
Dave naik ke atas lagi dengan berbagai kotak dan plastik makanan. Rupanya ia turun karena makanan yang ia pesan sudah datang.
"Silahkan dinikmati." Ucap Dave singkat.
Teman - teman Mentari segera menghampiri meja yang kini dipenuhi makanan. Hanya Haifa yang masih belum beranjak dari tempatnya, ia masih menggenggam tangan Mentari. Dave menghampiri Mentari yang belum juga sadar.
"Lo ga makan bareng yang lain?" Tanya Dave.
Haifa hanya menggeleng.
"Nanti saja, gantian." Jawab Haifa.
Abi menghampiri Haifa dan memberinya sepotong pizza serta minuman cola yang dia letakkan di atas nakas di samping Haifa.
"Dia pingsan dari tadi?" Tanya Dave lagi.
"Ini kedua kalinya, dia sempat siuman tadi dan langsung histeris, gak lama dia pingsan lagi." Terang Haifa.
"Lo dah panggil dokter de?" Tanya Dave pada Abi yang berada di belakang Haifa.
"Belum Kak." Jawab Abi sambil menggeleng.
"Ishhh kamu tuh." Dengan segera Dave men-dial ponselnya untuk menghubungi dokter keluarganya untuk datang memeriksa keadaaan Mentari. Selesai menelpon, Dave duduk di samping Mentari. Dave mengangkat satu tangan yang lain dan dikecupnya perlahan, kemudian dia membelai wajah Mentari yang terlihat cemas meski dalam keadaan tidak sadar. Dave membelainya perlahan, dengan sangat lembut, hingga raut kecemasan di rona wajah Mentari perlahan memudar. Dave menangkupkan kedua tangannya di wajah Mentari yang masih tidak sadarkan diri dan mengecup kening Mentari.
Tak lama setelah Dave melakukan ritual menyentuh wajah Mentari, ia sadar. Mentari bangun dari pingsannya dengan kondisi tidak lagi histeris, sedikit lebih tenang. Mentari memutar pandangannya, mencari sosok yang ingin ia temukan.
Dave yang tanggap, segera memeluk Mentari dan menidurkan kepala Mentari di ceruk lehernya. Aroma maskulin dari tubuh Dave sedikitnya membuat Mentari lebih tenang.
"Kak... kak Jo... tolong cari kak Jo..." Rintih Mentari.
"Ia sayang, aku akan bantu cari kak Jo kamu." Ucap Dave menenangkan.
"Kamu pasti belum makan kan, makan dulu ya.. nanti kita bicarakan tentang Jo lagi." Bujuk Dave sambil membelai rambut Mentari yang masih ada dalam pelukannya, Dave memberi Kode pada Abi agar Membawakan makanan untuk Mentari makan.
"Minum dulu sayang." Dave memberikan Mentari minum dari gelas yang sedari tadi berada di atas nakas.
Mentari meminumnya hingga sedikit.
"Habiskan." Pinta Dave.
__ADS_1
Mentari menghabiskan minumnya. Ia terisak lagi. Dave memegang kedua bahu Mentari dan menghadapkan wajahnya ke arah Mentari.
"Sayang, dengerin abang. Kita semua cuma bisa berdoa semoga ga terjadi apa - apa sama Jo. Ayah dan bunda kamu juga sedang berusaha menemukan Jo bukan?"
Mentari mengangguk. Ia masih sesenggukkan menahan tangisnya.
Dave kembali membelai Surai hitam itu lagi. Membawa Mentari kepelukannya lebih dalam.
Mereka yang menyaksikan adegan Dave dan Mentari hanya bisa terdiam bingung dengan cara Dave menangani Mentari. Mentari bisa setenang itu berbanding terbalik saat pertama dia siuman tadi.
Abi datang dengan berbagai makanan di baki yang ia bawa. Dari buah, nasi dan lauk, pizza. Ia menghampiri Mentari yang masih berada di pelukan Dave.
"Kamu makan sayang, biar kamu kuat nunggu kabar dari Jo." Ucap Dave sambil melepaskan pelukannya.
Mentari menggeleng.
"Jangan sampai, Jo sedih pas dia ditemukan, malah liat kamu yang sakit. Kamu mau kan jadi orang pertama yang Jo temui?" Sambung Dave lagi.
Mentari mengangguk.
Dave menyuapinya dengan nasi dan lauk. Mentari hanya menerima 3 suapan nasi dari Dave. Suapan keempat dia menggeleng.
Mentari menggeleng lagi.
"Salad?"
Mentari kembali menggeleng.
"Atau buahnya aja."
Mentari kembali menggeleng.
"Yasudah, minum airnya dan sebentar lagi dokter pasti datang." Ucap Dave sambil mengusap kepala Mentari.
Dave beranjak dari tempat tidur Mentari, hendak meninggalkan Mentari yang masih terduduk di tempat tidurnya. Namun tangannya dicekal oleh Mentari. Mentari tak melepaskan tangan Dave, seakan tak mau ditinggalkan.
"Abang mau mandi dulu liat? Abang belum mandi, nanti habis mandi Abang sini lagi temenin kamu." Ucap Dave sambil menjentikkan jari ke hidung Mentari.
Mentari menggeleng, ia memeluk Dave dengan erat, tak peduli ada berapa pasang mata yang memandanginya saat ini. Tak peduli pula bahwa Dave belum mandi saat ini. Pelukan, yang Mentari butuhkan saat ini adalah pelukan, yang dapat menenangkan hatinya adalah sebuah pelukan hangat. Mentari kembali terisak dalam pelukan Jo.
__ADS_1
Drrrt Drrrt
🎶🎶🎶🎶
"Naiklah, dilantai 2." Dave meminta orang yang menelpon untuk naik ke lantai 2.
Tak lama seseorang muncul dengan tas medis di tangan salah satunya. Dave menengok ke arah pintu dan menyambutnya dengan bahasa mata. Mereka memasuki kamar, Abi turut menyambutnya karena dokter Nizar adalah dokter pribadi keluarganya dan keluarga Mentari.
"Mentari, dokter sudah datang. Biar dokter Nizar periksa kamu dulu oke?" Bisik Dave. Dave mencoba melepaskan pelukan Mentari, dan beranjak memberi ruang untuk dokter Nizar. Namun Mentari kembali tak mau ditinggalkan Dave.
Haifa beranjak memberi ruang untuk sang dokter memeriksa. Akhirnya Mentari diperiksa sambil tetap memegang dan didampingi Dave.
"Semuanya oke, saya cuma kasih anti depresan dan penghilang rasa sakit takutnya dia kebanyakan pikiran dan mengeluh sakit kepala nantinya. Oke saya pergi dulu, kalo ada apa - apa bisa langsung hubungi saya. Saya pamit."
"Terima kasih." Ucap Dave.
Abi mengantar dokter Nizar sampai ke teras rumah setelah sang dokter berpamitan pada semua orang yang ada disana.
Dokter Nizar adalah dokter yang direkomendasikan keluarga Mentari pada keluarga Abi. Sehingga dia sudah terbiasa dengan ketiganya.
Dave membaringkan Mentari di tempat tidurnya. Dia membelai lembut kening Mentari hingga Mentari dengan mudahnya tertidur dengan tetap menggenggam tangan Dave. Abi dan yang lain kini berada di balkon kamar Mentari, sambil memandang rumah sebelah yang memiliki balkon tepat berada di seberang balkon kamar Mentari. Dari sanalah Jo menautkan hati. Namun kini keberadaan Jo belum juga ditemukan, kabarnya pun belum terdengar. Namun jasadnya tidak ditemukan diantara korban kecelakaan. Ayah dan Bunda Mentari masih harus menunggu investigasi lebih lanjut, ia ingin mendapatkan kabar tentang Jo se akurat mungkin. Demi Mentari menemukan kembali Jo nya, Demi kebahagiaan Mentari anak satu - satunya kini.
Malam mulai larut, mereka memutuskan masuk untuk beristirahat. Saat masuk kembali ke kamar Mentari mereka melihat Dave tertidur sambil terduduk di samping tempat tidur Mentari. Mungkin dia kelelahan, Ia baru saja kembali dari perjalanan dinas, ditambah dengan Mentari yang dalam kondisi terguncang.
"So sweet banget sih abang lo Bi..." Ucap Noni.
"Apaan gue juga heran." Sahut Abi.
"Hah?" Mereka terkejut melihat reaksi Abi.
"Baru kali ini abang gue begitu, gue sakit aja dia biasa aja. Baru sekarang dia serepot itu." Gerutu Abi.
"Ya karena Lo cowok kali jadi dianggapnya pasti kuat lewati sakit." Ucap Cassandra.
"Ya tapi kan yang adik kandungnya gue." Gerutunya lagi.
"Yaudah deh Whatever yang penting sekarang Mentari ada yang bantuin jagain, dan tenangin dia." Ucap Mike.
"Semoga Mentari bisa Tersenyum lagi." Ucap Haifa.
__ADS_1
Mereka masuk ke kamar yang telah disediakan meninggalkan Mentari dan Dave serta Haifa dan Abi yang khawatir jika Dave ditinggal hanya berdua dengan Mentari.