
Sudah beberapa hari ini Mentari terus menempel pada Bundanya setiap kali pulang dari kampus. Sesekali Abi mampir untuk melihat kondisi Mentari karena Dave memberikan tugas memantau dan melaporkan kondisi Mentari. Dave hanya sesekali menanyakan kabar via aplikasi atau sekedar melakukan video call.
Seperti saat ini, Mentari sedang membalas pesan singkat dari Dave. Mentari menatap ponselnya sendu.
"Dari siapa sayang?" Tanya Bunda yang resah karena perbedaan air muka Mentari yang berubah sendu.
"Dari bang Dave, Bun." Jawab Mentari.
"Kenapa kamu berubah sendu begitu, emang Dave nanya apa?" Tanya Bunda penasaran.
"Cuma nanya udah makan belum, terus ingetin buat minum obat aja kok Bun." Terang Mentari.
"Terus kenapa kamu sedih gitu sayang?" Tanya Bunda lagi.
"Sejak kondisi Mentari kacau kemarin, bang Dave kasih perhatian lebih ke Mentari. Mentari kan jadi ga enak Bun." Papar Mentari.
"Gak enaknya kenapa? Kan wajar dia khawatir sayang." Ucap Bunda sambil membelai surai hitam panjang Mentari.
"Kan dulu bang Dave gak gitu Bun, Bang Dave kan cuek Bun, jadi anehkan kalo mendadak berubah jadi perhatian." Ungkap Mentari.
"Ahhh... itu perasaan kamu aja kali sayang..." Ucap Bunda.
"Yang Bunda tau, emang Dave perhatian kok, ke Abi juga. Tapi dia lebih sering diam diam perhatian, itu sih yang mommy nya ceritain soal Dave." Tambah Bunda.
"Jadi emang sebenernya, Bang Dave itu diam - diam perhatian ya Bun?" Tanya Mentari. Bunda mengangguk mengiyakan.
"Terus Mentari harus gimana dong Bun?" Tanya Mentari sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Ya... Tari balesin aja kaya biasanya, ga enak kan kalo dicuekin." Jawab Bunda.
"Iya sih...". Ucap Mentari sambil meletakkan kepalanya di pangkuan Bundanya.
"Kak Surya udah gak ada, Kak Jo juga udah gak ada... Apa Mentari ini pembawa sial ya Bun?" Ceracau Mentari sambil menutup matanya.
__ADS_1
Mentari segera memasuki gerbang mimpinya. Namun yang membuat Bundanya risau adalah perkataan Mentari sebelum mentari tertidur barusan. Mentari menghakimi dirinya sendiri sebagai pembawa sial.
"Kamu bukan pembawa sial sayang, jangan pernah berkata demikian." Ucap Bunda sambil mencium kening Mentari. Air matanya menitik di pipi putri cantiknya. Ia merasakan kepiluan atas kehilangan yang dialami putrinya.
Bunda memindahkan kepala Mentari ke sebuah bantal, dan ia beranjak dari tidurnya. Ia men-dial nomor Abi. Bunda menanyakan keberadaan Abi dan Dave. Namun sayang sekali keduanya saat ini sedang tidak ada dirumahnya. Sehingga Bunda meminta keduanya untuk datang saat waktu makan malam.
Bunda mencoba mencari tahu kondisi Mentari saat ini. Bunda mencari catatan dan buku harian yang biasa putrinya tulis. Sejak mulai bisa menulis, Bunda mengajarkan Mentari untuk menulis semua yang ada di hati dan pikirannya. Sehingga dari sanalah Bunda bisa memantau kondisi Mentari.
Malam harinya, Dave dan Abi memenuhi undangan Bunda untuk makan malam bersama. Dave dan Abi pergi bersama ke rumah Mentari. Mereka bertemu Ayah dan Bunda Mentari di ruang tamu, sementara Meja makan sedang disiapkan dan Mentari masih berada di kamarnya, Bunda menanyakan kondisi putrinya pada Dave dan Abi.
Dave menceritakan kondisi Mentari dari hasil pemeriksaan. Dave juga memberikan Bunda jadwal konsultasi Mentari dengan psikolog.
Tak lama Mentari tampak baru saja menuruni anak tangga terakhir. Seperti biasanya saat berada di rumah, pakaian yg ia kenakan adalah pakaian terbuka asal nyaman. Seperti saat ini, ia mengenakan Women's cut & sew Racerback Dress berwarna hitam dengan gambar Minnie Mouse di bagian depannya yang dipadukan dengan hot pants warna abu - abu dan rambut yang di cepol asal.
Mentari tidak mengetahui tentang kehadiran Dave dan Abi sebelumnya, sehingga dia turun ke lantai bawah dengan apa adanya. Menyadari keberadaan dua bersaudara itu, Mentari bergegas menuju halaman belakang rumah, tempat biasa Mbak mencuci. Ia mengingat bahwa ada cardigan yang bisa ia pakai disana. Dave yang sempat menangkap sosok Mentari yang baru saja turun tangga hanya tersenyum simpul melihat gadisnya gugup.
Setelah menemukan cardigan berwarna pink ditumpukkan baju yang sudah Mbak sortir berdasarkan pemiliknya, Mentari masuk kembali ke rumah utama dan menemui Bunda dan ayahnya yang masih bersama Dave dan Abi.
"Oh... iya sayang, terima kasih." Sahut Bunda sambil menoleh ke arah Mentari.
"Yuk, meja makan udah siap, sekarang kita makan dulu. Kita lanjutkan ngobrolnya nanti ya..." Ucap Bunda mengajak Mereka berpindah ke meja makan.
Mentari duduk disamping bunda dan berhadapan dengan Abi. Mereka menyantap makan malam dengan khidmat. Sesekali Dave mencuri pandang ke arah Mentari dan hal itu diketahui oleh Bunda.
Setelah sesi makan malam selesai, Ayah membawa mereka ke halaman belakang. Mereka berbincang di gazebo halaman belakang. Sementara Ayah dan Bunda berbincang dengan Dave, Abi dan Mentari sibuk memberi makan ikan koi yang ada di bawah gazebo tersebut.
"Gimana kerjaan kamu Dave?" Tanya Ayah.
"Lancar Yah. Ayah sendiri?" Sahut Dave.
"Ya begitulah... Kita bingung, periklanan dan tontonan sekarang tidak lagi kreatif." Sahut Ayah.
"Iya Yah, tontonan sekarang edukasinya implisit, jadi daripada nilai edukasinya, penonton justru mengikuti nilai negatifnya. Sangat ironis kan?" Ucap Dave.
__ADS_1
"Iya betul sekali." Timpal Bunda.
"Tante denger, Abi mau melamar Haifa sahabat Mentari." Ucap Bunda.
"Iya Bunda, lusa mommy sama papi pulang. Bunda, Ayah ikut mengantar acara lamaran kan?" Tanya Dave.
"Tentu saja." Ucap Bunda.
"Terus, Dave sendiri kapan mau melamar? Sudah ada calon kan?" Tanya Bunda.
"Kemarin - kemarin sih udah ada Bunda, tapi dia udah diambil yang lain. Yasudah, Dave harus cari lagi." Papar Dave.
"Owh... semangat mencari ya..." Ucap Bunda sambil melayangkan tinjunya ke udara.
"Hihihihi iya bunda..." Dave terkekeh.
"Kemarin Dave udah kerahkan tim buat nyari Jo di setiap klinik dan rumah sakit. Mereka bawa foto Jo. Barangkali Jo udah diselamatkan penduduk sekitar. Tapi sampai detik ini belum ada laporan masuk." Papar Jo.
"Terima kasih nak, kita sudah mengusahakan semua upaya yabg kita mampu. Tinggal menunggu kuasa Tuhan. Semoga segera mendapatkan berita baik." Ucap Ayah.
"Aamiin." Dave dan Bunda mengamini.
"Bunda sama Ayah bener - bener berterima kasih sama kalian loh. Kalian udah susah payah jagain anak gadis ayah." Ucap Ayah sambil mengusap punggung Dave.
"Keluarga kita kan udah deket dari dulu Yah, jadi bukankah kita udah kaya keluarga kan..." Ucap Dave.
"Dave bakal jagain mentari Yah, Bun." Sambung Dave.
"Ayah sama Bunda boleh kok percayain Mentari buat Dave jaga." Ucap Dave lagi.
Ayah dan Bunda bertukar pandang mendengar ucapan Dave barusan.
"Tolong jaga Mentari ya Dave..." Ucap Bunda.
__ADS_1