TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
YUK KELUAR


__ADS_3

Hmmmmmppphhhh


Mentari meregangkan tubuhnya. Ia bangun lebih awal hari ini. Setidaknya kali ini dia bangun di atas tempat tidur yang nyaman. Kembali ke rumah pun, terasa sangat asing baginya. Memorinya telah terhapus untuk sementara waktu, sampai batas yang belum bisa ditentukan. Semua tergantung stimulus dan respons dari memory Mentari sendiri.


Cirp....cirp...cirp...


Kicau burung yang bertengger di balkon kamar Mentari. Mentari keluar dari kamarnya, dihirupnya aroma pagi hari yang khas. Udara yang masih dingin dan berembun. Ia menyusuri balkon kamarnya, membuat burung gereja yang sedang bertengger tergugah dan terbang. Mengamati hiruk pikuk pagi buta dari pembatas balkon, ia sesekali tersenyum melihat lalu lalang orang di luar gerbang rumahnya yang ternyata sudah ramai meski mentari belum mulai terbit.


Satu tarikan napas panjang, kemudian ia hembuskan perlahan. Sungguh pagi yang menyegarkan. Mentari keluar dari kamarnya dengan berdendang riang, menyapa setiap orang yang ia temui yang sudah sibuk di dapur. Ia menuju ke kolam renang. Mentari mencelupkan kakinya ke kolam dan duduk di bibir kolam renang. Ia tidak berniat untuk berenang, ia hanya ingin menikmati pagi yang menurutnya sangat sejuk dan damai.


"Pagi sayang!" Bunda menutup punggung Mentari dengan selimut.


"Masih belum subuh, ko kamu udah disni? Yuk masuk!" Bunda memeluk tubuh Mentari untuk membawanya masuk.


"Mentari masih ingin disini bun, seger. Mentari pengen berenang juga, tapi pasti dingin." Mentari mengayunkan kakinya yang berada di dalam air.


"Iya, biasa juga jam segini kamu berenang bareng Mas Surya. Tapi kan Mentari baru pulih, jadi berenangnya kapan kapan aja. sekarang kita masuk yuk, bunda buatin susu buat kamu." Bujuk Bunda lagi.


"Maaf bunda, Mentari disini dulu ya..." Pinta Mentari.


"Oke. Tapi jangan berenang dulu, bunda masuk dulu ambil susu hangat buat kamu." Mentari mengangguk setuju. kemudian Bunda masuk ke dalam rumah meninggalkan Mentari kembali menyelami kesunyian seorang diri.


Halaman belakang rumah Mentari memang sangat asri, sesekali ada beberapa ekor katak yang bernyayi dipinggir kolam, dan Jangkrik yang melompat diantara rerumputan dan bunga di sekitarnya. Begitu tenang, begitu damai. Tersirat bayangan dua orang anak bermain di dalam kolam di suasana yang sama. Keduanya bermain air di dalam kolam dan saling memercik air.


"Sayang... kamu melamun..." Sapa Bunda dengan menyodorkan segelas susu ke hadapan Mentari. Lamunan Mentari seketika buyar.

__ADS_1


"Dulu Tari sama Mas Surya suka main air pagi - pagi juga Bunda?" Mentari meneguk susu yang dibawakan bunda dalam sekali tegukan.


"Iya sayang, dulu kalian suka main air, bahkan kolam ikan disebelah sana, sering kalian bersihkan. Alih - alih main air, kalian berlomba menangkap ikan sebelum membersihkan kolamnya." Papar Bunda sambil menunjuk ke arah kolam ikan di bawah gazebo.


Mentari memeluk Bundanya yang bercerita sambil berkaca - kaca. Pasti sulit bagi Bunda mengenang putra tercintanya dan menceritakan pada anak perempuannya yang kehilangan ingatannya. Bunda pernah bercerita tentang kembaran Mentari yang telah tiada tiga tahun silam.


Setidaknya itu hal yang harus Mentari ketahui sebelum ia kembali ke rumah. Rumah yang penuh dengan kenangan, rumah yang tiap sudutnya terdapat foto mereka berdua. Tak terpisahkan, selalu berdua. Bahkan sangat sulit menemukan foto mereka masing masing, karena mereka selalu berpose bersama.


Suara Adzan Subuh mengalun merdu, diiringi kokok ayam jantan entah dari mana yang terdengar sayup - sayup.


"Subuh yuk sayang... kita masuk dulu. Bunda siapkan sarapan, nanti kalo dah siap Bunda panggil buat sarapan." Bunda kembali mengajak Mentari masuk. Kali ini Mentari menurut perkataan Bunda. Usai melaksanakan ibadah subuh, Mentari memeriksa ponselnya. Ponsel yang entah sejak kapan tak terjamah olehnya. Namun ponsel itu meminta kode keamanan, dan tentu saja Mentari tak ingat kode keamanan yang ia buat. Beberapa kali ia memasukkan kode keamanan yang ia rasa benar, namun ponsel itu belum juga terbuka. Bahkan sensor sidik jarinya pun tak mampu membuka kode ponselnya.


Arrrggggghhhhhhh


PRAKKKKK


"Ada apa sayang?" Bunda datang dengan tergopoh - gopoh masuk ke dalam kamar Mentari. Ia melihat ponsel yang berceceran di dekat pintu dan Mentari yang menangis di atas tempat tidurnya sambil melipat lututnya.


"Kamu kenapa sayang?" Bunda merengkuh tubuh Mentari dalam pelukannya. Menyisir surai hitam Mentari dengan jari - jarinya.


" Itu ponsel Mentari kan Bun, tapi Mentari ga bisa buka ponselnya."  Mentari terisak menangisi ketidak berdayaannya.


"Gak papa sayang. Nanti kita ganti yang baru." Ucap Bunda berusaha menenangkan. Bunda mengulas senyum. Setidaknya kini Mentari tidak akan membebani ingatannya dengan ingatan kehilangan Jo dengan hancurnya ponsel itu. Sebab beberapa bulan lalu, bunda berusaha menyingkirkan semua kenangan tentang Jo, namun tak berhasil membuka ponsel milik Mentari. Bunda khawatir Mentari kembali shock saat berusaha mengingat Jo lewat foto - foto di ponsel Mentari. Namun kini ia tenang, setidaknya sekarang ponsel itu hancur. begitu pula dengan potensi shock akibat kehilangan Jo.


"Maafkan Bunda sayang." Gumam Bunda dalam hati. Bunda mendampingi Mentari hingga Mentari kembali terlelap.

__ADS_1


Pukul 10:00 pagi Dave sudah berada di ruang tengah bersama Bunda ketika Mentari turun dari lantai dua. Perutnya yang sudah keroncongan membuatnya terbangun dan langsung turun menuju dapur. Dengan masih mengenakan baju tidur dan rambut di cepol apa adanya Mentari turun menuju dapur. Tanpa menyapa Bunda dan Dave yang tengah asik mengobrol, Mentari asik menikmati sarapan paginya.


"Selamat pagi tuan putri!" Sapa Dave sambil menoleh ke arah meja makan, tempat Mentari melahap nasi gorengnya.


Mentari membalas dengan senyuman ala kadarnya.


Dave menghampiri Mentari di meja makan. Ditariknya kursi tepat disamping Mentari.


"Abang sudah sarapan?" Tanya Mentari kikuk. Dave hanya mengangguk dan mengulas senyum tipisnya yang sangat manis.


"Bunda bilang ponsel kamu rusak? Kalo udah selesai makan, buruan mandi, kita cari ponsel baru buat kamu."


Ucap Dave yang diakhiri dengan senyuman khasnya. Mentari melihat ke arah Bunda, Bunda mengangguk, tandanya dia mengijinkan.


"Oke." Sahut Mentari setelah mendapat kode diijinkan dari Bunda.


Mentari bergegas mengakhiri sesi sarapannya. Menyimpan piring bekas ia gunakan di tempat cuci piring dan bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Tunggu ya Bang, gak akan lama." Ucap Mentari dari anak tangga ketiga yang ia pijak saat ini. Dave mengangguk dan kembali tersenyum.


Setengah jam kemudian, Mentari muncul dengan dress kupu - kupu berwarna lilac, flat shoes dan rambut di cepol rapi.


"Bang... maaf lama. Yuk, Mentari dah siap." Sapa Mentari yang menghampiri Dave di halaman belakang bersama ayah dan bunda Mentari.


"Ayah, Bunda, Dave bawa Mentari keluar sebentar sambil cari ponsel baru buat Mentari." Pamit Dave sambil mencium tangan ayah dan bunda Mentari.

__ADS_1


"Ayah, Bunda, Mentari keluar sebentar bareng bang Dave ya..." Pamit Mentari juga.


"Hati - hati nak, kita titip Mentari. Kamu hati - hati bawa mobilnya ya bang..." Ayah memperingatkan Dave sebelum keduanya menghilang di balik pintu.


__ADS_2