juga siuman. Ayah sudah memeriksa CCTV yang terletak di balkon kamar Mentari, sehingga mereka tahu kejadian dan waktu kejadian kecelakaan tersebut. Mentari mengalami pendarahan di kepalanya selama 3 jam tanpa ada pertolongan, dan ini bisa sangat fatal.
Keadaan Dave tidak jauh lebih kacau, kemeja birunya berlumuran darah, dan rut kecemasan yang tergambar sangat jelas di wajahnya. Dia yang seharusnya menjemput orangtuanya bersama Abi, kini enggan beranjak dari kursi tunggu di depan IGD. Dia terus menggigit buku - buku jarinya hingga beberapa buku jarinya mulai mengeluarkan darah.
Ponsel yang terus berdering pun ia hiraukan. Pandangannya sesekali tertuju pada bankar pasien dimana Mentari dirawat.
Sementara itu, Abi kebingungan mencari sosok kakaknya yang sejak pagi belum juga terlihat. Mobilnya sudah tidak ada di halaman, dan ponselnya pun tak bisa dihubungi.
"Pak, kalo abang balik, biang gue udah berangkat jemput mami." Pesan Abi ke Satpam rumahnya.
"Lho mas, Abang tadi pagi pergi buru - buru ngejar Ambulance dari rumah Mbak Tari." Ucap Pak Satpam.
__ADS_1
"Ambulance? Dari rumah Tari?" Abi mengulangi.
"Iya mas." Tukas Pak Satpam.
Abi melirik ke jam tangannya. Kemudian, dia mengarahkan mobilnya ke rumah Tari. Sesampainya di rumah Mentari, Abi melihat beberapa ART sedang menangis di dapur. Abi yang melihat kejanggalan di rumah Mentari segera menghampiri para ART.
"Kalian kenapa?" Tanya Abi.
"Non Tari mas..." Jawab Mbok Minah.
"Non Tari kecelakaan, kami telat nolong non Tari... Non Tari berdarah banyak banget..." Papar Mbok Minak sambil terisak.
"Jadi... begitu... Abang ngilang sampe gak bisa dihubungi. Yaudah, sekarang jemput mami dulu baru ke Rumah Sakit." Gumam Abi.
Setelah mendapatkan keterangan perihal Ambulance yang diceritakan Pak Satpam tadi, Abi kembali melajukan mobilnya ke bandara untuk menjemput mami dan papi nya. Beruntunglah pesawatnya mengalami keterlambatan sehingga ia tidak terlambat sampai di bandara. Abi terus mencoba menghubungi ponsel Dave, namun lagi - lagi tak ada jawaban dari si empunya.
__ADS_1
Hal ini semakin membuat Abi frustasi. Abi memutuskan untuk menghubungi Haifa dan mencari tahu kondisi Mentari saat ini. Mendengar kabar tentang Mentari, Haifa segera meluncur menuju Rumah Sakit tempat Mentari dirawat.
Sesampainya di Rumah Sakit, Haifa disuguhkan pemandangan penuh kedukaan. Dave yang bajunya berlumur darah, dan Bunda Mentari yang terus menangis di pelukan suaminya. Haifa memberanikan diri melakukan komunikasi dengan Dave.
"Bang, Mentari kenapa?" Tanya Haifa perlahan membuka pembicaraan.
"Mentari kecelakaan di balkon kamarnya, dia terjatuh dan kepalanya terantuk pembatas balkon sampai pendarahan, namun yang lebih parah, dia baru mendapat pertolongan setelah 3 jam kemudian." Papar Jo dengan suara parau.
"Innalillahi... kok bisa? Terus kondisi Mentari sekarang gimana bang?" Tanya Haifa tak kalah kaget dan suaranya mulai parau menahan tangisnya.
"Belum ada perkembangan, Mentari masih belum siuman sejak tadi." Ucap Dave pelan.
Haifa melemas mendengar kondisi sahabatnya saat ini. Mentari yang selalu ceria bertubi - tubi tertimpa duka. Baru saja ia mendapatkan semangatnya kembali, namun kini dia kembali tumbang. Kasian sekali Mentari.
Setelah mengetahui kondisi Mentari, Haifa melaporkannya pada Abi. Abi melemas mendengar kabar dari Haifa, padahal sebentar lagi mami dan papinya landing. Ia harus bisa mengatur ekspresi.
__ADS_1