
Sudah 2 Minggu Abi selalu mengikuti pasangan bucin Jo dan Mentari. Jo dibuat risih oleh kehadiran Abi. Tidak biasanya dia selalu mengikuti Mentari. Bahkan saat Mentari menemani Jo di cafenya Abu juga mengikuti mereka. Astaga.
"Kak Abi!!" Ucap Mentari dengan nada agak tinggi.
"Hmmmm..." Sahut Abi.
"Akhir - akhir ini Lo ikutin gue Mulu, kenapa Lo kak?" Cecar Mentari.
"Kalo ada yang Lo butuhin dari gue, ngomong aja kali. Gue kan jadi ga bisa ki..." Sambung Mentari, kalimatnya mengambang takut keceplosan kalo dia kehilangan moment berdua dengan Jo.
"Ki... apaan ki...?"
"Pokoknya gue dirugikan ama Lo kak, gue jadi ga punya moment berdua ama cowok gue." Omel Mentari.
Abi mengalihkan pandangan pada Jo. Jo mengangkat kedua bahunya.
"Lo bener, ada yang gue butuhin dari Lo..." Ucap Abi ragu, Jo memicingkan matanya sambil menatap Abi.
"Apa sih kak... ngomong aja."
"Gue pengen deket sama Haifa, Lo bisa bantu gue?" Cicit Jo, menahan malu.
Sontak Jo dan Mentari menepuk dahi masing - masing. Mereka berdua terbahak mendengar pengakuan Abi. Abi ini kelakuannya masih seperti ABG yang sedang dilanda cinta monyet.
"Lo berapa kali pacaran?" Tanya Jo sambil menahan tawanya.
"Beberapa kali." Jawab Abi singkat.
"Tapi semuanya itu si ceweknya yang ngejar kak Abi. Mungkin baru kali ini dia berdebar ke cewek. Biasanya dia yang dikejar, bukan yang ngejar." Mentari menjelaskan situasinya.
Abi mengangguk - angguk dan mengacungkan dua jempolnya ke arah Mentari.
"Insting Lo emang The best Tariiiiii." Ucap Abi gemas sambil mencubit kedua pipi Mentari.
"Kak .. aku dianiaya..." Rengek Mentari meminta pembelaan dari Jo. Jo dan Abi tertawa puas. Jo membelai wajah Mentari yang pipinya memerah karena ulah Abi.
"Lo tuh ya... Cewek gue nih.. Awas Lo!" Ucap Jo berlagak marah pada Abi padahal dia juga gemas.
__ADS_1
Mereka bertiga membahas mengenai Haifa selama beberapa jam. Nomor ponsel dan biodatanya Mentari paparkan pada Abi. Sepertinya Mentari merestui jika sahabatnya berhubungan dengan teman wanitanya.
Dibelakang cafe selalu ada yang memata - matai kegiatan mereka bertiga melaporkan pada rekan persekongkolan lainnya yakni Clara. sepertinya Karina dan Clara sudah akrab dengan persekongkolan jahat mereka.
Hari ini Abi mulai melancarkan aksinya, aksi perdananya yakni pura - pura tidak sengaja berpapasan dengan Haifa di gerbang kampus. Nyatanya dia sudah menguntit sejak Haifa keluar kelas. Awalnya Abi ingin mengajak Haifa dengan motornya, tapi ia takut baju Haifa terlilit, akhirnya dia memutuskan membawa mobilnya ke kampus agar bisa mengantar Haifa.
Tiiin tiiin...
Abi menepikan mobilnya, mengeluarkan kepalanya ke jendela dan menawari Haifa ikut dengannya.
"Haifa, yuk sekalian!" Ajak Abi.
"Maaf... Aku naik bus aja. Makasih kak." Tolak Haifa sopan. Dan kemudian ia naik ke dalam bus yang kebetulan sudah menunggu penumpang.
Dengan kecewa Abi menyisir rambutnya ke belakang dan memukul kemudinya. Saat melewati cafe milik Jo, Abi melihat mobil Jo sudah ada di halamannya. Itu artinya Jo dan Mentari sudah ada di dalam cafe.
Di dalam cafe Jo dan Mentari sedang berada di dalam ruangan Jo. Mentari mencecap bibir Jo dan **********. Mereka saling berpagut dan ******* mencecap manisnya bibir pasangan mereka. Jo memperdalam ciumannya, menekan tengkuk Mentari dan merapatkan posisi duduk mereka. Jo suka sekali menempatkan Mentari untuk duduk di atasnya.
Tok tok... Tok tok ...
Tiba - tiba pintu ruangan itu diketok, membuat keduanya terpaksa melepaskan pagutan mereka. Jo membuka pintu, sementara Mentari masuk ke dalam kamar mandi.
"Cari sapa lo? Yuk masuk." Jo mengajak Abi masuk ke dalam ruangannya.
"Mentari mana?" Tanya Abi.
"Lo lagi sama cewek lain?" Tuduhnya.
"Apaan si. Jantung gue dari awal cuma berdetak buat Mentari asal Lo tau." Jawab Jo.
"Terus selama 9 tahun ga ada Mentari Lo mati dong." Ejek Abi.
"Hampa, suram, sepi asal Lo tau. Awal gue ketemu Mentari itu las Mentari mau digangguin gerombolan cewek angkatan Lo, terus pas pulang kerumah gue liat cewek main alat musik di balkon rumah. Liat dari jauh aja jantung gue mau lompat, sampe sesek napas." Papar Jo.
"Terus gue minta data ke Noni, eh ternyata dia emang Mentari gue yang ilang. Gue pikir gue ga bakal ketemu Mentari lagi. Mungkin ini takdir, ingetan gue balik beberapa bulan sebelum gue ketemu Mentari lagi." Sambung Jo.
Dari dalam kamar mandi Mentari bisa mendengar cerita Jo. Wajahnya bersemu merah ketika mendengarnya. Dia pun tak menyangka pria itu adalah laki - laki bermata biru yang pernah ia rindukan.
__ADS_1
Dari dalam kamar mandi Mentari berlari ke arah Jo, memeluk Jo yang sedang duduk dari balik punggungnya dan mendaratkan ciuman singkat di bibir Jo.
😱😱😱
"Mentari!" Abi tersentak melihat adegan tadi.
"Lo anggep gue apa? Apa yang Lo lakuin barusan di depan gue?" Gerutu Abi.
"Gue harus laporin ke Bunda kelakuan anak gadisnya yang liar ini!" Ancam Abi.
"Silahkan aja. Kita juga udah siap dinikahin hari ini juga. Ya kan kak?" Ucap Mentari tak takut sambil meminta dukungan ke Jo.
Jo membalas tatapan Mentari dengan belaian di puncak kepala Mentari dan mengecup keningnya.
"Kalian mau bikin Jomblo ini makin merana?" Cicit Jo dengan nada memelas.
Mentari mendekatkan wajahnya ke wajah Jo, menarik tengkuk Jo, dan melirik ke arah Abi. Jo mengecup bibir Mentari sekilas, namun Mentari membalas kecupan Jo dan ******* bibir Jo dihadapan Abi. Jo memberi kode pada Mentari untuk menghentikan aksinya.
Abi POV
Surya... maafin gue ga bisa jagain Mentari. Adik Lo nakal... Adik Lo berani cium cowoknya di depan gue. Tepat di depan mata gue. Maafin gue Surya.
**POV End
Mentari POV
Aduh kak Abi gangguin aja... Biarin aja gue kerjain biar dia tahu rasa. Gue kan pengen berdua sama Kak Jo. Dari kemarin diganggu mulu ama dia. Mau apa lagi coba dia tuh.
Mentari POV End
Jo POV
S***t dia bangun lagi. Mentari sayang Lo ngapain sih... lagi ada orang. Sejak kapan Lo jadi blak blakan gini. Ini gara - gara gue nih. Dia jadi nakal.
Jo POV End**
"Bi, Lo keluar dulu bentar. Gue mau hukum dulu cewek nakal ini." Jo menarik Abi keluar ruangan dan mengunci pintu ruangan.
__ADS_1
Jo menarik Mentari ke pangkuannya, mendudukkan Mentari menghadap dirinya. Berniat memberikan hukuman untuk gadisnya yang mulai berani dan nakal.