TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
BBQ Party buat semua


__ADS_3

Dave dan Abi Menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk BBQ Party. Abi sampai melibatkan semua ART yang ada di rumah mereka. Mereka sengaja tidak melibatkan ART di rumah Mentari karena takut merepotkan para ART karena ini diadakan dadakan. Namun tetap saja Dave mengajak semua penghuni rumah Mentari untuk menikmati BBQ party yang mereka gelar dadakan.


Semua berkumpul di halaman depan rumah Mentari dan menikmati BBQ party dadakan yang Dave dan Abi gelar. Dave sebagai pemrakarsa acara tersebut sangat sibuk dengan alat pemanggang di hadapannya, sesekali ia dibantu oleh ART yang sengaja ia panggil dari rumahnya. Meski tak ingin melibatkan ART di rumah Mentari, namun tetap saja para ART tak enak hati melihat tuan muda yang satu ini sibuk dengan alat pemanggang seorang diri.


Pukul 20:30 sebuah mobil hitam memasuki area pelataran rumah Mentari. Pasangan paruh baya itu kebingungan dengan keramaian yang terjadi di halaman rumah mereka.


"Bunda, Ayah, baru pulang." Mentari berhambur ke pelukan Bundanya saat Bunda baru saja keluar dari mobil.


"Ada apa ini sayang? ko rame banget." Bunda mengusap rambut putri kesayangannya sambil matanya berkeliling menyaksikan keriuhan yang terjadi di halaman rumahnya.


Dari kejauhan Dave tampak melambaikan tangannya ke arah Bunda, sedangkan Abi melambaikan tangan dengan penjepit mengacung ke udara sehingga tampak seperti lengan kepiting. Bunda tersenyum melihat keakraban diantara mereka semua. Demikian juga dengan ayah yang langsung berkumpul dengan para anak muda sesaat setelah turun dari mobil.


Dari tempat Mentari dan bunda berdiri Ayah tampak sedang bercanda dengan Dave dan Abi.


"Ayah... Mandi dulu sebelum ikut party." Panggil Bunda setengah berteriak. Namun hanya mendapat balasan 👌 dari ayah. Ayah menepuk bahu Dave, nampaknya ayah menyetujui saran Bunda untuk membersihkan badan sejenak sebelum ikut berkumpul.


"Bunda masuk dulu sayang, mau mandi dulu," pamit Bunda sambil berlalu meninggalkan Mentari. Mentari kembali berkumpul bersama yang lainnya. Menusukkan sayur, dengan daging maupun udang tusuk demi tusuk.


Haifa dibantu dengan beberapa ART memotong sayuran, sedangkan Cassandra yang juga dibantu ART lainnya membersihkan daging dan udang yang akan mereka olah. Langit cerah bertabur bintang yang menemani purnama nampak sangat sempurna bagi mereka. Suasana yang sangat mendukung acara BBQ party dadakan ini.


"Sayang... masih ada lagi gak yang harus dipanggang? Piring disana udah mulai kosong." Abi menghampiri Haifa yang sibuk dengan potongan dagingnya, melirik ke arah Mentari.


"Udah lumayan kayaknya, bawa aja." Pinta Haifa sambil menunjuk ke arah Piring yang sedang dihadapi Mentari.

__ADS_1


"Bahan - bahannya masih banyak kan?" Tanya Abi sambil melihat ke sekelilingnya, mengamati ketersediaan bahan - bahan BBQ.


"Masih banyak, gak usah dibikin semua. Liat tuh udah banyak banget, emangnya habis buat kita semua?" Ucap Haifa sambil menunjuk ke beberapa piring yang masih penuh dengan BBQ yang siap santap.


"Iya kayaknya, selesaikan aja yg udah dikupas dan dipotong. Ga perlu kupas udang dan potong daging lebih banyak." Pinta Abi pada beberapa orang di hadapannya.


Semua larut dalam kegembiraan dibawah gemerlap bintang dan purnama yang bersinar terang. Canda dan tawa bercampur penuh suka, hingga duka yang terjadi sebelumnya perlahan menguap. Mereka seakan melupakan kedukaan mereka beberapa waktu yang lalu. Semuanya tanpa terkecuali tanpa ada perbedaan kasta menyatu dalam riuhnya acara BBQ dadakan.


Tak terasa waktu sudah hampir tengah malam, namun keriuhan belum mereda. Hanya Mentari yang nampak kekenyangan duduk bersandar pada tiang gazebo. Sesekali senyumnya merekah mengamati orang - orang yang ada di hadapannya. Bunda yang sedang asyik berbincang dengan beberapa ART sambil mengelilingi pemanggang melirik ke arah Mentari. Melihat putri kesayangannya duduk sendirian, Bunda pun memutuskan untuk menghampiri Mentari.


"Kenapa Sayang?" sapa Bunda ketika langkahnya sudah dekat ke arah Mentari menyandarkan kepalanya.


"Gak papa kok Bunda." Jawab Mentari sambil membenarkan posisi duduknya. Bunda menghampiri Mentari dan duduk tepat di samping Mentari, kemudian mengarahkan kepala Mentari ke pangkuannya. Diusapnya surai hitam Mentari.


"Sedikit sih Bunda, tapi Tari seneng kok." Jawab Mentari sambil mengadahkan wajahnya ke arah Bundanya.


Sambil mengamati orang - orang di sekitarnya, Bunda terus mengusap lembut kepala Mentari yang berada dalam pangkuannya, dalam hatinya terus merapalkan doa untuk kesembuhan dan kesehatan putri semata wayangnya. Buah hatinya yang kini hanya tinggal satu - satunya. Sesekali Bunda bersenandung lirih sambil terus mengusap rambut Mentari.


Dave yang sedari tadi berbincang serius di sebuah Kursi taman bersama Ayah Mentari mengalihkan pandangannya sejenak. Sorot matanya menyusur tiap kerumunan orang yang ada di halaman rumah Mentari. Hingga pandangannya menangkap sosok Ibu dan anak yang sedang duduk di tepi gazebo di halaman luas tersebut. Dave mengajak ayah Mentari untuk menghampiri pasangan ibu dan anak tersebut.


Setelah hampir sampai di dekat gazebo, ia menyadari bahwa Mentari tengah terlelap. Bahkan bunda pun tidak menyadari bahwa putrinya sudah pulas.


"Bun, Tarinya dah bobo. Biar Abang yang bawa Tari naik, kasian... Tari pasti kecapean." Ucap Dave pelan.

__ADS_1


"Oh... Tarinya tidur toh??"


"Tolong bawa Tari masuk bang, gak usah naik ke atas. Tari bawa aja ke paviliun di belakang rumah yang biasa buat tamu." Pinta Bunda.


Dave mengambil alih kepala Mentari dan mengangkat tubuh Mentari perlahan. Dave membawa Mentari ke kamar tamu di paviliun belakang rumah Mentari dengan terus mengekor pada Bunda. Melihat sang pemilik pesta memasuki rumah. Keadaan berangsur sunyi dan para ART sedikit demi sedikit pamit dan pulang.


Dave membaringkan Mentari dengan sangat perlahan dan hati - hati. Usai meletakkan Mentari dan menutup tubuh Mentari dengan selimut, Dave mengecup kening Mentari sebelum beranjak pergi. Bunda yang masih berada disana tidak dapat berkutik karena terjadi begitu cepat. Bunda masih belum yakin pada Dave.


Dave kembali ke halaman depan, namun hanya tinggal beberapa orang yang sedang menyelesaikan bersih - bersih dan beberapa masih menikmati santapan yang masih banyak tersisa.


"Sisanya bisa kalian bawa pulang, simpan atau bagikan ke satpam depan atau anak - anak depan komplek aja." Ucap Dave pada beberapa ART yang sedang membersihkan alat pemanggang.


"Lo udah mau pulang bang?" Ucap Abi sambil menghampiri abangnya yang hendak beranjak pergi.


"Belum kok. Gue harus mastiin Mentari nyaman di hari pertama dia di rumah pasca kecelakaan kan." Tukas Dave menanggapi Abi.


"Jadi Lo mau nginep disini bang?" Sambungnya.


"Pengennya sih gitu. Tapi gue belum ijin ke Tante sama om." Jawab Dave lagi.


"Mereka berdua, mau nginep sini atau Lo anterin pulang?" Sambung Dave sambil menunjuk ke arah Cassandra dan Haifa yang masih sibuk dengan hidangan di hadapannya.


"Mereka tidur sini bang, dah biasa mereka mah. Lagian dah malem juga, yang ada mereka pasti kena semprot kalo pulang jam segini." Jelas Abi.

__ADS_1


"Yaudah, Gue pulang aja kalo ada yg nemenin Mentari. Tapi pastiin cewek Lo jagain Mentari. Segera kabari Gue kalo Mentari kenapa - napa." Pinta Dave sambil menepuk bahu Abi kemudian beranjak meninggalkan Abi.


__ADS_2