
Mentari enggan beranjak dari duduknya meski matahari tak lagi menemani. Hanya ada Bintang senja yang mulai memancar menunggu datangnya sang rembulan.
"Pindah yuk, yang lain dah nunggu buat mulai makan malam." Ajak Dave. Namun tak ada respon dari Mentari, kepalanya masih menunduk disembunyikan diantara kakinya.
"Mentari" Dave mencoba memastikan untuk mendapatkan respon. Dave segera merengkuh tubuh Mentari dan benar saja, Mentari kembali tak sadarkan diri.
Dave membawa Mentari dalam pelukannya. Teman - teman yang lain segera beranjak dari tempatnya, namun Dave tak ingin merusak liburan mereka.
Dave memberikan kode agar mereka tak usah khawatir, cukup dia saja yang mengurusnya. Dave membawa Mentari ke dalam mobilnya. Dilajukannya mobil itu ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Dave membawa Mentari ke Unit Gawat Darurat dengan menggendongnya. Usai mendapatkan beberapa kali test, Mentari yang belum juga sadar dipindahkan ke ruang inap VVIP. Pasalnya Dave meminta agar Mentari dipindahkan ke ruang perawatan.
-Iced Bro-
Mentari ada di Rumah sakit XYZ lantai 4 Ruang ABCD.
...-Adek Bim-...
^^^Oke tar kita kesana.^^^
Abi dan yang lainnya segera menyusul ke rumah sakit dimana Mentari sekarang terbaring. Benar - benar kacau liburan yang mereka rencanakan. Kondisi Mentari memang belum benar - benar pulih, karena memang belum ditangani oleh dokter secara intensif.
Kini mereka sudah berada di dalam bangsal VVIP yang di dalamnya Mentari sedang terbaring lemah. Hatinya tertekan hingga emosinya tidak stabil dan malah tumbang. Ada banyak hal yang belum Mentari ucapkan mungkin tidak Mentari ucapkan dari dalam hatinya.
Dave menjaga Mentari, memastikan kondisinya setiap saat.
"Bang, ini makan dulu." Ucap Abi sambil menyodorkan makanan siap saji yang dibelinya saat perjalanan menuju Rumah Sakit.
__ADS_1
"Terima kasih." Dave menerima makanan siap saji yang disediakan. adiknya itu.
Saat ini pun Abi heran dengan sikap kakaknya tersebut. Yang dia tahu, kakaknya bukanlah orang yang humble dan peduli pada siapa pun. Bahkan hubungannya dengan para mantan kekasihnya pun terkesan buruk, karena Dave bahkan tak pernah menanyakan kabar terlebih dahulu pada mereka. Dia tak pernah peduli sekalipun kekasihnya dirawat di rumah sakit. Tapi sekarang, Dave mempedulikan Mentari melebihi kapasitasnya.
"Ck." Abi membuyarkan lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya yang tidak sakit sambil beranjak dari sisi Dave.
Hari sudah larut, namun Mentari belum juga sadar. Kelima temannya termasuk Abi sudah terkapar kelelahan di sofa. Hanya Dave yang masih terjaga, menunggu Mentari mendapatkan kesadarannya kembali.
"Bi... Abi..." Panggil Dave sambil menggerakkan sisi tangan Abi.
"Hmmmmm..." Sahut Abi mencoba untuk membuka matanya.
"Kalian pulanglah, Kalian pasti gak nyaman tidur berimpit di sofa. Nanti biar kaka kabari kalian kalo Mentari sudah sadar." Bujuk Dave.
Abi beranjak dari duduknya, mencoba mendapatkan kesadarannya kembali. Kemudian ia beranjak membangunkan teman - temannya satu per satu untuk diajaknya kembali ke rumah. Kali ini Abi memutuskan untuk mengantarkan mereka pulang ke rumah masing - masing.
Dave kembali duduk disamping Mentari, tangannya menggenggam tangan Mentari, sesekali di kecupnya tangan gadis yang terkulai lemah.
"Mentari, segeralah bangun, lekaslah pulih kembali." Gumam Dave sambil terus menggenggam tangan Mentari. Mulutnya terus merapalkan kalimat yang mungkin bisa menuntun Mentari kembali ke alam sadarnya.
Hari menjelang pagi, ketika jari - jari lemah itu bergerak sedikit demi sedikit. Dave merasakan jari - jari yang digenggamnya bergerak.
"Mentari... tari..." Dave memanggil Mentari dengan jarak yang sangat dekat.
"Mentari... bangunlah sayang..." Dave berbisik di telinga Mentari. Sedikit demi sedikit kelopak mata yang terpejam mulai bergerak dan terbuka.
Mentari mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk pada pupilnya. Dave memperhatikan lekat lekat wanita di depannya ini.
__ADS_1
"Mentari, kamu kenal aku?" Tanya Dave saat Mentari berhasil membuka mata.
"Hmmmm... Bang Dave... dimana kita sekarang?" Ucap Mentari perlahan sambil mengamati sekitar.
"Bunda sama ayah mana?" Tanya Mentari lagi.
"Kita di rumah sakit sayang... bunda sama ayah masih di perjalanan. Kamu tenang ya..." Dave mencoba menenangkan Mentari. Dave memencet tombol di dekat head panel agar tenaga medis segera datang untuk melakukan pemeriksaan.
Tak beberapa lama dokter jaga dan beberapa perawat memasuki ruangan untuk memeriksa kondisi Mentari. Setelah serangkaian pemeriksaan dilakukan, para tenaga medis meninggalkan mereka berdua lagi.
Dave kembali duduk di samping Mentari, menggenggam erat tangan gadis di hadapannya. Mentari yang baru saja terbangun, belum sadar sepenuhnya. Pandangannya kosong. Dave menjadi sangat iba melihat kekosongan yang dirasakan gadis dihadapannya ini.
"Mentari, ini masih pagi. Tidur aja lagi. Nanti abang bangunkan kalo bunda dan ayah udah sampe." Ucap Dave sambil membelai surai Hitam legam Mentari.
"Mentari udah ga ngantuk. Mentari mau mandi. Mentari pengen mandi." Ucap Mentari dengan nada datar dan pandangan kosong ke depan.
Nampaknya Mentari ingin mendinginkan isi hati dan kepalanya. Mentari berharap hujan turun dengan lebat dan dia akan mandi hujan. Berharap hujan akan membawa pergi semua beban di kepala dan hatinya.
"Sebentar, aku panggilkan suster buat bantu mandi." Ucap Dave kemudian pergi meninggalkan Mentari.
Saat Dave sudah tidak terlihat bayangannya, Mentari melepas jarum infus dan segera berlari menuju kamar mandi. Mentari membuka kran Shower mandi, membiarkan dirinya berada di bawah guyuran shower.
Dave kembali ke bangsal VVIP Mentari, bersama seorang suster yang diminta untuk membantu Mentari mandi. Namun saat memasuki kamar, ia tak menemukan keberadaan Mentari. Ia yakin betul tadi saat meninggalkan ruangan ini Mentari masih ada di atas tempat tidurnya.
Melihat lampu kamar mandi menyala, membuat Dave sadar kalo wanita yang ia cari sedang berada di dalam kamar mandi tersebut. Dave membuka kamar mandi dan benar saja, dia menemukan Mentari berada di bawah guyuran air bath shower dengan busana masih lengkap. Mentari belum menanggalkan pakaian yang ia kenakan.
Dave segera mencari handuk di lemari dan segera membawa Mentari keluar dari guyuran bath shower. Kemudian Dave mengeringkan tubuh Mentari dengan bantuan Perawat. Usai menggantikan pakaian Mentari, perawat wanita itu pamit dan meninggalkan mereka berdua lagi.
__ADS_1
Kekosongan masih bergelayut di wajah Mentari. Dave mengacak rambutnya frustasi. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Bagaimana ia akan mengembalikan senyum Mentari? Bagaimana Mentari bisa Tersenyum kembali? Harus bagaimana lagi? Dave tak tahu harus minta tolong pada siapa, harus berbuat apa. Yang ia tahu, ia harus tetap mendampingi Mentari dan Menjaganya.