
dipagi hari Rafka mengemasi barang barangnya lalu tiba tiba ada ketukan di pintu
"Siapa?" tanya Rafka seraya membuka pintu. Tari datang membawa tempat makan lagi "Kali ini ada apa lagi Tari?"
"Pak Rafka akan ikut saya ke restoran hari ini kan?" tanya Tari penuh senyuman. Rafka melihat barang barangnya yang sudah dia kemas didalam
"Iya setelah aku selesai mengurus pekerjaan ku"
"Pekerjaan apa pak?"
"bukan urusanmu"
Rafka menutup pintunya lalu melihat rantang yang dibawa Tari "Apa itu untukku?"
"Oh hampir saya lupa, benar itu untuk pak Rafka saya yang telah membuatnya sendiri"
"mm... apa itu masakan Indonesia?"
"iya pak, sebenarnya saya masak nasi ehh tau taunya kebanyakan air jadi bubur ya udah saya jadikan bubur ayam aja"
Rafka langsung ingat Hana ketika bubur ayam disebut. dia bisa meminta maaf dengan membawa makanan itu ke Hana dengan begitu masalah terselesaikan "Oke kalau gitu terimakasih. kebetulan aku suka masakan Indonesia"
"bapak suka masakan Indonesia atau suka masakan saya?" tanya Tari
"dua dua nya selama itu bukan racun. bukan kah kamu harus menyambut ku di restoran? pergilah karyawan lain pasti membutuhkan mu. terimakasih atas makanan nya aku ada pekerjaan lain jadi nggak bisa mengantarmu kesana" mendengar respon Rafka wajah Tari terlihat puas
"pak semua sudah siap bapak harus ikut dulu dan mengecek restoran" Tari bersikap memaksa Rafka dan Rafka pun merasa terganggu dengan hal tersebut
"Apa itu sangat darurat hingga tidak bisa menunggu? aku bahkan belum sarapan" protes Rafka. Tari memberi saran "pak Rafka sarapan di restoran saja kan hari ini restoran nya tutup"
Tari menarik lengan Rafka dan membawanya keluar. di lobi depan resepsionis Rafka melihat seseorang yang dia kenal. wanita itu memakai kemeja hitam yang kebesaran dengan celana pendek dan rambut di sanggul walaupun dia memakai kacamata hitam Rafka tetap mengenalinya "HANA!"
Rafka langsung berlari ke Hana meninggal kan Tari di belakang "Hana sedang apa kamu disini? seorang pasien tidak boleh berkeliaran!"
ketika Rafka menghampiri nya Hana sempat terdiam sebelum merespon
__ADS_1
"Aku menjemputmu, syukurlah kamu melihat ku jadi aku tidak perlu repot mencari namamu di list ini" Hana melihat seorang wanita mengikuti Rafka dari belakang "Oh dia pacarmu? yang tadi malam itu kan rupanya kalian tinggal bersama" tanya Hana seraya menunjuk Tari
Rafka dengan cepat menggeleng "Dia rekan kerjaku. kenapa kamu tidak bilang kalau ingin menjemput ku?" tanya Rafka. Rafka mencoba membaca ekspresi Hana namun nihil Hana berekspresi seperti dia sama sekali tidak pernah salah paham dengan hubungan Rafka dan Tari
"Enggh... dari berkas yang kamu serahkan kemarin aku tau kamu tinggal sementara disini. aku pikir kamu perlu bantuan untuk ngangkat barang jadi aku datang membawa mobil tapi ternyata aku lupa membawa ponselku" Hana menjawabnya dengan nada yang dibuatnya senatural mungkin. Rafka melihat tangan Hana ada beberapa goresan merah di kulit nya jelas Hana
sedang menutupi sesuatu darinya
Hana dan Tari berkenalan sementara Rafka sibuk dengan pemikirannya "Aku rasa kalian tadi mau pergi, apa aku mengganggu?" tanya Hana.
Rafka langsung menggeleng "Tidak sama sekali. aku tadi nya mau sarapan di restoran sekalian observasi kalau kamu punya waktu luang ikutlah dengan kami"
Hana menghela nafas "Aku ingin sekali melihat restoran yang kamu jalankan tapi aku masih punya banyak pekerjaan dan saat ini cukup lelah jadi aku lebih baik pergi istirahat di suatu tempat"
"Benarkah? apa kamu jujur kali ini? tidak biasanya kamu menolak tawaran untuk makan" Rafka menepuk kepala Hana dan Hana pun akhirnya merasa bersalah dan menghela nafas dengan sabar sebelum berbisik dengan wajahnya yang memerah "iya maaf aku telah bohong, Jujur saja aku kabur hari ini dan ada cukup banyak orang yang mencari ku. sebab itu aku punya niat ingin meminjam kamarmu untuk sebentar saja karena ingin istirahat"
Rafka mengeluarkan kunci kamarnya dan memberikan makanan yang tadi diberi oleh Tari "Kamu ke kamar saja duluan, aku akan ke restoran dulu sebelum menyusul kamu . Jangan lupa kamu makan ini karena setelah pulang dari restoran nanti, kamu perlu bantu aku mindahin barang!"
"Oke pak boss siap laksanakan! kalau begitu aku pamit duluan ke kamar ya, Afka kamu berhati hatilah dijalan " Hana dengan cepat menghilang dari keduanya
"Pak ada apa?" tanya Tari. Rafka menggeleng "Tidak papa" Rafka menghentikan kekhawatiran nya dan pergi ke restoran
setelah beberapa jam mengecek urusan restoran dan menyambut para karyawan, Rafka berpamitan karena tidak ada lagi yang mesti dikerjakan
"Pak, kenapa terburu buru? kami bahkan belum mulai ronde ke dua" tanya Manajer yang mengurus restoran di bawah perintah Rafka. Rafka menggeleng "Kalian lanjutkan saja lagian saya tidak minum dan masih ada urusan, saya yang akan bayar jadi bersenang senang lah tapi ingat besok tetap kerja jadi jangan terlalu berlebihan!"
Rafka membayar lalu segera pulang. sesampainya di hotel Rafka tidak melihat adanya pria berjas yang sebelumnya dan dia pun bernafas lega dan berpikir mungkin itu hanya kebetulan. Rafka dengan santai pergi ke apotek di dekat parkiran lalu membeli obat untuk Hana. dia berhenti didepan pintu kamarnya
"Ada apa ini?"
pintu kamar Rafka terbelalak terbuka dan dia melihat cairan merah di gagang pintu dan di lantai. Rafka masuk dengan tergesa gesa bahkan dia tidak sempat membuka alas kakinya "Hana?!"
"Hana apa kamu ada didalam?" panggil Rafka. Rafka melihat sosok Hana terbaring terlungkup dikarpet
Rafka terdiam mematung, jantungnya berdetak sangat cepat seolah olah bisa berhenti kapanpun. dia berjalan mendekati Hana dan memanggil Hana sekali lagi namun tidak ada respon. Rafka membalikkan tubuh Hana dan
__ADS_1
BUGHH...
kepala Hana menghantam wajah Rafka "Ahh ou..." pekik Rafka
"aduuhhhh duuhh.... ahh sakit" Hana pun memekik kesakitan. Rafka menjatuhkan kepala Hana dengan geram "apa apaan kamu ini?! bagaimana bisa kamu berpura pura mati seperti ini?"
"mati? apa yang kamu bicarakan Rafka?" Hana tampak bingung. Rafka menunjuk cairan merah yang menuju ke kamar mandi "pertama pria berjas, pintu yang terbuka lebar lalu Darah itu dan juga kamu yang terbaring disini, aku pikir kamu mati!"
"Apa apaan sih? Aku itu cuma istirahat aku sedang tiduran dikarpet karena rasanya nyaman. begitu aku bangun aku mendengar suaramu dan tubuhku yang diangkat. aku emang punya niat mengagetkan kamu tapi aku tidak menyangka wajahmu begitu dekat dengan kepalaku jadi itupun gagal"
"terus pria berjas, pintu, dan darah. bagaimana kamu menjelaskan itu?"
"pertama aku gak tau pria berjas apa yang kamu maksud tapi itu emang mungkin suruhan ayahku. kedua aku sungguh sudah mengunci pintu dan ketiga aku tidak tau darah itu dari mana saat aku hendak tidur dan datang ke kamar inipun aku tidak melihat noda darah sama sekali"
"tapi darah itu mengarah ke kamar mandi, Hana? apa kamu tidak mendengar sura saat kamu tidur"
"ntah lah Afka, saat kelelahan aku tidur bagaikan orang mati jangan kan suara, kamu gelindingkan badanku kelantai pun aku gak akan bangun. Sebaiknya kita cek kamar mandi mu"
Hana berdiri lalu tanpa ragu berjalan ke arah kamar mandi, Rafka menarik tangan Hana "Hust... Pelan-Pelan Hana, bagaimana kalau didalam ternyata ada orang jahat? kamu harus lebih berhati-hati!"
"Jangan Cerewet! Pelankan suaramu! sepertinya aku mendengar suara tangis" Hana memegang kenop pintu Kamar mandi, sementara Rafka berdiri tepat dibelakang Hana seraya membawa Tiang Lampu sebagai senjata.
"Hiks...Hua...aaa"
ketika pintu dibuka Suara tangis menjadi sangat jelas dan disana terdapat anak kecil dengan baju berlumuran cairan merah. Hana refleks menutup kembali pintu "Apa kamu melihat itu Rafka? apa aku masih bermimpi? mana mungkin bisa ada anak kecil, apa mungkin dia Hantu penunggu kamar ini? kalau benar hantu aku mundur, kamu saja yang maju"
"Hust... sembarangan bicara saja kamu Han. aku juga melihatnya jadi tidak mungkin itu hantu. coba saja kita masuk ke dalam"
Hana membuka pintu kamar mandi lagi tapi anak itu menghilang "Dia pasti bersembunyi aku masih bisa mendengar suara isakan tangis nya" ujar Rafka. Hana menepuk jidatnya saat melihat apa yang ada ditangan Rafka "Jelas saja dia bersembunyi, kamu membuatnya takut. simpan yang ada ditangan mh itu!"
Hana dan Afka memeriksa ruangan kamar mandi namun Afka tidak menemukan anak tersebut. Hana tidak sengaja menendang tempat sampah dan dia sadar dibawah wastafel ada lemari yang belum dia periksa. dengan penuh keberanian Hana membuka lemari itu dan benar saja seorang anak meringkuk didalamnya "Hey, kenapa kamu menangis? apa kamu hantu penjaga kamar ini? jika bukan hantu kamu boleh keluar dari sana"
anak itu menatap Hana lalu berhenti menangis dan Keluar "Apa kakak tidak akan menyakiti ku?"
"Apa maksudmu tentu saja aku tidak akan menyakiti mu. Keluargaku adalah dokter yang menyembuhkan penyakit. Apa kamu percaya padaku sekarang?" ujar Hana.
__ADS_1
-berlanjut...-