TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Mentariku


__ADS_3

Mentari sedang berada di kamarnya saat ini. Menggulung diri dalam selimutnya. Merutuki hal yang baru saja ia lakukan. Bagaimana dia lepas kendali menjadi begitu liar. Hasratnya terprovokasi hanya dengan secuil stimulus.


"Padahal kita ga skinship!!" Gumamnya sambil mengubah posisi menjadi duduk dalam gulungan selimut.


"Pas dia kecup bibir juga ga gemeteran." Tambahnya lagi sambil menelengkan kepalanya.


"Tapi kenapa pas dia peluk dan nempelin wajahnya gue ngerasa geli geli kesetrum ya?" Gumamnya lagi sambil meraba tubuh bagian bawahnya.


Mentari terus berpikir keras mengenai hal yang baru saja dia dapati. Sensasi yang baru dia rasakan. Kegelian yang terus menggelitik saat dibayangkan. Dia juga merutuki keliaran nya. Keberaniannya mencium bibir Jo lebih dulu, membuatnya takut kalau nanti membuat Jo jadi ill feel.


Mentari menggapai ponselnya di atas nakas. Mencari sebuah nama dan menuliskan pesan text.


"Maafin keliaranku tadi kak."


Pesan terkirim dan segera menjadi centang biru.


"Maafin kakak juga. Lain kali kamu harus bisa menahan diri. Kakak juga ga bakal bisa nahan lagi."


Setelah selesai membalas pesan text Mentari. Jo mematikan ponselnya. Memeluk kembali wanita yang ada di sisinya. Dihantui rasa bersalah, Jo melampiaskan hasrat yang ia tahan sejak bersama Mentari tadi ke wanita lain. Jo berada di club malam disebuah hotel mewah bersama teman teman elite nya. Meski di apartemen Jo memiliki fasilitas night club, namun dia tidak pernah melakukan transaksi disana dan membawa wanita ke apartemennya. Prinsip Jo adalah, Jika dia membawa pulang seorang wanita, maka wanita itu adalah bagian penting dari hidupnya.


Jo memasukkan ponselnya ke dalam sakunya ketika seorang wanita malam mendudukkan badannya di hadapan Jo. Tanpa ragu Jo menyambut pelukan dan rangsangan dari wanita itu. Hasrat sedari tadi ia tahan harus dia lepaskan. Wanita itu terus bergelayut dihadapan Jo. ******* bibir Jo dengan rakus. Bajunya yang minim bahan hampir mengekspos semua bagian dadanya. Wanita itu menggoda Jo dengan tubuhnya, dan tentu saja Jo menyambutnya.


"Hei kuda liar. Balik gih ke kamar. Loe mau lakuin disini bareng kita?" Ucap salah satu teman Jo yang mulai kepanasan juga.


Jo hanya menganggukkan kepalanya karena saat ini mulutnya dilumat habis oleh si wanita. Jo tidak berniat memuaskan, dia hanya ingin dipuaskan. Wanita itu telah menurunkan posisi celana dan membuka baju yang Jo kenakan. Tiba - tida dia melihat wajah Mentari dihadapannya.


"Damn!! Sunshine." Gumam Jo. Segara dia menurunkan tubuh si wanita dan beranjak keluar. Menuju ke mobilnya dan melajukan mobilnya tanpa tujuan. Dia menepikan mobilnya tepat di samping sebuah lapangan kosong. Dipijitnya power window button dan sekarang dia dapat merasakan udara segar dini hari. Udara segar serta angin yang berhembus ringan menjernihkan pikirannya.


"Mungkin sekarang aku harus bisa mengendalikannya. Untuk Mentariku." Gumam Jo.


Jo kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah. Karena besok dia harus pergi ke kampus bersama gadisnya, dia lebih baik pulang ke rumah daripada apartemennya.


Matahari mulai merayap naik. Mentari telah bersiap untuk berangkat ke kampusnya, namun belum mendengar kabar dari si empunya janji. Mentari enggan menghubungi Jo hanya untuk segera menjemputnya atau menagih janjinya. Sudah setengah jam dia menunggu di gazebo halaman rumah, namun belum juga ada yang datang.


Baru saja Mentari berjalan menuju garasi rumahnya, sebuah mobil memasuki halaman rumah, beserta lambaian tangan.


Jo keluar dari dalam mobilnya dan segera menghampiri Mentari.


"Sorry, I am late." Ucapnya sambil mengamit tubuh Mentari dari samping dan mencium keningnya.

__ADS_1


Sambil mengucapkan salam, Jo masuk kedalam rumah Mentari, mencari keberadaan Bunda.


"Bunda, anak gadis bunda aku yang jemput, Kami pamit ke kampus ya bunda." Ucap Jo sambil menyalami tangan Bunda Mentari.


"Ati - ati ya nak. Di jaga ya anak gadis bunda." Balas Bunda seraya mengelus rambut Jo yang sudah tertata rapi.


"Percayakan pada calon mantu." Ucap Jo dengan ke narsisannya membuat Bunda Kaget dengan apa yang baru saja ia dengar. Jo berlalu sambil mengamit pinggang Mentari. Keduanya menghilang bersama dengan city car milik Jo.


Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi Jo untuk membuka tutup kan pintu untuk Mentari layaknya seorang supir. Namun Mentari belum terbiasa dengan hal ini, dari dulu ia selalu membuka pintu mobil sendiri.


Sesampainya di kampus Jo mengantarkan Mentari sampai ke area fakultasnya. Sontak ini menjadi perhatian para penghuni kampus. Sepanjang perjalanan anak anak lain mengalihkan pandangan pada sejoli ini.


Mentari dengan balutan Dress Putih dengan Bordir bunga di tepiannya dengan paduan crop Cardigan berwarna lavender dan rambut dikucir kuda menciptakan aura sederhana namun cantik.


Sedangkan Jo dengan balutan kaos putih dilapisi kemeja dan rambut depan diikat sebagian ke belakang merupakan style mematikan bagi kaum hawa di kampusnya.


Sesekali terdengar bisik - bisik diantara mereka, namun keduanya tidak peduli. Usai mengantarkan Mentari Jo pergi ke tempat biasa teman - temannya berkumpul. Jo mengirim pesan text pada gadisnya.


"Dear sunshine... Kalo semua mata kuliah dah kelar kabari ya... ❤️❤️" Jo mengirimkan pesan text itu sambil tersenyum kecil.


"Ehem... Ada yang kasmaran sama anak baru nih." Sindir Yoland salah satu teman Jo.


"Gimana kalo kita taruhan." Tambah Yossi.


"Stop. Gue ga mau cewe gue ngira dia jadi bahan taruhan. Oke?" Tandas Jo.


"Yaelah Jo gitu aja Lo pake ngambek. Kaya kaga biasanya aja loe. Biasa Juga Loe ga masalah." Sambung Yossi.


"Kali ini masalah tau ga!! Kali ini gue ga bakal lepasin dia, awas aja kalo elu, elu, dan elu gangguin hubungan gue ama cewe gue kalo ini." Ucap Jo Geram.


"Emang sapa sih cewe dia kali ini?" Tanya Aldi penasaran.


"Lo inget cewe yang naik motor BMW tempo hari?" Kayaknya itu deh. Benerkan Jo?" Jawab Yoland sambil memastikan pada Jo.


"Pasti Noni yang kasih tau nih. Dasar ember bocor tuh anak." Ucap Jo.


"Udah deh pokoknya kapan kapan Lo kenalin ke kita ya... Yuk masuk kelas." Ajak Yossi. Mereka memasuki ruang kelas masing - masing. Pertemanan


mereka berawal sejak masa ospek. Sehingga meski berbeda fakultas mereka bertekad untuk tetap berteman.

__ADS_1


Kelas berakhir, namun ternyata Jo masih ada satu mata kuliah lagi sehingga Mentari memutuskan untuk menunggu di kafetaria. Mentari ditemani Haifa dan Cassandra menikmati makanan ringan. Mentari dengan saladnya, Haifa dengan somaynya dan Sandra dengan baksonya. Mereka berbincang ringan dan tertawa lepas. Noni yang baru saja memasuki area kafetaria, menghampiri Meja tempat Mentari duduk.


"Hai adik - adik cantikku." Sapa Noni.


"Hai kakak cantik." Mereka membalas sapaan bersamaan.


"Boleh gabung? Seneng deh sama grup yang ini. Natural, Ga lebay." Ucap Noni sambil melirikkan matanya pada meja yang tidak jauh dari meja mereka.


"Ah kak Noni bisa aja. Lagian Pa yang harus di lebay kan." Ucap Haifa. Dan ketiganya pun tertawa bersama.


Saking asiknya berbincang, mereka sampai lupa waktu. Padahal makanan yang ada di hadapan mereka pun sudah tandas habis. Sampai mereka tidak menyadari ada sosok yang menghampiri mereka.


"Ehem." Sosok itu berdiri berdehem di tepat di samping Noni. Sontak mereka berempat menoleh ke arah sumber suara.


"Ponsel!" Ucap Jo sambil mengarahkan tangannya pada Mentari. Ketiga gadis yang lain kebingungan dan saling pandang. Mereka bertukar pandang menanyakan situasi yang terjadi sebenarnya.


Mentari memberikan ponselnya pada Jo tanpa berkomentar.


"Pantes aja ga denger, di silent dan mode sibuk." Gerutu Jo sambil memberikan kembali ponsel itu setelah memeriksanya sesaat.


"Maaf aku lupa." Gumam Mentari.


Ketiganya kembali bertukar pandang semakin tak mengerti.


"Yuk pulang." Ajak Jo sambil mengulurkan tangannya.


"Yuk!" Ucap Noni sambil menangkap uluran tangan Jo. Sementara Mentari sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Ih... bukan Lo tupai!" Sergah Jo.


"Enak aja. Gue punya mata dong, ga kaya Yoland yang mau sama tupai." Tambah Jo sambil melepaskan tangan Noni dan berganti menggandeng tangan Mentari.


"Guys, aku duluan ya. Kalo ada apa - apa calling aja. Kak Noni, aku duluan ya..." Pamit Mentari pada teman - temannya.


"Ati - ati di jalan dears." Balas Haifa.


"Awas Kak, nitip Mentari jangan kegores sedikit pun." Timpal Sandra.


"Awas Lo Mentari, tar Lo bunting." Tambah Noni yang Langsung mendapat tatapan tajam dari Jo.

__ADS_1


Haifa dan Sandra terbelalak kaget mendengar ucapan Noni barusan. Noni pun segera beranjak, ia takut akan diinterogasi oleh dua teman Mentari.


__ADS_2