
"Aaaaargh." Erang Mentari sambil meregangkan tubuhnya. Diseberang tempat tidurnya sudah ada Bunda sedang menatap lekat anak gadisnya.
"Jam 5 sayang, gih subuhan." Ujar bunda sambil mengecup kening Mentari.
"Bunda dari semalem tidur disana?" Ucap Mentari sambil menunjuk tempat bundanya beranjak tadi.
Bunda mengangguk dengan pasti. Mentari mulai melaksanakan rutinitas paginya seperti biasa. Hingga pukul 06.30 dia sarapan di balkon kamarnya. Pagi ini dirinya malas untuk keluar dari kamarnya sebelum jam untuk pergi ke kampus.
#Bipp Bipp
Suara Notifikasi ponsel Mentari terdengar dari teras balkon. Sejak semalam, hati dan pikirannya kosong. Notifikasi di ponselnya pun ia abaikan. Yang Mentari lakukan hanya menatap kosong ke satu titik, tempat yang biasa diisi oleh Surya kakaknya. Sampai detik ini pun Mentari masih belum melepaskan kepergian Surya sepenuhnya. Dia masih merasakan kekosongan yang luar biasa dalam hidupnya. Bagi Mentari, Surya adalah segalanya, mereka sudah bersama dan berbagi sejak dalam kandungan bunda. Ahh... Mengingat Surya selalu membuat Mentari meneteskan air matanya, hatinya teriris menghadapi kenyataan.
🎶🎶🎶
Ponsel Mentari berdering mengalunkan alunan Futari No Kimochi.
Dengan malas Mentari menjawab panggilan itu tanpa membaca siapa yang menelponnya.
"Non, loe ada kelas ga hari ini?" Terdengar suara serak Abi dari seberang sana.
"Ada, kenapa?" Jawab Mentari malas.
__ADS_1
"Ngafe yuk, dah lama kita ga main bareng." Ajak Abi.
"Oke. Jam 4 ya... gue baru kelar jam 4 hari ini."
"Sip!! Gue tunggu di parkiran fakultas"
"Oke." Jawab Mentari singkat sambil memutus sambungan telpon.
Huff... "Kak Abi..." Gumam Mentari lirih.
Waktu menunjukkan pukul 08.00, dan rasanya matahari mulai hangat. Mentari bersiap untuk berangkat ke kampusnya. Kelas hari ini dimulai pukul 09.15. Jadi sekarang Mentari mulai bergegas mandi dan melakukan ritual pagi sebelum ke kampus.
Disambarnya ponsel diatas kasur dan dia bergegas turun. Dilihatnya layar ponsel dengan 10 kali panggilan tak terjawab dengan nomor tidak diketahui. Karena nomornya tidak diketahui jadi wajar dia abaikan.
Sesampainya di lantai satu rumah itu, dia mencoba mencari sang bunda. Dari anak tangga terakhir yang dia pijak, dia menemukan bundanya di taman lengkap dengan alat semprot tanaman. Segera Mentari menghampiri bundanya, memeluk dari belakang sambil menghujani bunda tercintanya dengan kecupan di pipi.
"Mentari pamit ya bund..." Pamit Mentari sambil menyodorkan tangannya.
"Hati-hati ya dek naik motornya." Pesan bunda. Bunda tau kalo saat ini Mentari akan berangkat dengan motor milik almarhum kakaknya hanya dengan melihat setelan yang Mentari pakai saat ini. Ya, mentari akan mengenakan dress jika dia akan mengendarai Valencia Red Pearlnya dan setelan Jeans bila akan mengendarai BMW R 1200 GS Adv kesayangan kakaknya.
Setelah berpamitan pada bundanya, segera Mentari menuju tempat si kuda besi dikandang. Dihidupkannya si kuda besi itu sesaat sebelum dia mulai mengendarainya. Mentari sudah mahir mengendarai si kuda besi meski hanya dalam beberapa kali latihan. Tekad bulatnya menghilangkan image manja yang selalu bergantung pada kakaknya kian memudar.
__ADS_1
Seharian di kampus, membuat Mentari penat. Disambarnya minuman vitamin C dari dalam showcase, dalam sekejap habis dalam sekali teguk. Dilangkahkan kakinya menuju tepi danau. Dipasangnya ear buds di kedua telinganya, rambutnya digulung membentuk bund, dan persiapan untuk lari pun selesai.
Lari adalah kebiasaan yang dia dan kakaknya lakukan ketika memiliki beban pikiran. Dan kali ini adalah pertama kalinya dia berlari melepas penat seorang diri. Ingatan tentang kakaknya kembali menyeruak, dan membuatnya kembali meneteskan air mata. Tiba - Tiba ponselnya berdering. Tertera nama Abi di Smart watch miliknya.
"Ya..." Jawab Mentari Malas.
"Loe dimana cantik, gue dah nunggu diparkiran nih." Sahut Abi.
"Ye, bentar gue masih di danau."
"Ngapain Lu? nyelem?"
"Brisik. Tunggu aja!"
Mentari segera menyudahi sesi larinya dan berjalan menuju parkiran. Rambut yang sudah digerai ia gulung asal sambil berjalan menuju BMW R 1200 GS Adv nya. Dari kejauhan sudah terlihat Abi diatas motor Motor milik Mentar, sedangkan City car milik Abi ada di seberangnya. Abi melambaikan tangannya ke arah Mentari.
"Gue yang bawa ini, Lo bawa mobil gue noh. Mana kuncinya?" Ucap Abi sambil mengadahkan tangan. Tanpa ba-bi-bu Mentari mengeluarkan kunci nya dari dalam sakunya. Selanjutnya dia mengarah ke mobil berwarna hitam-merah di seberangnya. Mereka berdua menuju cafe favorit mereka Golden Beans.
Abi sampai di kafe lebih dulu tentu saja, tanpa menunggu Mentari dia memesankan pesanan favorit mereka. Abi sudah hafal, karena sesekali Surya mengajak Mentari bersama mereka untuk sekedar nongkrong di luar. Meski sudah lama mereka tidak mampir ke kafe itu, namun suasana di dalam kafe masih sama, temperaturnya, aromanya, Abi sangat akrab dengan kafe ini. Disini Abi biasa menghabiskan sore bersama Surya kala itu. Sekarang Abi mengajak Mentari kemari untuk sekedar mengenang Surya. Abi mendapati beberapa sosok yang pernah dia temui di kampus, meski tidak mengenal namanya, Abi kenal wajah wajahnya.
Setelah membuat pesanan di bar cafe, Abi memilih tempat di ujung ruangan, di dekat jendela. Tempat paling strategis untuk mengamati hiruk pikuk diluar. Tak lama sosok Mentari muncul dari balik pintu kafe. Abi melambai ke arah Mentari yang sedang mencari sosoknya di ujung ruangan. Karena memang disanalah tempat duduk favorit mereka. Tanpa disadari ada sepasang mata yang terkesiap dari balik meja bar kafe.
__ADS_1