TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Min solstrรฅle


__ADS_3

Setelah puas dengan obrolan mereka, segera mereka membubarkan diri kembali ke peraduan masing -masing.


"Kamu balik bareng Kaka aja ya Tar." Ucap Dave sambil berjalan menuju pintu keluar.


"Aku bawa motor ka," jawab Mentari sambil menyodorkan dagunya ke arah BMW 1200 Gs Adv yang terpakir tepat disamping pintu masuk.


Dave membelalak, diikuti Jo dan Noni yang berada dibelakang mereka tidak kalah kagetnya. Perempuan yang mereka pikir anggun, malah berbanding terbalik dengan kesan yang mereka pikirkan.


"Gue kira itu motor Abi, kan tadi Lo yang bawa." Tukas Noni.


"Emang tadi gue yang bawa, tukeran pas dikampus ama ni cewe, ngapa sih kalian heran gitu liat Mentari bawa motor ini." Papar Abi.


"Bikin gue makin suka" Gumam Jo lirih.


Selepas Mentari memacu motornya serta Dave dan Abi pun sudah melaju jauh dengan mobil masing - masing, Jo melempar celemek asal dan segera memacu jauh mobilnya. Jo mengejar motor Mentari yang masih terlihat jauh di depan. Dari arah yang dia lalui, Jo mengenal dengan jelas jalan yang dilaluinya ini. Ini arah kerumahnya tentu saja. Dan benarlah ketika motor Mentari memasuki gerbang rumah tepat disamping rumah Jo.


"Ck...ck...ck..." Jo bergumam sambil tersenyum sembari mengusap kasar rambutnya.


Jo melaju menuju kediamannya tepat disamping rumah Mentari, dan segera naik ke lantai dua dimana ruang keluarganya tepat di depan balkon kamar tidur Mentari. Nampaknya Dewi Cinta sedang berpihak padanya saat ini. Terlihat Mentari yang baru saja keluar dari kamarnya menuju balkon dan duduk di teras balkon. Sambil memainkan ponsel di tangan, dia nampang sedang mengikuti alunan lagu. Jo yang mengamati dari sebrang ikut tersenyum bahagia, seolah ada kupu - kupu yang menggelitik di dadanya.


Jo mengamati interaksi Mentari dari kejauhan, sepertinya dia melihat seorang wanita menghampiri Mentari dengan baki berisi Jus dan camilan di tangannya, Memeluk, Mengecup kening dan Mengusap rambut Mentari. Melihatnya saja Jo sudah bahagia, apalagi dia bisa melakukan hal yang sama pada Melati suatu hari nanti. Jo memanggil ART rumahnya melalui ponselnya, meminta sang ART membawakan kopi dan beberapa camilan ke tempat dia berada saat ini.


Jo keluar menuju balkon teras atas rumahnya. Tepat diseberang balkon teras tempat Mentari berada. Dia duduk di ambang balkon sambil memandang sekitar, memainkan ponselnya, mendial nomor Mentari yang ada di ponselnya. Diseberang sana tampak Mentari melihat ke arah ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. Jo tersipu, hatinya berbunga, panggilannya diterima. Terdengar suara dari seberang ponselnya.


"Halo... dengan siapa?" suara Mentari terdengar sama seperti seolah dia benar benar disampingnya.


"Halo... ini Jo, Coba dong kamu liat ke seberang." Ucap Jo sambil melambaikan tangan.


Mentari mengalihkan pandangannya dari ponsel ke rumah seberang. Matanya membelalak keheranan. Kaget mendapati Jo yang baru saja dia temui ada di balkon teras seberang rumahnya.


"Lagi ngapain Kaka ada disana?" tanya Mentari lewat panggilan telepon.


"Lagi mandangin pemandangan indah, harmonisasi ibu dan anak." Jawab Jo.

__ADS_1


"Setau aku pemilik rumahnya ikut suaminya ke Eropa, Kaka baru pindah kesana?" Kepo Mentari.


"Iya, baru pindah Minggu kemarin, pas ada cewe ujan ujanan di balkon rumah."


"Hah..." Mentari kaget, ternyata ada orang yang mengamati aksinya malam itu. Seketika wajahnya memerah, dan jantungnya berdegup kencang, rasanya sangat amat shock hingga dia reflek mematikan ponselnya dan segera masuk ke kamarnya, meninggalkan ibunya kebingungan.


"Hah!!!" Gumam Jo yang juga kaget dengan reaksi yang diterimanya.


"Bodoh banget sih gue... pake ngomong segala, nanti klo dia ga main ke balkon lagi gimana dong..." Gerutu Jo merutuki perbuatannya sambil mengacak kasar rambutnya, dia takut aksinya itu membuat Mentari mati kutu.


Lama Jo duduk di teras balkon ditemani secangkir kopi dan sepiring kudapan. Namun yang ditunggu tak juga muncul. Beberapa kali Jo memeriksa ponselnya, menimbang apa dia akan menghubungi Mentari lagi atau Mentari yang akan Menghubunginya. Senja berganti malam, yang ditunggu tak jua datang.


Akhirnya Jo memutuskan mengirim pesan singkat melalui aplikasi instan di ponselnya.


"Maafin gue, lo pasti kaget."


"Sorry banget"


"Gue selalu nunggu Lo mampir ke balkon"


Namun, si pembuka tirai justru kesal karena yang di seberang sana malah tidak melihat ke arahnya. Apalagi saat Mentari keluar menuju teras balkon, orang diseberang rumahnya itu justru masuk ke dalam ruangan.


POV MENTARI


"What!!! Dia malah asik main ponsel sendiri. Apa gue keluar aja ya... Eh... eh... hah๐Ÿ˜ฑ... anjay... dia malah masuk rumah...oh gimana sih ...sebel... sebel... sebel..."


**POV END


POV JO**


"ihhh tu dia di jendela, penasaran kan... pura pura ga liat ah... tar kalo dia keluar, gue masuk..."


POV END

__ADS_1


Benar dugaaan Jo, Mentari pasti keluar bertingkah menggemaskan saat Jo malah meninggalkannya masuk ke dalam rumah. Jo tertawa kegirangan melihat aksi Mentari Menghentak hentakkan kakinya di balkon. Dia merasa saat ini Mentari sangat menggemaskan setelah dikerjai olehnya. Jo terpingkal hingga mengeluarkan air mata saking puasnya, dia puas karena ternyata Mentari penasaran, dan dia punya sedikit harapan bahwa mentari memiliki perasaan padanya.


Tiba - tiba ponsel Jo bergetar, terlihat notifikasi pesan dari nomor yang ia tunggu.


"๐Ÿ˜ "


Hanya emoticon ini yang disampaikan dari nomor tersebut, Membuat Jo makin terpingkal. Ia segera membalas dengan emoticon lain.


"๐Ÿ˜"


Lalu Mendapatkan balasan dengan emoticon lain.


"๐Ÿคฌ"


Jo bisa membayangkan reaksi orang diseberang sana. Dengan hati berbunga dan senyum riang dia segera membalas dengan emoticon lainnya.


"๐Ÿ˜˜๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹"


Memencetnya saja sudah membuat Jo terkikik apalagi yang menerima pesan ini.


Diseberang sana Mentari geram, gemas dan murka, namun ketika mendapat balasan emoticon terakhir dari Jo dia langsung awkward... speecless. Mentari tak ambil pusing, dia mengirimkan emoticon lain


"๐Ÿคข๐Ÿคข๐Ÿคข๐Ÿคฎ"


Balasan dari Mentari ini sontak membuat Jo terpingkal hingga terjungkal dari sofa tempat dia tidur sekarang. Jo semakin berniat membuat ulah dengan Mentari saat ini.


"๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹"


"Rasain boom spamnya cantik..." Gumam Jo sambil kembali terkikik.


Setengah jam sudah sejak pesan terakhir dikirimkan, namun belum juga ada balasan. Padahal sudah centang biru. Mungkin dia bingung mau balas apa, pikir Jo. Dan dia terkekeh sendiri dengan perilakunya itu. Belum pernah dalam hidupnya menunggu pesan dan berbalas pesan dalam waktu yang lama. Hanya pesan sangat singkat dengan tanda perintah di setiap pesannya. Namun kini dia berbalas pesan, bahkan menunggu pesan terasa begitu mendebarkan. Terkikik, tersenyum... sepertinya kewarasannya mulai menyusut. Hal - hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya terasa sangat menggelitik. Jo belum pernah mendekati wanita secara intens, hanya para wanita yang selalu posesif mengejarnya, kepada mereka Jo hanya menanggapi sekedarnya, sewajarnya tidak pernah sekalipun meresap sampai ke dalam hatinya hingga membuatnya tersenyum dan terkikik seperti saat ini.


Jo terbangun dari lamunannya, melihat belum juga ada balasan. Jo kembali menuliskan pesan pada Mentari.

__ADS_1


"god natt och drรถm sรถtt mitt solsken"


__ADS_2