The King'S Bride <•End•>

The King'S Bride <•End•>
11. Menolong


__ADS_3

Seorang Pria terkulai lemah dibawa pohon itu pantesan saja tak terlihat sebagian tubuhnya tertutup dedauanan dan ranting jatuh



"Itu Mayat?! Yaelah serius ni ada pembunuhan kok ada mayat disini?" dengan mata melotot alin mulai menendang pelan tubuh itu dengan kakinya



Akrh...


Suara erangan pria itu membuat jantung alin hampir copot. 'Hidup mayatnya hidup dia Zombie atau emang belum mati?' dengan takut alin membersihkan dedaunan diatas pria itu



Wajahnya tertutup darah yang mulai mengering baju nya merah karena darah. pria itu bergumam


"T.. To.. Tolong aku, please help me!" suaranya sangat pelan seakan akan dia akan menghilang



Alin yang baru saja kembali ke akal sehatnya segera membantu pria itu bersandar dipohon. Dia berlari ke anak sungai terdekat keranjang yang awalnya dia bawa untuk membawa tanaman obat diIsinya dengan air, saat ini dia hanya bawa sekotak kecil perlengkapan medis bersamanya dia hanya bisa berharap ini cukup untuk sementara



Alin mengambil kain kasa lalu menyeka darah pria itu dengan air dalam hati gadis kecil itu terus meyakinkan dirinya 'Dia manusia tenang alin dia bukan Zombie. Percayalah Dia itu Manusia!'



Alin melepaskan pakaian pria itu saat alin hendak menyekanya. "Oh tuhan ini buruk!" netranya mendarat ke tiga titik dipundak kirinya selain terkena tusukan pedang diperut pria itu juga terkena peluru



Tatapan alin menjadi suram setenang mungkin dia berusaha bertindak sebaik-baiknya "Tuan apa kau masih mendengarku?" lirih alin seraya menepuk wajah pria yang telah ia seka. Pria itu kehilangan banyak darahnya pantasan saja sebelumnya alin dari kejauhan mencium bau amis. Perlahan pria itu membuka matanya lalu mengangguk tak ada suara keluar dari mulut kering pria itu



Alin mengeluarkan bekal airnya dan membantu pria itu untuk minum. Setelah itu dia lanjut membersihkan luka-lukanya saat ini dia hanya bawa Alkohol 100 ml jadi dia harus bisa menghemat agar cukup



Alin membalut luka pria itu dengan perban yang sudah dilapisinya dengan kain kasa 'Setidaknya ini bisa menghentikan pendarahannya sementara'



Alin yang melihat pria itu mulai sadar segera mengecek kondisinya


"Tuan apa kau bisa bangun dan berjalan?"



Kalau tidak cepat cepat diobati lagi lukanya bisa infeksi dengan lemah pria itu mengangguk. Alin tau pria dihadapannya saat ini sangat lemah terlihat sekali kalau dia haus dan lapar tapi apaboleh buat jika terus disini dia tidak akan bisa selamat.



Alin ingat dia membawa bekal gaben bayi untuk camilan, tapi saat ini pria itu tak bisa menelan sesuatu yang keras alin melihat sekelilingnya 'Daun Pisang' alin berlari dan mengambil daun pisang itu dari pohonnya sebelum dia pakai alin mengelapnya



Alin menggulung daun pisang itu seperti pembukus nasi lalu dia masukkan semua Gaben yang dia bawa dan mencapurkannya dengan air alhasil Gaben itu menjadi bubur bayi



"Tuan buka mulutmu!" pintah alin,pria itu menurut dan membuka sedikit mulutnya alin dengan segera membentuk daun pisang sisa menjadi sebuah sendok lalu ia menyuapi pria itu



"Apa kau bisa menelannya?"



Pria itu mengangguk alin trus menyuapi pria itu dengan cepat lalu dia mengemasi peralatannya



"Tuan apa kau bisa bangun? bajumu telah ku cuci di sungai jadi kau bisa memakainya semantara" alin memakaikan baju pria itu kembali dan membantu dirinya berdiri



"Apa kau bisa berjalan?" tanya alin cemas



Pria itu dengan lemah mengangguk alin membantu membopong pria itu dipundaknya perlahan namun pasti keduanya berjalan menjauhi tempat itu



Saat Rumah alin terlihat, alin meneriaki bibi dan paman yang sedang menyapu dan memotong rumput dihalaman untungnya Villa ayahnya itu tak jauh dari hutan


"Bibi, Paman Cepat bawakan Kursi Roda!"



Keduanya menoleh ke gadis bermata biru itu dengan tatapan keget dengan apa yang dibawanya Paman langsung menghampiri Alin dan menggantikannya membopong pria itu bibi yang tadi masuk rumah dengan cepat berlari membawa kursi roda ke halaman belakang tempat nonanya berada



"Ini Non!"



"Paman Letakkan dia dan bawa dia masuk ke dalam!"



"Bibi kau bisa menyiapkan kembali Ruangan kemarinkan?!"



"Iya nona akan saya siapkan"



Ini bukan hal yang baru bagi kedua orang itu. semenjak nonanya ada disini banyak orang yang datang ke villa untuk berobat nggak itu pagi ataupun malam sehingga alin berinisiatif membuat ruangan pasien pribadi



Setelah membersihkan diri alin memakai perlengkapan dokternya


Dilihatnya paman dan bibi berdiri dipinggir pintu kamar pasien



Pria itu sudah dibaringkan alin segera mengecek kondisinya, dia mengambil sampel darah dan mencocokannya dengan donor yang ada "AB + kosong, kalau aku menyuruh paman ke rumah sakit kota pasti nggak akan sempat" gumamnya. Seketika ide gila muncul dipikirannya "Darahku O aku bisa mendonorkannya"



"Bibi bisakah kau membantuku?" sang bibi mengangguk alin menginstruksikan bibi untuk mengambil darahnya awalnya bibi ragu karena dia tau nonanya beberapa hari belakangan ini sedang kurang sehat.



Setetes demi setetes darah mengalir di selang wajah cerah gadis kecil itu berubah menjadi pucat



Setelah satu kantung penuh telah terisi darah. Alin segera memulai proses pembiusan lalu dia menjahit luka dan mengeluarkan peluru tak lupa dia memasang alat infus dan lainnya



Pria itu sungguh merepotkan! Dia kehilangan banyak darah tapi hebatnya dia bisa bertahan



Alin menatap wajah pria itu, sebelumnya dia nggak memperhatikan nya sama sekali tapi wajah itu sangat familier pria rambut panjang dengan wajah mulus seperti telah diukir. 'Dia mirip seseorang, tapi siapa?'



Sakit kepala mulai menyerang gadis itu dia keluar dari kamar pasien "Paman Untuk sementara kau bisa menaruhnya dikamarku, aku akan tidur dikamar Kak Vano dilantai atas"

__ADS_1



Gadis kecil itu terhuyung huyung saat menaiki tangga "Nona biar aku bantu?" ucap bibi, alin menggelengkan kepalanya "Nggak usah bi alin cuman butuh istirahat, ntar bibi tolong buatin bubur ayam sama air madu ya? Kalau pria itu bangun bibi jangan langsung kasih dia minum atau makan tunggu dia sampai buang angin dulu oke?" alin tersenyum lembut dengan wajah pucatnya



"Iya Non"



...



Saat pria itu membuka mata dan sadar, aroma wangi makanan memenuhi ruangan



"Aku dimana ?" gumamnya



Pria itu menoleh ke mangkuk porselen dimeja sampingnya saat hendak mengambil mangkuk itu


Pria itu sadar tangannya sulit digerakkan



"Tuan apa kau baik-baik saja?" tanya wanita paruh baya padanya



Pria itu mengangguk "Apa kau tak mengenalku?" tanya nya. Wanita tua itu takut setengah mati 'Apa dia mengalami lupa ingatan seperti yang pernah dikatakan Nona?' alin emang sering bercerita banyak kepadanya tentang berbagai penyakit



"Emangnya siapa nama tuan?"



"Namaku Fang zue" gumamnya


Bibi menghela nafas ternyata dia nggak lupa nama itu berarti dia nggak lupa ingatan



"Apa ini untukku?" tanya seraya melihat semangkuk bubur diatas meja. Bibi itu mengangguk lalu menggelengkan kepalanya "Iya itu untukmu tapi kata nona kau tak boleh memakannya sekarang"



Pria itu mengerutkan keningnya sudah cukup tangannya sakit karena sebuah benda asing dicucukkan didalamnya dan sekarang wanita itu menyiksa perutnya yang lapar



"Kenapa aku tak boleh? Siapa dia melarangku?"



Bibi hanya bisa tersenyum "Kata nona kau boleh makan kalau telah buang angin" pria itu malu bagaimana bisa wanita itu menyuruhnya buang angin



"Ka... Kalau begitu berikan aku minum!"



Bibi menggelengkan kepalanya "Maaf Tuan minuman juga sama anda harus buang angin dulu" seberapa besar niat wanita itu menyuruhnya buang angin



"Kalau begitu kau bisa pergi!"


Sang bibi pergi seraya membawa mangkuk porselen dan segalas air bersamanya




Walaupun telah menunggu satu harian wanita itu nggak muncul dihadapannya. Dia hanya melihat wanita paruh baya yang menjaganya dan memberinya obat serta makanan



Siapa sih wanita itu kenapa dia nggak keliatan bukankah dia yang menyembuhkan nya



Fang menatap sekeliling ruangan untuk mencari petunjuk siapa wanita misterius itu namun sayangnya usahamya gagal dia hanya bisa menemukan bingkai besar lukisan seorang gadis dikamar itu



"Apa dia gadis itu?"


Ntah lah dia tak menemukan apapun dan anehnya saat dia dikamar ini dia hanya ingin tidur diatas kasur yang empuk



Tepat saat tengah malam seorang wanita muda masuk ke kamarnya "Bibi kau sudah bawa botol infusan? Bagaimana keadaannya apa ada demam atau semacamnya tadi?"



Sang bibi yang membawa nampan berisi botol infusan terseyum bangga "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan non, kau telah melakukannya dengan sangat baik"



Fang hendak bangun untuk melihat wanita itu tapi ntah mengapa matanya sangat sulit untuk diangkat "Bi letakkan saja nampannya di meja, bibi jangan terlalu dekat soalnya tubuh alin masih bau obat bius"



Fang Zue merasakan tangan dingin dikeningnya dia mencoba menatap wanita itu namun pandangannya buram dia hanya bisa melihat bibir halus dan mata biru didepannya



Alin tak memperhatikan Fang zue dia hanya fokus ke botol infusan yang sedang ia ganti



"Bibi kalau dia sadar nanti pagi jangan lupa beri obat yang saya berikan"



Sang bibi mengangguk "Siap dokter"



....



Tak terasa waktu tiga hari sudah berlalu Fang sangat kesal karena sampai sekarang dia belum berhasil melihat wanita misterius yang selalu mengganti cairan obatnya setiap tengah malam



Karena sudah bisa bergerak dia memutuskan untuk keluar dari rumah dan sedikit berjalan-jalan



"Tuan kondisi anda belum pulih sepenuhnya kata nona anda harus banyak beristirahat"



Ya walaupun rumah ini menurutnya sangat nyaman dan ditambah ada telivisi siaran lengkap yang 42 inch di kamar tempatnya, tapi tetap saja membosankan



"Aku nggak papa bi, lagian siapa nonamu itu? Kenapa dia nggak mau muncul didepanku?"


__ADS_1


Sang bibi menghela nafas sebenarnya ini sudah tiga hari nonanya mengurung diri di Rumah Kaca. Rumah kaca itu selalu dikunci dari dalam nona hanya keluar saat malam hari, itupun dengan tubuh lemas bibi sebenarnya sudah mengantarkannya makanan tapi hanya sedikit yang disentuhnya



"Nona sedang sibuk"



"Oh sibuk"


Fang mengedik bahunya tanpa terasa tatapannya mengarah ke rumah kaca tepat di samping rumah



"Itu tempat apa bi?"



"Oh itu rumah kaca tempat tanaman"



Fang Zue mengangkat tongkat infusnya dan berjalan ke rumah itu namun sayangnya itu dikunci



"Bi kenapa dikunci?"



"Bukan bibi yang ngunci tapi nona" dengan cemas bibi menatap kereta makanan didepan pintu 'Nona belum makan padahal kemarin malam juga nggak makan' kecemasan bibi semakin bertambah saat



Praangg...


Terdengar suara benda jatuh didalam bibi langsung menggedor pintu itu "Non... Nona.., Nona nggak papa? Buka pintunya nona"



Dari dalam terdengar sebuah teriakan "Aku nggak papa bi, nggak usah khawatir"



Sebenarnya alin sedang merekam risetnya dia mengembangkan obat bius jadi dia melarang seorang pun mendekati nya



Setelah beberapa saat alin membuka pintunya dan berjalan keluar dengan kacamata yang dikaitkan dihidung mata birunya menyipit saat menatap cahaya matahari diluar ruang kaca begitu membuka pintu diruang kaca mataharinya tak menyengat karena tertutup pepohanan yang rimbun



"Ka... Kau?" Fang Zue menganga kaget


Alin mengendikkan bahunya


"Kenapa apa kau kenal saya?"



Fang mengangguk "Ya kau kan wanita Gila yang ada dihutan itu kan!"



Alin memijat batang hidungnya 'Pantesan Familiar banget wajahnya ternyata dia banci itu' gumam alin


Seraya membenarkan kaca matanya



"Oh kau sudah bisa berjalan? Sekarang kau boleh pulang"



Fang zue cemberut dia sudah begitu keenakan sehingga dia lupa tentang pulang "Kau menghusirku, kau tau kan siapa aku?"



Alin memutar bola matanya dengan sedikit kesal "Ya aku tau sebab itu aku menyuruhmu pulang aku akan mengganti perbanmu dan aku akan menyuruh Ray mengantarmu kembali"



Fang zue mengangkat alisnya "Bagus kalau kau tau, tapi bagaimana dengan obat ku nanti?"



"Aku akan membawakanmu obat kalau ada apa-apa kau bisa menyuruh dokter istana!"



Alin membawanya masuk kembali ke kamar dia melepaskan perban Fang zue dengan perlahan "Tahan aku akan mengoleskan salep" tangan kecil alin mulai mengusap lembut bagian luka yang telah dijahit Fang zue hanya bisa diam dan menatap keseriusan gadis didepannya tangan gadis itu begitu dingin dan halus sehingga dia lupa cara bernafas ataupun mengalihkan pandangan 'Fang'er kau harus ingat dia masih wanita gila dihutan itu'



Setelah selesai alin melepaskan infusan ditangan Fang zue, awalnya Fang sedikit menjerit namun setelah diberi kapas dia tak merasakan apapun lagi



Tiba-tiba pintu kamar terbuka "Kak apa kau didalam?"



"Iya disini ada pasien"



"Pasien, tapi kan ini kamar kakak"



"Iya pasien kali ini khusus"



"Khusus?" Fang Zue hendak bertanya namun alin sudah memotongnya



"Pasien Khusus untuk harga yang istimewa"



Lagi lagi Fang Zue dikejutkan oleh kepribadian gadis itu, dia benar benar mata duitan



"Siapa Pasien kakak?" tanya Ray seraya berjalan menuju ranjang, alin menunjuk pria didepannya "Tuh kamu liat sendiri nanti kalau sudah kau kirim dia kembali, baru pastikan dia mengirim uang ke akun bank milikku"



Sebelum Pergi alin berbisik ke Fang zue "Pangeran harga kali ini lebih mahal dari pematik api dan obor"



Fang zue mendesah kesal dia merutuki dirinya sendiri karena pingsan dan ditemukan oleh wanita gila didepannya





~•Selamat membaca.



__ADS_1


__ADS_2