
Saat sampai di halaman rumah Mentari, terlihat dari kejauhan sosok laki - laki yang tiba - tiba beranjak dari kursi di teras rumah. Tentu itu adalah Abi. Siapalagi laki - laki yang sedang menunggu kepulangan selain Abi. Kalau ayah pasti dia masih ada di kantornya jam - jam ini.
Mentari turun di teras pintu depan, sedangkan Dave menyimpan mobil ke garasi mobil.
"Cie...cie...yang habis halan halan pake mobil baru..." Goda Abi.
"Ama abang ganteng gua lagi." Sambungnya lagi.
Mentari yang langsung merah digoda Abi, ada rasa gelenyar aneh di dadanya. Ia pun merasakan ribuan kupu - kupu terbang di dalam perutnya. Sungguh menggelikan, membahagiakan dan entah rasa apalagi yang harus ia ungkapkan.
"Paan sih kak Abi. Lebhay loe!" Elak Mentari sambil mendorong bahu Abi yang sekarang ada di hadapannya.
"Loe emang bisa nyetir?" Tanya Abi meremehkan.
"Bisalah!" Jawab Mentari sambil sambil menggerakkan jempol ke telunjuk "kecil".
"Elleh... Kapan latihannya? Ama sapa?" Cecar Abi.
"Ama mas Surya tercinta lah!" Jawab Mentari.
"Kapan? Orang Surya ama gue mulu?" Cecar Abi makin tak mau kalah.
"Emang loe siape? Gue kan yang serumah ama mas Surya, kapan gue latihannya ya kapan aja kalo kita lagi keluar berdua. Tanpa loe pastinya." Jawab Mentari lagi.
Abi terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
ABI POV
Kok nyesek ya... "Loe siape?" Kata itu terngiang dan membuat hatiku sakit sekali. Iya sih gue bukan siapa siapa loe Tari, tapi kenapa hati ini tidak terima? Kenapa rasanya nyesek banget loe ngomong gitu ke gue?
ABI POV END
Dave muncul dari dalam halaman samping dan memecah keheningan diantara keduanya.
"Hey... Bro... Lagi main patung - patungan loe?" Sapa Dave sambil menepuk keras bahu Abi.
"Enggak kak." Jawab Abi singkat.
"Teruuuusss... Kooook paaaadaaa diiiieeemmm..." Tanya Dave dengan gaya slow motion.
"Ada setan lewat." Jawab Abi ketus.
"Loe setannya." Ucap Dave sambil melotot kearah Abi.
Abi merasakan kejanggalan yang terjadi pada sang kakak sejak dia bertemu Mentari pagi ini. Kakaknya yang biasanya cool, irit ngomong. Kok mendadak supel dan rame gini.
"Dari mana aja loe bang main bawa - bawa orang seenaknya." Gerutu Abi.
"Nyari makan doank. Ya kan Tari?" Jawab Dave sambil mengedipkan matanya kearah Mentari.
Huek... Abi mendadak jijik dengan tingkah si kakak. Sejak kapan kakaknya berubah menjadi semenjijikan ini? Ini aneh. Fix ini aneh. Kakak gue mendadak sarap. Batin Abi.
Mentari hanya mengangguk mengiyakan. Ia pun mendadak illfeel melihat reaksi Dave barusan.
Kok kak Dave sekarang gitu ya? Gag cool kaya dulu lagi. Pikir Mentari.
"Ngapain loe bang masih disini?" Tanya Abi ketus.
__ADS_1
"Ellah...loe dek, yaudah gue pulang dulu. Thanks buat hari ini Tari." Ucap Dave kemudian dan dia pun berlalu.
Sekarang Mentari mendudukkan pantatnya di kursi teras. Abi pun melakukan hal yang sama.
"Mbak... Mentari minta tolong ambilin minum boleh ga?" Pinta Mentari pada seorang ART yang barusan hendak masuk ke arah pintu samping rumahnya.
"Baik non..." Sahut Mbak Mirna.
Mbak Mirna segera menghilang dari pandangan Mentari.
"Ngapain aja sama abang gue?" Tanya Abi.
"Nggak ngapa ngapain kok. Pergi makan doang. Sambil cobain mobil baru." Jelas Mentari sambil nyengir kuda memperlihatkan gigi gigi putih yang kecil dan rapi.
"Terus jadi enggak latihan motornya, cari sanggar Muai Tai nya, latihan gym nya?? Huh??" Sambung Abi lagi.
"Ya jadi donk... Ini kan tadi intermezo aj, di luar dugaan, dadakan. Loe ngerti kan? Pokoknya gitu deh. Kan rencananya juga gue latihan motor sama loe kak." Terang Mentari panjang dan lebar.
"Terus sekarang gmana? Dah siang juga." Tanya Abi memastikan.
"Yah... Buat lumayanan, gapapa yuk bentaran latihan motor." Ajak Mentari yang diikuti anggukan dari Abi.
Abi beranjak dari posisi duduknya dan tidak sengaja menabrak Mbak Mirna dengan nampan di tangannya.
"PRANK..." suara gelas berhamburan di lantai.
"Maaf den." Ucap Mirna.
"Maafin Abi mbak, Abi ga liat liat." Kata Abi.
"Iya gpp mbak. Bersihinnya ati - ati mbak. Mentari pergi dulu sama Abi." Tutur Mentari.
"Baik non." Balas Mbak Mirna.
"Emangnya kemana Tar, orang latihannya di sini doank." Jelas Abi.
"Oh... Oke." Sahut Mentari menyetujui.
Setengah jam pertama Mentari diperkenalkan bagian - bagian motor dan fungsinya.
Setengah jam selanjutnya Mentari diajari mengendari motor secara perlahan. Kemudian mereka istirahat dengan meneguk jus Jeruk yang disiapkan Mbak Mirna di gazebo halaman depan.
"Gimana lo dah ngerti kan gimana cara kerjanya?" Tanya Abi.
"Iya. Kaya naik sepeda mah gue bisa." Jawab Mentari Mantap.
"Terus kapan mau belajar motor Surya?" Tanya Abi lagi.
"Sekarang aja gimana?"Ajak Mentari.
Abi melihat ke arah jam tangannya. Dan disana tertera waktu menunjukkan pukul 16.30.
"Udah sore. Besok lagi aja. Lagian belum mulai kuliah. Kecuali besok ada yang kabur lagi ama Dave." Cerca Abi.
"Apaan sih. Gue ga kabur sama Dave. Dave yang maksa gue." Terang Mentari sambil menggembungkan pipinya.
"Kok loe sekarang imut sih." Batin Dave.
__ADS_1
Dave menepis pikirannya segera. Saat ini ia ingin menyelidiki perubahan sikap kakaknya yang mendadak alay.
"Gue pulang dulu ya... Besok gue kabari loe lagi." Pamit Abi sambil beranjak dari gazebo.
"Ya... Makasih dah ajarin gue hari ini dan maaf bikin lo lama nunggu." Sesal Mentari.
"It's Ok dear." Ucap Abi sambil mengelus puncak kepala Mentari.
Mata Mentari berbinar menatap Abi yang mengelus kepalanya.
"Dah dulu ya... Assalamu'alaikum." Pamit Abi lagi.
Mentari memandang punggung Abi yang semakin menjauh.
Huft... Mentari menghembuskan nafas kasar. Dia menidurkan badannya di gazebo sambil menatap langit - langit gazebo. Pandangannya kosong.
Mentari tidak menyadari sebuah mobil yang tidak lain adalah mobil bundanya yang memasuki halaman rumahnya. Dia kebingungan dengan keberadaan mobil merah mewah di garasinya.
Setelah mencoba menanyakan perihal mobil merah tersebut pada para ART, Bunda menghampiri Mentari yang sedang berada di gazebo.
"Mentari..." Ucap bunda pelan sambil menepuk kaki Mentari.
Mentari yang hampir saja terlelap saat Bunda tiba - tiba datang dan menepuk - nepuk lembut kakinya.
"I-iya bun..." Jawab Mentari sambil mendudukkan tubuhnya.
"Itu mobil merah kata mbak Marni punya Dave kok disini?" Tanya Bunda.
"Itu mobil dari Tante Mommy, katanya hadiah kelulusan buat Mentari bun." Terang Mentari malas sambil mengucek matanya.
"Hah?? Masa iya?" Tanya Bunda tidak percaya.
"Tanya aja ke tante mommy, tadi Mentari coba nelpon tapi ga diangkat." Kata Mentari.
Bunda berusaha menghubungi Mommy Abi. Setelah mencoba berkali - kali akhirnya panggilan terhubung dengan si empunya.
.....
"Ko repot - repot! Mana kayaknya mobil mahal lagi mbak." Ucap bunda.
.....
"Apa? (Bunda kaget) calon mantu (Bunda berbisik)."
.....
"Insya Allah saya jagain biar ga dilaletin." Ucap Bunda
.....
"Wa'alaikum salam." Kalimat terakhir yang mampu mentari dengar sebelum panggilan Bunda dan tante mommy terputus.
"Apa katanya Bun?" Tanya Mentari penasaran.
"Iya katanya hadiah buat kamu. Tapi tante mommy titipin dua jagoannya ke kita. Yah... Jadi kaya sogokan gitu. Hihihihi." Terang Bunda sambil cekikikan.
Kemudian bunda meninggalkan Mentari yang masih mengantuk di gazebo dan dalam keadaan bingung akan sikap bundanya barusan.
__ADS_1