
Jo sedang melakukan panggilan video dengan Mentari, Mike, dan Noni.
"Noni, Lo nginep di rumah Mentari. Gimanapun caranya Lo harus dampingi Mentari, Ok!" Perintah Jo pada Noni.
Noni mengangguk ragu, pasalnya ia takut Bunda Mentari tidak setuju.
"Say, tolong bantu Noni biar bisa nginep dirumah kamu ya..." Pinta Jo pada Mentari.
"Mike, Lo tinggal di rumah gue!" Titah Jo lagi.
"Rumah lo dimana emang? seketan juga rumah gue sama rumah Mentari mah." Sela Mike.
"Aduh... Rumah Gue tepat di samping Mentari." Jo menepuk keningnya, ia lupa bahwa teman - temannya tak tahu rumahnya ada di samping rumah Mentari, bahkan balkon ruang keluarganya berhadapan tepat dengan balkon kamar Mentari.
"What!!!" Keduanya mencebik kaget dan menengok ke arah Mentari. Mentari mengangguk.
"Kalian kenapa kaget gitu? Bahkan Gue bisa liat Mentari ngapain aja di kamarnya dari balkon rumah gue." Jo menyombongkan letak rumahnya.
Mike dan Noni kembali menelanjangi Mentari dengan tatapannya. Ternyata mereka sebelahan.
"Pantes aja Lo tengah malem, gangguin tidur gue cuma buat minta data mahasiswa baru!!" Ucap Noni sewot.
"Hahahahahaha... Sorry soal itu." Jo terbahak mengingat kelakuan dirinya saat itu. Wajah Mentari berubah seperti kepiting rebus. Sebegitu terobsesinya Jo terhadap dirinya yang tidak ada apa - apanya. Dia malah merasa merepotkan semua orang.
"Lagi - lagi aku ngerepotin banyak orang." Mentari merutuki dirinya sendiri. Padahal dirinya pernah bertekad untuk mandiri dan tidak menjadi benalu seperti yang selalu Clara ucapkan. Tapi lagi - lagi dia merepotkan banyak orang.
"Kayaknya gue emang benar - benar benalu. Sampe kapan Lo mau terus jadi benalu?" Ucap Mentari sambil memandangi dirinya di depan cermin.
"Gue harus buktiin kalo gue bisa sendiri. Gue juga bisa aman walaupun sendirian." Mentari memantapkan tekadnya. Dia akan mencari celah agar tidak selalu merepotkan teman - temannya.
Seminggu ini berjalan dengan lancar. Mentari berhasil bertahan sendiri meski tanpa Mike dan Noni. Mentari pulang - pergi ke kampus bersama Abi dan Noni. Di kampus hanya sesekali Noni bergabung karena kesibukannya di semester lanjut dia hanya bersama Cute Kitten ditambah Abi yang memang punya misi terselubung. Memenangkan hati Haifa.
__ADS_1
Tiap 2 hari sekali Mentari akan mengunjungi cafe milik Jo untuk mengurus logistik cafe. Selama Jo berada di Paris, urusan logistik dan laporan akan diserahkan pada masih - masing penanggung jawab dan akan ditindak lanjuti oleh Mentari sebagai pengganti Jo sementara.
"Sayang, aku dah pengen pulang banget. Aku butuh di charge." Ucap Jo Manja.
"Sabar... kan lagi nugas." Ucap Mentari menenangkan.
"Aku gak tahu masih berapa lama lagi harus nemenin papa. Udah kangen banget sama kamu, sama aroma kamu." Rengek Jo lagi.
Mentari hanya tersenyum. Jo selalu melakukan panggilan pribadi pukul 22:00 waktu Indonesia, karena waktu Indonesia dan Paris terpaut 6 jam lebih cepat. Sehingga ketika di Indonesia Mentari sudah bersiap tidur, Jo baru saja menikmati waktu sore.
Jo selalu mengeluhkan kesehariannya bersama papanya. Tak pernah sehari pun ia tak mengeluh. Sejak kedatangannya di Paris hingga 10 hari sudah ia di Paris selalu saja mengeluh. Ya, baru 10 hari namun sudah terjadi tragedi. Sepertinya ia memang tak bisa jauh dari Mentarinya. Paris benar - benar Menyebalkan bagi Jo. Dia tak ingin lagi menginjakkan kaki di Paris jika tidak dengan Mentarinya.
Hari terus berlanjut meski mereka berjauhan, namun hati mereka tetap tertaut. Hari ini Mentari sedang bersama Cute Kitten dan para ajudan rahasianya, siapa lagi kalo bukan Noni, Mike dan Abi. Mentari membawa pesanan makanan untuk mereka dibantu Casandra membawa beberapa botol minuman mengekor di belakang Mentari. Clara yang berhenti mendadak di hadapan Mentari membuat keseimbangannya nyaris goyah dan menumpahkan baki berisi mie ayam dan kawan - kawannya.
"Nah gitu donk cantik, jangan cuma nyusahin doang bisanya." Ucap Clara dengan sinis lalu pergi dari hadapan Mentari sambil mendorong bahu Mentari dengan kasar.
"Rasain nih." Ucap Clara sambil berlalu.
Tumpahlah semua isi baki yang Mentari bawa. Semuanya berserakan di lantai. Pecahan mangkok ada di mana - mana. Cassandra yang menyaksikannya segera mengejar Clara dan menumpahkan isi baki yang ia bawa kehadapan Clara kemudian berlalu membantu Mentari yang sudah dikerubuti teman - teman yang lain.
Alih - alih membantu Mentari, Abi menghampiri Clara yang sedang marah - marah karena ulah Cassandra.
"Sini Lo." Ucap Abi sambil menarik tangan Clara. Abi membawa Clara ke belakang cafetaria.
"Lo kenapa sih? Lo selalu aja cari masalah sama Tari!" Tanya Abi geram.
"Gue ga cari masalah ko. Dia emang pantes kan? Dia kan cuma benalu buat Lo dan kalian semua." Bela Clara.
"Benalu gimana sih maksud Lo?" Kita Deket dan baik sama Mentari, itu karena dia juga memperlakukan kita dengan baik. Gue jagain Mentari, itu juga karena kemauan gue sendiri. Nah Lo, Lo ada masalah apa sama dia? Dia juga ga pernah usik LO! Ga pernah gangguin LO! Ga pernah cari masalah sama LO! Lo nya aja yang iri, karena semua orang lebih tertarik sama Mentari daripada LO!" Ucap Abi penuh penekanan menahan amarahnya. Tatapannya nyalang, andai dia bukan perempuan pasti sudah habis dia hajar. Kemudian Abi berlalu mencari keberadaan Mentari.
Mentari sudah tak ada di TKP. Abi memutar pandangannya mencari keberadaan Mentari, namun tak ditemukan juga sosok yang ia cari. Ia mengacak rambutnya kasar. Kemana dia harus mencari Mentari, dia menanyakan pada petugas cafe.
__ADS_1
"Mbak, tadi cewek yang disini kemana?" Tanya Abi sambil menunjuk bekas tumpahan yang sedang dibersihkan.
"Oh... dibawa sama teman - temannya mas. Kalo kemana saya gak tahu." Jawab petugas cafe.
"Oh makasih mbak." Ucap Abi. Abi berlalu sambil mencoba menghubungi Mentari namu tak diangkat. Berkali kali ia hubungi belum juga diangkat. Akhirnya dia teringat Haifa. Abi mencoba menghubungi Haifa.
"Assalamu..."
"Mentari dimana? Haifa kamu dimana? Mentari gimana?" Belum juga Haifa menyelesaikan salamnya Abi sudah terburu - buru menanyakan Mentari.
"Kita di klinik kampus kak, ada beberapa pecahan mangkok yang masuk ke sepatu Mentari, kayaknya habis ini kita mau ke rumah sakit." Terang Haifa.
"Rumah sakit? Mentari kenapa? Kenapa sampe harus ke rumah sakit?" Tanya Abi dengan teburu - buru hingga nafasnya tersengal.
"Tangan yang kemarin dislokasi bengkak lagi. Kata petugas mungkin kejang otot. Kita mau periksa lebih lanjut." Jelas Haifa lagi.
"Oke gue kesana segera." Ucap Abi sambil mematikan ponselnya dan langsung menuju ke klinik.
Abi menemukan keberadaan teman - temannya itu sedang menunggu kaki Mentari selesai diobati. Terlihat pergelangan Mentari memerah. Sangat terlihat, karena kulit Mentari putih. Abi mengusap wajahnya kasar.
"Kalian udah kasih kabar ke kak Jo?" Tanya Abi pada Mike dan Noni.
"Jangan!!" Pekik Mentari. Membuat semua yang ada disana menatap ke arah Mentari.
"Please... jangan kasih tahu kak Jo. Please..." Pinta Mentari.
"Tapi kan... Kalo Lo kenapa - kenapa gimana?" Balas Noni.
"Gue gak papa. Gue gak kenapa - kenapa." Ucap Mentari meyakinkan mereka semua.
"Kalo Lo kenapa - napa terus sampe Jo gak tahu, itu bakal bahaya buat kita. Lo tahu kan Jo tuh posesif berat sama Lo?" Balas Mike mulai emosi.
__ADS_1
"Gue gak mau ngerepotin kak Jo, ngerepotin kalian, kalo kalian laporin ini ke kak Jo, kalian juga yang kena karena ga becus jagain gue. Udah ini biar kita aja yang tahu. Gue gak papa. Gue baik - baik aja." Cicit Mentari sambil menahan rasa nyeri di tangannya.
"Dan gue jamin, kejadian ini cuma kita yang tahu." Tambahnya lagi.