TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Ponselnya Anteng


__ADS_3

Malam ini merek dinner di pinggir pantai. Angin malam mengibarkan rambut panjang Mentari. Membuatnya makin cantik meski dibawah temaram purnama. Purnama penuh di atas hamparan laut nampak sangat memukau. Jo mengamit pinggang kekasihnya dan berjalan menyusuri pantai. Sesekali mengecup, mengecap dan memeluk. Hal ini tak pernah membosankan bagi mereka berdua.


Sejak tadi pagi Mentari lupa menyalakan ponselnya, ia membawa ponsel yang belum ia nyalakan sejak ia angkat dari charger portabel di kamarnya. Sehingga ponselnya masih anteng di dalam tasnya.


Usai menyusuri pantai mereka menuju meja makan yang mereka pesan yang baru saja menyajikan seafood favoritnya.


"Tumben ponsel kamu anteng seharian ini." Tanya Jo.


"Iya nih, aku juga heran. Tumben Haifa ga cerewet padahal aku ga ngampus. Mungkin dia lagi pengertian." Ucap Mentari sambil meraih ponselnya di dalam tas.


"Astaga!" Mentari memekik melihat ponselnya.


"Kenapa sayang?" Ucap Jo sambil meraih bahu Mentari.


"Aku lupa menyalakan ponselku sejak tadi pagi. Aku ambil langsung dari portable tapi belum aku nyalain. Aku lupa." 🤦 Mentari menepuk keningnya.


Dan benar saja, setelah ponsel ia nyalakan ada banyak sekali notifikasi dari berbagai aplikasi ponsel dari pesan hingga ratusan kali panggilan tak terjawab.


Drrrt drrrt


Panggilan grup


"Lo kemana aja beb?" Haifa


"Kemane Lo? Cassandra


^^^Gue melepas rindu Ama Jo^^^


Mentari menghadapkan ponselnya ke arah laut yang ombaknya sedang bergulung.


Haifa :"Wah Lo parah Lo habis ngapain Lo"


Cassandra : "Besok kita periksa tubuhnya, pasti banyak gigitan vampir."


^^^Apaan si kalian^^^

__ADS_1


Cassandra "Trus ngapain aja Lo? kenapa baru bisa dihubungi?"


^^^*Sorry, gue lupa nyalain^^^


^^^ponsel dari lagi*^^^


"What!!!" Sandra dan Haifa terkejut bersaman.


"Jadi percuma nih kita semua kuatir sama Lo? Lo nya malah lagi indehoy di laut." Omel Cassandra.


^^^*Sorry... sorry banget,^^^


^^^gue inget jg karena^^^


^^^kak Jo keheranan^^^


^^^ponsel gue anteng*.^^^


Mentari meringis, menyadari keteledorannya.


Mereka mengakhiri panggilan grupnya.


"Tuh kan banyak banget yang nyariin kamu." Ucap Jo sambil memberikan Mentari Kerang yang sudah ia pisahkan dari kulitnya.


"Eh tadi sapa yang bilang safety first?" Tanya Jo.


"Haifa." Jawab Mentari singkat.


"Hishhh... tuh anak bisa juga relain sahabatnya, bukanya di ajakin yang bener malah dukung yang begituan." Ucap Jo sambil geleng - geleng.


"Dia tau kali kakak sering keluar masuk club." Jawab Mentari acuh tak acuh.


"Itu kan dulu waktu aku belum ketemu lagi sama kamu. Sekarang kan ga pernah lagi." Ucap Jo. Mereka menghabiskan semua hidangan yang ada di depannya sambil menceritakan kesibukan masing - masing selama sebulan ini.


Tiga hari lagi Jo harus kembali ke Paris menemani papanya. Kali ini hanya untuk renegosiasi akhir sebelum kontrak diputuskan sehingga kemungkinan tak akan berlangsung lama.

__ADS_1


Selesai memastikan semua makanan benar - benar masuk ke perut, Jo kembali memacu mobilnya menuju rumah. Hari sudah cukup larut ketika mereka sampai di rumah Mentari.


Jo mengantarkan Mentari hingga ke dalam rumah. Karena orangtua Mentari sudah tidur, Jo segera pamit untuk pulang setelah memastikan ARTnya melihat nonanya pulang ke rumah.


Mentari menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya. Ia memikirkan ajakan Jo untuk menikah. Ia yakin orangtuanya pasti akan setuju. Hanya saja, Mentari tak ingin dia menikah saat dia belum mendapat ilmu dari apa yang ia pelajari saat ini. Ia ingin setidaknya dia dapat ilmu tentang dasar perhitungan dan pengelolaan ekonomi sehingga ia memiliki dasar untuk membuat usaha atau meneruskan usaha yang sudah ada. Ia tak ingin benar - benar nol tentang hal ini.


"Beruntungnya aku bisa ketemu Jo yang benar - benar bisa mengendalikan hasratnya." Gumam Mentari sambil tersenyum. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri dan bersiap tidur. Hari yang benar - benar indah bagi Mentari dan Jo.


Malam berganti pagi. Saat ini bunda sudah berada di kamar anak gadisnya. Mentari sejak tadi sudah diinterogasi oleh Bunda. Sesekali bunda menekan kalimatnya, selanjutnya ia akan mencium gadisnya. Bunda benar - benar sangat khawatir pada Mentari.


Setelah ceramah pagi dari Bunda usai, Mentari bergegas bersiap mandi dan turun untuk sarapan bersama ayah dan bunda. Mentari sudah menyelesaikan sarapannya ketika Jo masuk dan menyalami ayah, bundanya dan pamit untuk berangkat ke kampusnya. Hari ini Jo juga akan ke kampus karena harus mengurus beberapa perijinan. Dia tak ingin kuliahnya terabaikan karena urusan bisnis yang dia geluti. Dia ingin semuanya berjalan dengan harmonis.


Di kampus Cassandra, Mike dan Haifa sudah menunggu di gazebo dekat tempat parkir. Mereka langsung melambaikan tangan ketika Mentari turun dari mobilnya.


"Mikhail... My bro... Thank's Lo udah banyak bantu gue." Ucap Jo pada Mike sambil berpelukan ala cowok.


Kemudian mereka berdua berpisah, Jo pergi bersama Mike, Mentari bersama Haifa dan Cassandra. Mereka menyelesaikan kelas Mereka tepat jam makan siang. Tiga mata kuliah beruntun membuat Mentari dan teman - temannya butuh asupan. Mereka berjalan ke arah Cafetaria saat Clara juga baru keluar keluar dari kelasnya. Saat Mentari sudah berada dalam jangkauannya, Clara mencoba menarik rambut Mentari. Namun, Hiatt!!!


Mentari mampu menghindari tangan jail Clara. Tak terima aksinya gagal dilancarkan, Clara mengejar Mentari dan membalikkan badan Mentari. Dengan asal dia melayangkan tinju ke arah Mentari. Mentari kembali mengelak dan mampu menangkis tinju Clara. Clara tak memiliki basic Bela diri, jadi serangannya bukan apa - apa bagi Mentari.


Clara memang kekanak - kanakan. Tak jarang dia bersikap seperti anak SD yang manja. Masih Egois dan tidak berpikir panjang. Untung saja Mentari selalu bisa meredam semuanya, dan dia pun tidak mendendam. Anggap saja itu musibah. Clara mendengus kesal.


"Gue heran deh. Kayaknya Lo tuh resek banget ama gue." Tanya Mentari.


"Lo ga suka sama gue? Gue punya masalah sama Lo juga kagak!" Tambahnya.


"Lo tuh sama kakak Lo benalu tau gak Lo." Jawab Clara.


"Benalu? Gue ga minta duit ke Lo? Kita bicara berdua juga kagak pernah? Gimana bisa gue jadi benalu? Hah??" Ucap Mentari geram.


"Gak usah ngadi - ngadi deh lo"! Sambung Mentari lagi.


"Lo tuh nempel di manapun dan pada siapa pun." Ungkap Clara.


"Tapi kan gue ga nempel ke Lo?" Ucap Mentari lagi sambil mendorong bahu Clara dan meninggalkan Clara sendirian.

__ADS_1


Sebenarnya Mentari sangat malas jika harus menanggapi kemarahan seseorang. Sebisa mungkin dia menjali. pertemanan dan hindari perseteruan. Ia hanya ingin punya banyak teman, itulah kenapa dia bersikap ramah pada semua orang. Dia tidak melihat kasta, usia, ras dan gender. Dia juga tidak membedakan agama, Cassandra Nasrani, Haifa Islam, dia tidak mengkotak - kotakkan pertemanan.


__ADS_2