
Setelah acara memanggang untuk makan malam, mereka berkumpul di gazebo.
"Terima kasih kalian udah repot - repot datang kesini, selalu temani gue, selalu ada di kala gue terpuruk. Sejauh ini belum ada kabar tentang kondisi Kak Jo. Pencarian sudah dihentikan tanpa titik cerah. Namun, Gue masih berharap Kak Jo bisa ditemukan dalam kondisi apapun. Jika dia saat ini selamat, semoga dia telah diselamatkan oleh orang berhati malaikat dan dapat kembali ke sisi kita suatu saat nanti. Jika dia tidak selamat, semoga dia tenang dan bahagia di alam sana. Mari kita panjatkan doa teruntuk sahabat kita, orang yang kita cintai dan kita sayangi, Jonathan. Berdoa dipersilahkan." Papar Mentari.
Sejenak mereka memanjatkan doa untuk keselamatan Jo. Kali ini Mentari benar - benar mencoba untuk tegar. Ketegarannya laksana gunung es, sangat dingin. Dari nada bicaranya, tersimpan ke-piluan yang mendalam. Semua bisa memahami hal itu.
Haifa dan Cassandra memeluk erat Mentari yang mencoba meredam dan menyembunyikan air matanya.
"Gue nginep boleh kan?" Ucap Haifa.
Mentari mengangguk mengiyakan.
"Gue juga ya... kita tidur bertiga." Sambung Cassandra.
Mentari mengangguk dan kembali merengkuh pelukannya. Hati Dave menghangat melihat wanita di hadapannya ini kembali menemukan senyumnya. Abi menoleh ke arah Dave yang tengah menatap Mentari. Tatapan yang begitu dalam.
__ADS_1
DAVE POV
Akhirnya lo bisa tersenyum lagi sayang. Aku bingung, aku sangat bingung, apa aku harus bersyukur atas hilangnya Jo, atau aku harus berduka untuknya. Yang pasti, aku hanya ingin engkau tersenyum ceria seperti sedia kala. Hatiku pun bersemangat saat ini, melihat kau bisa kembali tersenyum. Aku akan menjaga senyum itu. Tetaplah tersenyum Mentari.
POV END
"Bang, lu pulang gak?" Tanya Abi.
Dave yang masih memandang Mentari terkesiap kaget. Ia langsung menoleh ke arah Abi dan mengangguk.
"Btw bang, itu yang pake jilbab cewe Abi. Rencanaya Abi mau lamar Haifa pas mami pulang nanti. Menurut abang gimana?" Tanya Abi lagi.
"Lo ga salah pilih dek. Dia baik dan tulus orangnya. Abang yakin itu." Ucap Dave.
"Iya bang, dia baik, tulus, agamis, sopan, rajin, manis, canti, pinter..." Abi terus memuji Haifa hingga Dave menutup mulut Abi dengan menggunakan tangannya sebelum Abi selesai mengabsen kebaikan Haifa.
__ADS_1
Malam semakin larut, Mike dan Noni berpamitan pulang, dan berencana kembali keesokan harinya. Setelah membereskan beberapa peralatan memanggang Mentari, Haifa dan Cassandra naik ke kamar Mentari dan bersiap untuk merajut mimpi. Sementara Abi dan Dave kembali ke rumah masing mereka. Abi dan Dave berjalan beriringan menuju sebuah rumah tepat disamping rumah Mentari.
"Bang, gue boleh nanya?" Ucap Abi tiba - tiba saat mereka baru saja memasuki gerbang rumah mereka.
"Nanya apa?" Sahut Dave sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, ia menoleh ke arah Abi.
"Lo ada rasa sama Mentari Bang?" Tanya Abi penasaran.
Dave menghentikan langkahnya. Menghela napas dan melanjutkan langkahnya menyusul Abi yang jauh di depan.
"Iya, gue suka sama Mentari sejak lo bawa Mentari kerumah." Jawab Dave.
"Lo seneng Jo gak ketemu?" Tanya Abi lagi.
"Kalo gue seneng Jo celaka dan gak ketemu, gue gak usahain pencarian Jo, dong? Yang gue mau cuma liat Mentari senyum kaya dulu lagi. Yang Kemarin itu bikin gue menderita liat Mentari sampe drop begitu. Perasaan gue, bukan lagi perasaan cinta anak ABG." Jawab Dave sambil menepuk bahu Abi dan berlalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Benar juga. Dave dari kemarin juga sibuk memantau kondisi Jo. Dave juga mengerahkan koneksinya untuk melakukan pencarian Jo. Meski Abi merasa ada yang masih mengganjal di dalam benaknya, namun Abi tak bisa mengungkapkannya. Abi melanjutkan langkahnya menuju ke dalam rumahnya. Sesampainya di kamar bernuansa biru navy miliknya, Abi segera pergi mandi sebelum akhirnya dia terlelap hingga pagi menyingsing.