TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Amnesia Disosiatif


__ADS_3

Saat ini Bunda, Ayah, Dave, Abi dan teman - teman Mentari yang lain sedang berada di Kantin Rumah Sakit. Bunda memaparkan keadaan Mentari saat ini.


"Anak - Anak, Terima kasih sudah datang dan selalu menemani Mentari, Anak Bunda." Ucap Bunda.


"Sebelumnya Bunda minta maaf karena mengganggu waktu kalian semua pastinya. Bunda ingin kalian mengetahui kondisi Mentari saat ini." Bunda Melanjutkan monolognya sambil menahan air matanya yang sejak tadi ia bendung.


"Perlu kalian ketahui, Mentari kini mengalami Amnesia Disosiatif, ia bahkan tak mampu mengenali dirinya sendiri. Kedepannya mungkin akan terjadi tekanan psikologi karena ketidakmampuan dia untuk mengingat apapun dimasa lalu." Air mata Bunda tak terbendung lagi, begitu juga teman teman Mentari yang mulai terisak.


"Bunda harap kalian bisa mengerti, dan tidak memaksa Mentari untuk mengingat. Tetaplah berinteraksi seperti biasa, seperti kalian baru saja melakukannya dengan Mentari. Tanpa menanyakan apakah dia ingat atau tidak, biarlah ingatan dia kembali dengan sendiri. Dengan stimulus yang dapat kita berikan tanpa tekanan untuk mengingatnya." Papar Bunda Mentari sambil terisak.

__ADS_1


Ayah merengkuh tubuh Bunda, mencoba menenangkannya. Haifa lun demikian, ia yang duduk diantara Abi dan Cassandra tengah berpelukan dengan Cassandra, mereka saling menguatkan. Meski Abi dan Haifa sudah resmi bertunangan beberapa Minggu yang lalu, namun Abi menghormati batasan norma yang masih mereka pegang teguh. Abi menepuk perlahan punggung Haifa yang masih terisak.


"Bunda, Ayah, Dave boleh mendampingi Mentari setiap saat?" Pinta Dave.


Bunda mengangguk lemah sambil tersenyum. Namun, Abi justru bereaksi sebaliknya. Abi yang mengerutkan keningnya saat mendengar keinginan kakaknya ini. Pasalnya Abi belum sepenuhnya yakin pada kakaknya ini. Terlebih dia tahu bagaimana circle kakaknya selama ini.


Disini lain rumah sakit, Mentari tengah duduk di sebuah bangku kosong di area terbuka di sekat kamar rawat inapnya. Dia menyilangkan kakinya pada bangku sambil mendengarkan musik melalui airbuds yang terhubung dengan ponselnya. Sesekali kepala dan badannya berayun mengikuti irama, sesekali tertegun sambil meneteskan air mata. Emosinya tidak stabil saat ini, yang merupakan dampak dari amnesia yang dia idap saat ini.


"Kau dapat melupakan orang yang tertawa bersamamu, tapi jangan pernah melupakan orang yang telah menangis bersamamu."

__ADS_1


Kalimat dari Khalil Gibran ini, mampu menggambarkan kegalauan hati Dave saat ini.


Dave mendengar Mentari terisak saat langkahnya sudah hampir sampai. Ia yang semula hendak mengejutkan Mentari menyadari betapa rapuhnya kondisi Mentari saat ini.


"Tangisan tanpa suara menandakan kedalaman suatu kesedihan, bahkan terasa sangat memilukan."


Dave perlahan duduk di samping Mentari yang masih terisak sambil terus membanjiri pipi indahnya dengan air mata. Ia merengkuh tubuh Mentari dan memeluk Mentari dengan sangat erat.


"Lihat sayang, ada Abang disini." Ucap Dave lirih sambil mengurai surai hitam Mentari yang berantakan.

__ADS_1


Mentari menangis di pelukan Dave hingga akhirnya tertidur. Dave membawa Mentari kembali ke kamarnya. Setelah merebahkan Mentari di ranjang Dave merapikan selimut dan duduk di sebuah sofa panjang yang disediakan di kamar itu, sambil memeriksa ponselnya.


Dave sibuk dengan notebooknya selagi Mentari masih terlelap. Selama beberapa hari ini Dave memang bekerja sambil menemani Mentari di Rumah Sakit. Sesekali Ia akan ke kantornya jika dibutuhkan dan akan segera kembali lagi ke rumah sakit menemani Mentarinya.


__ADS_2