
Jo berjalan dengan sangat cepat. Dia ingin segera sampai dirumahnya untuk melepaskan yang sedang ia tahan. Segera dia memasuki rumahnya dan berlari menuju kamar mandi di dalam kamarnya. ******* Mentari barusan terus terngiang di telinga Jo. Membuat dia semakin menggila saat mengingat aksinya terhadap Mentari tadi. Dia hampir saja melewati batas yang ia buat sendiri. Dia harus melakukan pelepasan malam ini, Jo bersiap untuk pergi ke club malam ini.
Disisi lain, Mentari bercerita tentang Jo pada bundanya sambil menikmati cemilan sorenya. Setelah itu Mentari pergi mandi. Saat sedang mengeringkan rambutnya, Mentari mendengar bunyi notifikasi yang bukan miliknya. Mentari mencari sumber bunyi notifikasi tersebut. Ternyata bunyi notifikasi tersebut berasal dari sebuah ponsel di jaket milik Jo. Dari notifikasi tersebut terlihat kata "Rekap Mingguan".
"Rekap Mingguan? Ini pasti punya kak Jo. Ini pasti penting." Gumam Mentari.
Mentari bergegas menyiapkan dirinya untuk mengantarkan ponsel itu kerumah Jo. Dengan balutan Shortpants dan Kaos Oblong serta rambut yang dicepol dia beranjak menuju rumah Jo.
Dirumah Jo, dia sedang mencari - cari ponsel yang ia gunakan untuk berhubungan dengan para staff cafe. Dia mencari disetiap sudut rumah tapi belum juga ketemu. Saat tiba - tiba bel pintu rumah berbunyi.
Jo segera membuka pintu saat bel pintu rumah berbunyi. Dia tercengang saat mendapati gadisnya di depan pintu. Jo kembali menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat leher jenjang itu terekspos dengan bebas.
"Baru aja selese dan mau dituntasin." Gerutu Jo dalam hati.
Mentari menyodorkan ponsel berwarna hijau mint ke hadapan Jo.
" Oh... wow... akhirnya ketemu. Terima Kasih. Ko... Oh pasti ketinggalan di jaket aku ya...Makasih ya sayang." Ucap Jo sambil mengusap puncak kepala Mentari dan lagi - lagi mendaratkan kecupan di kening Mentari.
"Yuk masuk." Ajak Jo sambil menarik salah satu tangan Mentari.
Jo membawa Mentari menuju ruang keluarga di lantai bawah. Dimana terbentang karpet bulu tebal dengan sofa santai dan televisi besar di depannya.
"Duduk sini. Aku ambilkan Jus sebentar." Ucap Jo sambil berlalu. Dia menyiapkan Jus Jeruk dan beberapa buah serta camilan di atas nampan dan dibawanya ke hadapan Mentari.
"Silahkan dinikmati. Maaf cuma ada ini. Mbok udah istirahat jadi ga enak kalo harus bangunin dia." Papar Jo sambil mengambil posisi duduk di samping Mentari.
"Ko cuma diem?" Ucap Jo lagi.
__ADS_1
Jo menyandarkan kepalanya di bahu Mentari. Dia bisa mencium aroma segar dari tubuh Mentari yang baru saja mandi. Dorongan untuk mengecup kembali hadir, namun Jo menahannya.
"Apa gak papa kita cuma berdua begini?" Kata Mentari.
Ucapan Mentari membuat Jo mengalihkan pandangannya ke arah wajah Mentari.
"Emang kenapa? Kamu takut sama kakak?" Ucap Jo kemudian.
"Bukan gitu maksudnya." Jawab Mentari meralat.
Jo masih memandangi wajah Mentari dari samping. Melihat bibir mungil itu mencoba mengutarakan sesuatu, membuat Jo gemas. Dikecupnya bibir mungil itu secepat kilat.
Cup!!!
Seketika Mentari meraba bibirnya yang baru saja dihinggapi bibir Jo. Jo mendaratkan kepalanya di atas paha Mentari. Kini ia dapat memandangi wajah Mentari dari bawah.
"Iya. Ada ko. Cewe kakak ya kamu." Jawab Jo singkat.
"Idih, sejak kapan?" Tanya Mentari lagi.
"Sejak hari ini, saat ini dan selamanya." Jawab Jo menegaskan.
Cup!!!
Jo berhasil mendaratkan kembali kecupan singkat di bibir Mentari. Mentari membelalakkan matanya sesaat, saat bibir itu kembali menyambar bibir manisnya.
Mentari POV
__ADS_1
Eh Buset, kak Jo nyamber lagi. Mana gue ga pake lipbalm... tau gitu kan tadi gue pakein lipbalm biar ada manis - manisnya. Terus dia ngapain lagi tiduran di paha gue aduh.
Mentari POV End
"Tari, pokoknya Mulai hari ini, mau keluar rumah harus sama kakak. Kakak yang bakal jadi sopir kamu." Ucap Jo memperingatkan.
"Tapi kan kakak ga bisa terus terusan bareng aku. Kakak karus cek cafe - cafe kakak. Kontrol cafe - cafe kakak. Kakak gak usah repot - repot. Tari ga mau repotin siapa pun." Jawab Tari sambil memainkan rambut kepala Jo yang tersaji di atas pahanya.
Jo memiringkan posisi tubuhnya menghadap tubuh Mentari. Tangganya menahan kepalanya pada posisi ini, dan Kembali menatap wajah gadisnya dari posisi ini.
"Sapa yang repotin coba? Nih... penghubung kakak dengan para staff dan karyawan." Ucap Jo sambil menggoyangkan ponsel berwarna hijau mint itu di hadapan Mentari.
"Tari gak usah khawatir. Kakak bisa atur semuanya." Jo menambahkan ucapannya. Dan kembali menjatuhkan kepalanya ke paha milik tari. Masih dalam posisi berbaring miring di paha Tari, Jo melingkarkan tangannya ke tubuh Tari.
Mentari terperanjat, merasakan sensasi tersengat. Tindakan Jo membuat Mentari merasakan glesir aneh di dadanya, ada sesuatu yang berdenyut. Jo memeluk lebih erat, sementara Mentari membelai rambut Jo.
Jo yakin dia mencium aromanya feromon menguar. Jo sangat tahu darimana asal aroma feromon yang menguar ini. Jo sangat frustasi saat ini. Tidak mau tergoda namun sangat menggoda.
Getaran serta Denyutan yang dirasakan Mentari semakin lama semakin menjadi. Hal ini merupakan sensasi yang baru saja Mentari rasakan. Dia membelai rambut Jo dari sentuhan lembut hingga kasar. Hingga akhirnya Mentari merasakan dorongan kuat untuk Membungkukkan punggungnya dan sedikit mengangkat kepala Jo dari pahanya. Ditempelkan bibir indah itu di bibir Jo. Mata Jo membelalak menyaksikan aksi Mentari. Dia tak mengira Mentari akan melakukan ini, dia sukses memprovokasi nafsu Mentari.
Mentari mengecup, ******* bibir Jo, dan tentu saja Jo membalas ciuman dari gadis kecintaannya ini, mereka saling *******. Hingga tangan Jo sekarang sudah berpindah ke wajah Mentari, mengubah posisinya sambil terus bertukar Saliva. Salah satu tangan Jo menekan tengkuk Mentari sehingga membuat Mentari menggelinjang tanpa melepaskan lumatannya. Mereka berciuman semakin dalam, Jo memperdalam lumatannya. Tiba - tiba Dia berhenti. Dia Mendudukkan badannya di samping Mentari. Jo tertunduk malu dengan perilakunya barusan. Mentari pun merasakan rasa malu yang sama karena hasratnya terprovokasi hanya dengan sedikit sentuhan.
"Maaf." Ucap Jo lirih.
"Maaf aku hampir kelepasan." Ucap Jo menegaskan.
"Udah hampir jam makan malam, bunda pasti nyariin aku. Aku pulang dulu kak." Ucap Mentari berpamitan dan beranjak pergi.
__ADS_1
Jo merutuki perbuatannya kali ini. Kali lebih hilang kendali karena Mentari juga terprovokasi oleh perilaku Jo.