TERSENYUMLAH MENTARI

TERSENYUMLAH MENTARI
Harus di rem


__ADS_3

Abi belum berani menemui Mentari, ia takut akan bertemu juga dengan Jo. Ternyata pria dingin itu mulutnya sangat pedas. Dia enggan berurusan dengan pria menakutkan seperti itu.


Abi : "Gue baru pulang


anterin Haifa."


^^^Mentari : "Terima kasih.^^^


^^^Maaf soal yang tadi."^^^


Abi : "Gak papa ko, itu


emang salah gue.


Abi : "Haifa tadi bilang ke gue


orang tuanya berpesan 'dia ga


boleh berdua cowok di ruang


tertutup' makanya dia ga mau


berdua naik mobil bareng gue."


^^^Mentari : " Ya Lo buka aja^^^


^^^kap atas mobil Lo.^^^


^^^Susah amat dah."^^^


Abi : "Ahh bego, Lo bener


Pantes Lo juara 2, Lo cerdas"


^^^Mentari : "Baru nyadar Lo?^^^


^^^Lo nya aja yang lemot^^^


Mentari tersenyum sambil menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Lo sakit sakit sayang? Pusing?" Tanya Jo khawatir sambil memeriksa kening Mentari.


"I'm Ok honey." Ucap Mentari lembut sambil tersenyum.


Jo membelai kepala Mentari. Hatinya menghangat saat melihat senyum Mentari yang mengembang. Ada gelesar lembut dalam dadanya yang membuatnya tergelitik, serasa ada ribuan kepakan sayap kupu - kupu di rongga dadanya. Dia mengecup kening Mentari sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali... berkali - kali.


Cup💋


Mentari mendapatkan tempo yang pas mendaratkan ciuman di bibir Jo. Aksinya ini mematik api yang sudah bergejolak dalam jiwa Jo. Dipagutnya bibir ranum itu, dihisap dan dilumatnya perlahan. Mentari membalas tiap *******. Jo menghentikan aksinya sebelum kebablasan. Namun Mentari merajuk.


"Gak sayang, jangan diterusin. Sabar ya..." Ucap Jo sambil tersenyum dan mengelus puncak kepala Mentari.


Sebenarnya butuh pengendalian extra kalo Mentari sudah menggebu. Jo tak ingin memulai dengan tergesa - gesa, dia memilih untuk menjaganya hingga saat itu tiba dan mereka tidak mengecewakan keluarga mereka. Itu mengapa Jo selalu menahan agar tidak kebablasan. Harus di rem.


Bunda masuk ke kamar Mentari untuk mengajak makan malam. Bunda melihat Mentari yang merajuk pada Jo.


"Kenapa sayang? Ko kusut?" Tanya bunda sambil menepuk pundak Mentari.


"Itu bunda, Kak Jo curang. Ga mau kasih ke Mentari." Ucap Mentari tanpa kontrol.


"Kasih apa si Jo." Bunda berpaling dan menghadap Jo.

__ADS_1


Jo tertunduk malu.


"Kasih cium bunda." Rengek Mentari. Seketika Bunda melotot dengan pengakuan putri kesayangannya.


*Iiiiiiiiihhhhhhh....


Bunda mencubit hidung Mentari.


"Aaaaaaawwww... sakit bunda ih." Cicit Mentari*.


"Lagian kamu aneh - aneh aja mintanya." Gerutu bunda.


"Kan cuma cium bunda ga lebih." Elak Mentari.


"Jo takut kebablasan bunda." Jawab Jo.


"Udah - udah... makan yuk. Bunda mau ajak Jo makan di bawah. kamu makan sini aja ya?" Lerai Bunda.


"Jo makan disini aja bunda, temenin Mentari. Biar Mentari nanti Jo yang suapi."


"Okey...." Ucap bunda sambil berlalu. Tak lama Mbak Nah membawakan makanan untuk mereka berdua.


"Makan sayang." Ucap Jo sambil mengangkat sendok di hadapan Mentari.


"Enggak!" Rajuk Mentari.


"Ayo makan, biar cepet sembuh. Ayo sayang."


"Ogah." Ucap Mentari sambil menggelengkan kepalanya.


"Yaudah aku yang makan." Jo menyuapkan sendok demi sendok ke dalam mulutnya. Sementara Mentari masih merajuk.


"Kamu beneran ga mau makan?" Tanya Jo lagi.


"Okey."


"Satu siap satu cium." Pinta Mentari.


"Oke."


Jo POV


Ko jadi gue yang di mesumin Mentari, Gue mah oke aja disuruh cium. Pe-eR buat gue ini mah, gue kudu solo. Tahan ... tahan...


POV End


Suapan demi suapan sudah terlaksana, isi piring pun sudah habis. Menyisakan Jo yang tragis. Pasalnya Mentari minta cium di banyak tempat dan Jo mencoba untuk menahan hasratnya agar tak membludak.


Hari ini Jo juga menginap di kamar Surya. Dia lupa hari ini di belum menceritakan poin penting terkait kecelakaan yang dialami kekasihnya. Dia merasa ada yang menguntit dan berusaha mencelakai Mentari.


"Surya... Lo juga awasi Mentari kan..." Gumam Jo sambil menatap langit - langit kamar Surya dan kemudian terlelap.


...****************...


Hari ini Abi ke kampus menggunakan BMW i8 miliknya. Sebenarnya Abi malas menggunakan mobil seperti ini untuk kampus, dia tidak ingin terlihat mencolok. Makanya selama ini dia lebih memilih menggunakan city car pada umumnya.


"Demi bisa bawa Haifa. Bantu Gue." Ucap Abi sambil mengelus mobilnya.


Abi : "Siang ini mau besuk Mentari enggak?"


^^^Haifa : "Aku ke Mentari^^^

__ADS_1


^^^naik bus aja."^^^


Abi mengacak rambutnya kasar. Dia langsung DITOLAK. 🤣🤣🤣


"Apa sih kurangnya gue..." Gumam Abi sambil kembali mengacak rambutnya. Mahasiswa lain yang melewati Abi hanya bisa nyengir melihat kelakuan Cowok yang satu ini.


Usai kelas, Abi sengaja menunggu di dekat halte bus. Benar saja, Haifa muncul dari arah yang sudah ia perhitungkan.


"Haifa yuk sekalian sama aku aja." Ajak Abi.


"Maaf tapi aku ga bisa." Jawab Haifa.


"Kita ga diruang tertutup ko. Semua orang bisa liat kita ko." Ajak Abi sedikit memaksa dan membawa Haifa menuju mobilnya yang sudah bersandar di trotoar.


"Naik ini?" Ucap Haifa.


Abi mengangguk. Dia membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Haifa masuk.


"Masya Allah... mobilnya bagus banget, lecet enggak nih kalo gue masuk. Tar diminta ganti rugi gimana?" Gumam Haifa. Ia naik ke mobil Abi dengan sangat hati - hati. Takut mobil itu lecet dan ia nanti dimintai ganti rugi.


Abi segera melajukan mobilnya menuju rumah Mentari. Angin berhembus menerbangkan hijab panjang Haifa. Sesekali Abi melirik ke arah Haifa yang memegang erat hijabnya agar tidak terus - terusan terbawa angin.


"Atapnya mau ditutup aja atau..." Kalimat Abi menggantung, belum juga selesai Haifa sudah menolaknya.


"Jangan!!!" Pekik Haifa.


"Gak papa kaya gini aja, gue gak papa." Sambung Haifa.


"Kayaknya Lo kerepotan, hijab Lo terbang - terbang kebawa angin." Jelas Abi.


"Gue gak repot kok. Gue gak papa." Ucap Haifa lagi mencoba meyakinkan Abi.


Abi mengulum senyumnya melihat kelurusan Gadis di sampingnya ini.


"Hmmm... boleh mampir ke mini market terdekat?" Pinta Haifa ragu.


"Boleh. Boleh banget." Jawab Abi kegirangan.


Mereka mampir ke mini market terdekat untuk membeli beberapa kue, buah, tissue, dan makanan kucing.


"Makanan Kucing? Buat Mentari?" Tanya Abi penasaran.


"Enggak lah. Masa buat Mentari. Makanan kucing di tas gue abis, harus re-stok." Papar Haifa.


"Lo punya kucing?" Tanya Abi.


Haifa menggeleng.


"Trus makanan kucingnya? Masa lo yang makan."


"Buat kucing liar, kan kasian kalo ga ada yang kasih makan. Adik gue punya asma, jadi juga ga bisa pelihara kucing." Jawab Haifa lesu.


Abi tersenyum simpul.


Abi POV


iiiiih gemes banget deh. Cantik, sholehah, penyayang binatang. Binatang liar aja dia sayang, apalagi kalo gue jadi suami dan ayah dari anak - anaknya...


Abi POV End


Abi merentangkan tangannya, Haifa dengan kaget langsung mundur satu langkah dari hadapan Abi. Terlanjur merentangkan tangan, alih - alih memeluk Haifa, ia pura - pura mengusir lalat yang tidak ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Harus di rem." Gumam Abi.


__ADS_2