
Note : Scene this qode qr then hear the song while you are reading.
"DIAM DAN HENTIKAN SEMUANYA!"
Semua orang langsung berhenti menari begitu pula dengan alunan lagunya. Semua mata terfokus pada wanita yang kini berjalan ke arah sang ratu. Wanita itu terlihat muda seperti seumuran dengan Fangzue hanya saja dia terlalu banyak memakai make up dan perhiasan
Wanita itu berdiri didepan sang ratu dan menunjuknya "Apa begini caramu mengajarkan menantu-menantu kita?"
"Heh Menari! yang benar saja cih" gerutu wanita itu
Wanita itu beralih dari sang ratu lalu ke putri Wein "Kau wanita murahan, kau baru saja memasuki istana ini. Namun kau sudah memamerkan tubuhmu didepan banyak orang"
Fangzue yang melihat putri wein menundukkan kepalanya segera merangkul pundaknya, dia adalah temannya dan juga istrinya bagaimana bisa dia tahan melihat keluhan dimatanya
"Bibi sudah cukup! Ini pernikahan kami kau tak berhak mengaturnya" balas Fangzue dengan nada kasar
Alin yang melihat situasinya menjadi menegangkan segera berjalan dan berdiri disamping Ruan Ruo
"Ru, Siapa dia?!" bisik alin ditelinganya
Ruan Ruo terkejut melihat alin sudah ada disisinya dan bahkan dia sudah melepaskan kerudungnya dengan suara seraknya dia merespon pertanyaan Alin "Dia selir raja, Sheng Ning"
Alin langsung melirik ke Ruan ruo dan melotot tak percaya dengan apa yang dia ucapkan "Ru bukankah keluargamu bilang mereka tak mengambil selir"
Ruan ruo merajut alisnya lalu mengangguk "Ya emang benar begitu adanya sebenarnya dia itu sebuah kesalahan, dia adalah wanita yang serakah" ucap Ruan ruo seraya berkata sinis.
Dia menatap tak suka pada wanita yang berdebat dengan kakaknya
Wanita itu berbalik dan melihat ke arah Alin yang berdiri disamping Ruan Ruo. Ruan Ruo bisa mendengar gadis kecilnya bergumam "F**k it off!"
Sungguh Ruan ruo ingin tertawa mendengarnya dia belum pernah mendengar alin berkata kasar dengan serius sebelumnya
"Apa kau dr. Alin Craetta yang dipuja banyak orang itu?! Aku sungguh telah mendengar banyak tentangmu tapi sayang kau terlalu sombong dimataku" gerutu Sheng ning didepannya
Didalam hati alin sudah mengeluarkan sumpah serapah karena kesal dengan ucapannya
" Kau belum menjadi menantu keluarga ini saja. Sudah terlihat seperti wanita *******"
*******
Mendengar kata itu amarah alin naik ke ubun ubun. Ruan ruo bergidik ngeri melihat tangan gadis itu mengepal dengan kuat setelah sekian detik gadis kecil itu mendesah lalu tersenyum mengejek ke arah Sheng ning
"Maaf Nona, apa alasan anda merendahkan saya seperti ini?"
Alin berbicara Formal layaknya seorang bangsawan inggris
"Kau, kau mempermalukan dirimu sendiri dengan berpakaian terbuka seperti ini dan menari didepan banyak orang persis seperti *******"
Gerutu Sheng Ning dimuka gadis kecil itu
"Kenapa kau peduli?! Pakaian dan tarian tadi adalah budaya dari kampung halaman pengantin wanita. Apa kau bermaksud kita semua disini hanya harus menghormati budaya pria dan tidak menghormati budaya wanita?!"
"A... Aku tidak" belum sempat Sheng Ning melanjutkannya alin sudah melanjutkan perkataannya
"Kau menghina diriku, sang ratu, dan putri wein saat menari! kau menganggap kami murahan dan menghina kami, Tapi apa kau berpikir hanya kami yang menari?!"
Alin langsung menunjuk ke arah sang raja, dan kedua pangeran serta semua kandidat penting istana yang tadi ikut menari
"Raja dengan kemegahaannya juga menari tadi, itu berarti kau juga menghina Raja bahkan bukan cuma raja tapi seluruh keluarga kerajaan. Aku tau kau adalah selir raja, dan akan menjadi bibi masa depanku. Kau melakukan ini demi kebaikan semuanya tapi dengan menghina kau juga menjatuhkan martabat semua keluarga kerjaaan? Apa yang akan dikatakan oleh keluarga pengantin wanita?! Bagaiamana kalau mereka tersinggung dan berhenti membantu kerajaan ini?!"
"Biar bagaimanapun kebudayaan bagaikan harga diri orang dan kau menghina mereka!"
Alin menyeringai saat bukan hanya wajah sang selir yang menggelap tapi juga sang raja
"Sheng'er kau telah saya besarkan selama ini dan kau mempermalukan ku beserta keluarga. Sungguh seperti pepatah air susu dibalas air tuba, hukuman apa yang pantas ku berikan padamu?!" suara menggema raja membuat setiap orang yang hadir takut.
Selir itu berlutut dikaki raja dia menghantamkan kepalanya ke lantai "Raja selir ini tak salah yang salah itu"
Sang selir menujuk lalu berteriak "Yang salah Wanita itu!"
Sang selir bangkit dan hendak meraih alin untuk memberinya pelajaran namun alin bisa menghindar tepat pada waktunya
"Ckckck... Kau pikir kau bisa memakai kekerasan saat ini?" gumam alin
Sheng Ning menjadi sangat frustasi saat sang raja meneriakinya dengan sangat kasar "Sheng'er! kau selir tak tau diri beraninya kau menggunakan tanganmu untuk menyentuh calon menantuku"
Sang Raja berjalan ke arahnya lalu menatapnya dengan jijik "Kau lebih baik pergi sekarang sebelum aku menyuruh penjaga membawamu kembali ke kamar!"
__ADS_1
Sheng Ning nggak bisa menahan malu jadi dia langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Setelah itu pesta perayaan telah dilanjutkan
Alin duduk diatas ayunan sambil menikmati kue-kue dan camilan yang dihidangkan pelayan
Seraya memperhatikan Ruan ruo yang sedari tadi selalu berpelukan dengan wanita lain, alin mulai memikirkan cara untuk mengubahnya dia melirik pelayan pria disampingnya dan mulai mengajaknya bicara "Bisa kau beritahu aku apa yang ada diotak para pria?!" tanya alin yang direspon dengan tatapan bingung pelayan itu
"Kenapa kau bingung?! Aku hanya bertanya dan tidak menginterogasi dirimu" ucap alin seraya melambaikan sebelah tangannya
Pelayan pria itu mundur beberapa langkah dan menunduk "Ma.. Maaf Nona aku tak bermaksud"
Alin tertawa hingga wajah pria itu menjadi merah "Kau tak perlu formal kita seumuran anggap saja aku temanmu"
Pelayan pria itu menggelengkan kepalanya "A... Aku tak berani Nona"
Alin bisa membaca pikiran pria itu dengan sekali lirik "Tenang saja ini permintaanku anggap saja aku temanmu, aku janji takkan ada yang menyalahkanmu untuk ini"
Pria itu bernafas lega "Terimakasih atas kebaikanmu nona"
"Panggil aku alin!" pintah gadis kecil itu. Pelayan Pria itu berusaha menyebut nama alin namun lidahnya terpeleset dan menjadi aling akhirnya alin menyuruhnya memanggilnya dengan ling ling 'Dia persis seperti Vrella!' gumam alin dengan malas
Pranggg...
Suara nyaring menggema diseluruh aula. Alin beserta Mo chen, pelayan pria tadi segera melirik ke arah sumber suara. Alin menyipitkan matanya saat melihat seoarang wanita bergaun mewah sedang berteriak ke arah anak kecil yang sedang memegang piring
Wanita itu menarik anak kecil tadi ke luar aula. Alin bersama mo chen mengintip dibalik jendela besar bisa diliatnya di luar wanita itu mendorong tubuh anak kecil yang masih setia memegangi piring kalau diliat dari cara berpakaian nya anak kecil itu bukan dari keluarga rendah ataupun gelandangan
Saat sang wanita masuk anak kecil itu masih diluar dan menangisi piring ditangannya. Alin menyeringai ke arah mo chen "Mo Chen can you help me with something?"
Mo chen menundukkan kepalanya "Apa yang bisaku bantu?"
Alin keluar dengan membawa satu nampan berisi berbagai kue dan beberapa gelas jus
Dia melihat sekelilingnya namun tak melihat anak kecil tadi
Semakin dia berjalan menjauhi aula, suara tangis kecil semakin terdengar
"Kau Kenapa?!" ucap alin seraya duduk diatas rumput disebelahnya
Anak kecil itu mengusap wajahnya "Aku tak apa"
Alin tau dia anak yang tadi "Hmm... Pemandangan disini bagus ya!" seru alin seraya memandang sungai dan langit didepannya
Anak kecil itu menggeleng "Aku tak lapar" ucapnya
Alin mengedikkan bahunya lalu mengambil sebuah kue dan menggingitnya "Yummy, kue ini enak! Koki disini benar tau cara memasak"
"Kue itu terlalu manis" gumam anak kecil disampingnya
"Dari mana kau tau itu manis. Nah lebih baik kau coba dulu sebelum berkomentar!"
Alin meletakkan nampan ditengah mereka dan memberikan anak kecil itu satu kue yang sama dengannya
Sekali menggigit anak kecil itu tak berhenti "Siapa namamu?!"
"Namaku Albert Derniant"
"Kau orang inggris asli dari pulau ini?"
Albert menganggukkan kepalanya "Iya aku dan ayah orang asli sini, hanya saja ayah menikah lagi dengan orang cina"
"Oh jadi wanita tadi ibu tiri mu?!"
"Ya bisa dibilang begitu tapi aku sama sekali tidak menggapnya ibu"
"Kenapa?" tanya alin
"Ibuku lebih baik dan tidak pernah meneriakiku"
"Ibu selalu menceritakan ku tentang istana namun aku baru kenyataannya istana itu mengerikan" lanjut albert seraya mengunyah kuenya
Albert anak kecil berusia 6 tahun sudah bisa menyimpulkan hal yang terkadang orang dewasapun tak menyadarinya. Cara albert menyimpulkan membuat alin teringat dirinya saat kecil "Tadi kenapa kau dimarahi?"
"Aku tanpa sengaja menjatuhkan piring dan kue. saat aku mau mengambil yang baru, wanita itu tiba-tiba saja marah padaku. Istana sangat buruk mereka hanya menyaksikan ku yang menangis dan tidak menolongku!"
Alin menghelus kepala anak itu "Kau masih Bocah dan belum melihat dunia luar kalau disini saja, kau sulit mempertahankan dirimu bagaimana nantinya..."
"Kau tau tidak semua istana buruk sama seperti orang didunia ini ada yang baik dan jahat. saat seumurmu saat aku sedih aku akan bernyanyi untuk menghibur diri"
__ADS_1
"Bernyanyi, aku suka bernyanyi" albert menatap alin dengan bersemangat
"Kau mau kukasih tau lagu rahasiaku?"
"Rahasia, kenapa Rahasia?"
"Rahasia karena lagu ini menyembuhkan penyakit, Penyakit yang sulit hilang. saat aku masih umur 3 tahun seorang pria berjubah putih menolongku dan mengajarkan ku lagu ini"
Alin mulai memejamkan matanya dan mengingat alunan nada lagu itu. Tak lama suara merdu dan jernih layaknya seorang anak polos terdengar di kesunyian malam
'There is a castle on a cloud
I like to go there in my sleep
Aren't any floors for me to sweep
Not in my castle on a cloud
There is a room that's full of toys
There are a hundred boys and girls
Nobody shouts or talks too loud
Not in my castle on a cloud
There is a lady all in white
Holds me and sings a lullaby
She's nice to see and she's soft to touch
She says, "Cosette, I love you very much"
I know a place where no one's lost
I know a place where no one cries
Crying at all is not allowed
Not in my castle on a cloud...'
Tanpa sadar air mata alin berlinang mengingat sosok pria berjubah putih. Sayangnya dia lupa wajahnya dia hanya ingat kalau dulu pria berjubah putih pernah mengatakan dia seorang dokter, pria jubah putih seperti malaikat bagi alin sampai sekarang, saat kakeknya tak ada dia terluka hanya pria itu yang disisinya
"Siapa dia ?" gumam alin seraya menghapus air matanya.
Albert bertepuk tangan "Kak, kakak juga orang asli pulai ini ya? Nama kakak siapa?"
Alin tersenyum ramah pada anak kecil didepannya "Namaku Alin Craetta, kau bisa panggil aku Kak al"
"Wah ternyata selain diriku ada juga yang lahir disini" gumam albert dengan mata bersinar polosnya
"Kak al, apa kau mau mengajariku lagu itu? Entah mengapa setelah mendengar nya perasaanku menjadi senang lagi"
Alin mengangguk "Baiklah tapi kau harus pintar, aku tidak menerima murid bodoh!" ucap alin
Mata Albert penuh dengan tekad dan antusias "Makasih kak"
Malam itu juga alin langsung mengajari albert. lagian lagunya tak sulit jadi tidak perlu memakan banyak waktu
Tiba-tiba sebuah suara menginstrupsi mereka berdua "Hey... Siapa kau?!"
Ntah mengapa alin justru menarik tangan albert dan berlari menjauh
Dia tadi sempat liat kalau yang memanggilnya itu Ruan ruo
Jantungnya berdebar tak karuan "Kak, kenapa lari?" tanya albert
Alin terkekeh "Itu tadi ada teman aku, kalau dia denger aku menyanyi, dia akan mulai menggodaku" tidak lebih tepatnya mengejek dari pada menggoda itu pikiran nya alin saat melihat Ruan ruo tadi
. Disisi lain
Ruan Ruo terengah engah mengejar seorang gadis dan anak kecil, semalam dia bermimpi bertemu dengan gadis yang bernyanyi lagu itu dan sekarang dia benar benar melihatnya lagi walaupun dia tidak melihat wajahnya karena gelapnya malam. Sudah 20 tahun dia menunggu kesempatan ini namun lagi-lagi dia menghilang "Itu Pasti dia, tapi kenapa dia lari?" gumam Ruan Ruo
"Aku akan menemukan nya tak peduli apa yang terjadi!"
•
•
__ADS_1
•
~•