
Pukul delapan pagi, Dave dan Abi sudah berada di rumah Mentari. Mereka berencana untuk menjemput Bunda dan Ayah Mentari pagi ini di Bandara. Pesawat mereka dijadwalkan akan landing pada pukul 09:00 sehingga mereka berencana pergi menuju Bandara pada pukul 08:15 agar tidak perlu menunggu terlalu lama. Pasalnya hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk mencapai Bandara dari rumah Mentari.
Benar saja, tak perlu menunggu lama, sosok yang ditunggu sedang berjalan keluar dari Arrivals Gate. Mentari yang begitu merindukan kedua sosok tersebut langsung berhambur kepelukan keduanya. Ayah dan Bundanya yang sudah lama ia rindukan, yang sudah 10 hari tidak ia temui. Bahkan saat Mentari terpuruk kemarin. Bukan karena tidak peduli, namun mereka juga sedang putus asa dengan upaya pencarian Jo.
Pencarian yang melibatkan banyak pihak, pencarian yang sulit yang menguras energi, materi dan emosi. Pencarian yang berakhir Nihil. Tidak ditemukannya jasad, potongan jasad, benda peninggalan, maupun jejak kehidupan. Kedua orang tua Jo pun ikut serta dalam memantau pencarian. Mereka datang pada hari ke-5 pencarian.
Orang tua Jo menyetujui pemberhentian pencarian setelah 10 hari. Mereka sudah berpasrah pada takdir yang menimpa anak mereka. Mereka berencana akan menutup semua usaha mereka di negara ini. Namun bunda menawarkan bantuan untuk mengurus usaha mereka disini. Setelah dipertimbangkan, akhirnya mommy Jo setuju dengan bantuan bunda. Mommy Jo dan Bunda memang sudah berteman sejak kuliah.
Lepas dari Bandara, mereka mampir sejenak ke sebuah resto. Mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka di 10 hari terakhir. Mentari yang duduk diantara ayah dan bundanya, hanya mengamati jalannya cerita sambil terus bergelayut di lengan bundanya.
Sesekali bunda merapikan anak rambut Mentari yang terlepas dari satuan ikatan rambutnya. Bunda juga menyuapkan beberapa buah untuk Mentari. Dave dan Abi hanya tersenyum melihat interaksi Mentari dan Bundanya.
Tak ada pembicaraan mengenai pencarian Jo selama di meja makan. Mereka takut Mentari akan kembali mengalami depresi jika mereka membahasnya saat ini. Mereka masih sangat menjaga kondisi Mentari, meskipun Mentari selalu meyakinkan bahwa dirinya sudah baik - baik saja.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan urusan perut, Dave mengantarkan Mentari dan kedua orangtuanya kembali ke kediaman mereka. Dengan Selamat. Seharian ini Mentari terus berada di antara lengan ayah dan bundanya. Dave bisa memaklumi hal itu.
"Baiklah, mungkin dia terlalu gembira sampai melupakan aku." Gumam Dave dalam hati, sambil tersenyum kecut.
Dave dan Abi berpamitan pada orangtua Mentari untuk undur diri begitu mengantarkan mereka ke kediaman mereka dengan selamat. Meski sebenarnya sangat berat bagi Dave. Tapi, yasudahlah... Dave bisa bertemu lain kali.
"Abang pulang dulu, selamat kangen - kangenan sama bunda ya..." Ucap Dave sambil mengusap puncak kepala Mentari.
"Iya Bang, Makasih ya... udah jagain Mentari." Sahut Mentari sambil mengukir senyuman.
"Kamu gak papa sayang?" Ucap Bunda sambil memeluk Mentari.
"Mentari gak papa Bunda." Sahut Mentari.
__ADS_1
"Jadi gimana keadaan kamu sebenarnya?" Tanya Bunda.
"Kayaknya kalian mulai deket ya?" Sambung Bunda lagi.
"Hah... siapa bun?" Jawab Mentari.
"Kak Dave? Kak Dave yang jagain Mentari bahkan saat Mentari drop dirawat di Rumah Sakit, Bun." Terang Mentari.
Bunda memeluk erat Mentari dan mengusap kepalanya lembut.
"Maafkan kami ya nak." Ucap Bunda.
"Kamu pasti mengalami masa - masa yang sulit." Tambahnya.
__ADS_1
"Bunda akan selalu menemani kamu sayang. Bunda sayang kamu nak." Ucap Bundanya lagi.
"I Love You To the moon and back, mom." Ucap Mentari.