
Sebulan sudah Jo berada di Paris, kerinduan mereka terobati hanya sebatas video call. Minggu ini Jo berencana memberi kejutan lada Mentari. Ia akan pulang tanpa memberitahu kepada siapa pun atas kepulangannya.
Jo tak membawa semua barangnya, dia hanya membawa barang yang akan ia berikan pada Mentari, selebihnya ia kirim lewat jasa ekspedisi.
"Tunggu aku sayang, aku akan segera menemuimu." Gumam Jo dengan penuh kerinduan.
Jo terbang menggunakan penerbangan paling awal di hari ini. Ia ingin segera menemui pujaan hatinya. Dia membayangkan bagaimana reaksi Mentari saat tiba - tiba ia datang.
Jo POV
"My Sunshine..." Sambil membawa buket bunga menghampiri perlahan."
"Sayaaaaaangggg...." Mentari berteriak kegirangan sambil berlari dan berhambur ke pelukan Jo.
Mentari mencium Jo penuh kerinduan ciuman hangat dan lembut. Mereka saling mencecap sangat lama... Meluapkan kerinduan yang sudang menggunung. Menghirup dalam - dalam aroma tubuh yang ia rindukan. Hingga kerinduannya terbayar lunas dengan jejak yang membekas.
POV End
Jo terperangah, dia merasakan tangannya jatuh ke bidang hampa. Ternyata dia barusan hanya mimpi. Pelepasan yang panas saat mereka bertemu tenyata belum menjadi nyata.
"S***t ternyata cuma mimpi." Umpatnya, sambil menahan nyeri pada jagoannya.
Jo melihat ke arah smartwatch nya, masih 8 jam perjalanan. Jo memukul geram sandaran tangan di kursinya. Sepertinya Jo sudah tidak sabar. Ingin segera menyelesaikan 17 jam perjalanan.
Sementara Mentari, Abi dan Haifa sedang melakukan pemeriksaan logistik di cafe milik Jo di dampingi Sofia dan Sandi. Sandi diberikan kepercayaan sebagai pengganti Jo selama ia berada di Paris. Sandi yang melaporkan segala sesuatunya di bantu oleh Sofia. Sedangkan di cafe yang lain ada Jerry, Lili dan Januar.
"Mbak, beberapa kali aku mergoki Karina memperhatikan Mbak Mentari diam - diam." Papar Sandi saat mereka berada di ruangan Jo untuk menyampaikan laporan.
"Bahkan dia sampe lupa kerjaan." Sambung Sandi.
"Wajar dong, Mentari kan perfect lady, jadi dia pasti penasaran dan mengagumi Mentari." Ucap Haifa sambil menoel dagu Mentari.
"Tapi mbak, kalo mengagumi ga bakal sampe mukul tembok dong reaksinya." Tambah Sofia yang di angguki oleh Sandi.
Mentari, Abi dan Haifa saling menukar pandang.
"Udah lah, itu nanti dibahasnya, sekarang kita bahas cafe aja dulu. Makasih informasinya ya Sandi, Sofia." Ucap Mentari menanggapi dengan elegan dan profesional.
Satu jam berlalu, setelah laporan dan mengobrol panjang dikali lebar mereka keluar dari ruangan Jo. Mereka berpapasan dengan Karina yang tidak jauh dari pintu. Mereka berlima saling menukar pandang melihat gelagat dari Karina.
"Kayaknya yang diomongin mereka bener." Ucap Abi lirih. Haifa dan Mentari mengangguk setuju.
__ADS_1
Saat mereka hendak keluar cafe rupanya ada Noni dan Mike di salah satu meja. Mike melambai ke arah Mentari. Mentari dan yang lain menghampiri meja Mike. Mentari memeriksa smartwatch nya yang sampe siang menjelang sore belum ada notifikasi pesan maupun panggilan dari Jo. Setelah memeriksa smartwatch nya ia beralih memeriksa ponselnya. Wajahnya agak muram karena seharian belum ad kabar dari Jo.
Jo yang selalu mengirim lesan lebih dulu setiap pagi, setiap 30 menit sekali setiap harinya. Tapi hari ini sama sekali belum ada pesan maupun kabar dari Jo.
Mentari mencoba untuk baik - baik saja. Namun hatinya terlalu khawatir. Ia mulai cemas. Ia berharap pujaan hatinya baik - baik saja. Ia tak mau berspekulasi, dia hanya selalu mendoakan Jo baik - baik saja.
Mentari : Hai...
Mentari mencoba mengirimi pesan lebih dulu. Ia takut Jo ngambek karena selama ini selalu dia yang mengirim pesan lebih dulu.
Lima menit berlalu belum dibalas.
Sepuluh menit belum juga di balas.
Lima belas menit belum dibalas.
Dua puluh menit belum dibalas.
"Napa say, Lo dari tadi gelisah aja liat smartwatch ama ponsel lo?" Tanya Noni.
"Lo lagi berantem ama Jo?" Tambahnya lagi, Mentari menggeleng lemah.
"Trus?" Tanya Noni penasaran.
"Xixixixixixi." Mike terkikik.
"Lo kenape Mike?" Tanya Noni curiga.
"Biasanya, itu tanda - tandanya dia lagi sibuk. Mungkin dia udah nemuin mainan baru." Jawab Mike asal. Yang dihadiahi Cubitan mandjah dari Noni dan umpatan darinya.
"Adududududududu. Sakit tau!" Mike mencebik kesakitan pinggangnya dicubit oleh Noni.
"Mulut Lo tuh lemes banget." Geram Abi.
Mike mengangkat bahunya.
"Itu sih Lo!" Ucap Noni berang.
Mentari POV
Kamu dimana kak? Kamu marah sama aku? Sebenernya kamu kenal sih kak? Kenapa gag ada kabar sama sekali? Kakak udah bosen sama aku?
__ADS_1
POV End
"Hari ini kak Jo kirim pesan gak sama kian." Tanya Mentari ragu. Mentari Menatap ke Abi, Noni, dan Mike satu per satu.
"Belum ada kabar dari Kak Jo sedari pagi." Ungkap Mentari lesu.
"Kak Jo kemana si?" Rengek Mentari sedih.
"Lo udah coba hubungi kak Jo duluan?" Tanya Abi. Mentari mengangguk.
"Telepon?" Sambung Abi lagi.
Mentari menggeleng.
"Coba Lo telpon dia." Ucap Abi.
Tu.....t tu...t tu...t tu...t
"Ga nyambung. gak aktif." Ucap Mentari lemas. Ia tak tahu harus menghubungi siapa untuk menanyakan kabar Jo.
"Kak Mike, kak Jo hari ini udah ngabarin belum?" Tanya Mentari. Mike menggeleng.
Mentari mulai putus asa. Ia menahan agar air matanya tak jatuh. Ia mencoba sebaik mungkin.
"Yuk pulang." Ajak Mentari pada Abi. Abi mengikuti permintaan Mentari. Mereka meninggalkan cafe dengan perasaan tak menentu.
Mike mengantarkan Noni sedangkan Mentari dan Haifa bersama Abi.
"Gue temenin Lo ya..." Ucap Haifa sambil membelai Surai hitam Mentari. Mentari menggeleng.
"Kak, kerumah aku dulu ya... aku mau pamit ke umi sambil ambil baju." Sambung Haifa lagi. Abi mengangguk mengamati Mentari dari spion tengah.
Kini Mentari tengah meringkuk di kursi penumpang ditemani Haifa. Haifa mencoba menenangkan Mentari yang sedang resah tentang keberadaan Jo.
Hingga pukul 5 sore, belum juga ada kabar dari Jo. Mentari makin sedih, berkali - kali bunda mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada respon. Mentari masih meringkuk di tempat tidurnya, belum beranjak sama sekali sejak mereka sampai di rumah Mentari.
"Sayang... aku turun dulu...." Panggil bunda. Namun tetap belum ada respon dari Mentari.
Mentari POV
Mentari terlelap dengan kegelisahannya, dilihatnya dalan mimpi dia berada di atas tebing dengan laut berada tepat dibawahnya. Ia sendirian di atas tebing itu, sambil menangis. Dia merasakan kehampaan yang sangat memilukan saat melihat jauh ke bawahnya. Ombak yang menerpa bebatuan, menimbulkan buih yang tak segan menyentuh kulit wajah Mentari.
__ADS_1
POV End.
Mentari tergagap, badanya terhenyak seperti jatuh ke ruang hampa. Dia mengerjap ternyata dia masih di rumahnya. Hanya saja Kehampaan di hatinya belum reda. Dia mencoba melihat ponsel, masih sama, belum ada kabar dari Jo. Jo... kamu dimana...