
Rafka masih berbincang dengan tuan Ru, hingga tibalah sebuah kesepakatan "Jika anakku bilang ya, maka aku akan merestui hubungan kalian" Ru tertawa lalu memanggil Hana
Hana masuk dengan wajah suram, Tuan Ru bertanya pada anaknya itu "Apakah kamu setuju menikah dengan Rafka?"
"Aku tidak setuju" ucap Hana dengan wajah datar. Rafka tercengang mendengar nya "ada apa? Mengapa?"
"Karena aku tidak butuh menikah"
ucap Hana singkat dengan wajah datar. Ru menepuk pundak putrinya "kamu hanya perlu jujur pada perasaan mu, ayah akan mendukungmu"
"Aku tidak ingin menikah, Maaf!"
"beritahu alasan jelasnya Han"
ucap Rafka seraya menarik lengan Hana. Hana menepis tangan Rafka lalu bicara dengan nada sarkastik
"karena aku berubah pikiran, aku tidak perlu apapun karena aku memiliki semuanya, aku mandiri, aku bisa bela diri, dan aku banyak uang"
"Apa kamu berbohong saat mengatakan ingin menikah denganku?" tanya Rafka. Hana duduk dihadapan Rafka "aku sungguh minta maaf. aku terlalu terbawa perasaan saat itu hingga tidak memikirkan kedepannya. Aku menyesal..." ucap Hana seraya menundukkan kepala nya. sekilas Rafka melihat kebohongan dimata Hana dan mata Hana tampak merah
BRAKk..
Rafka menggebrak meja
"Apa ada yang memaksamu mengatakan ini Han?" tanya Rafka. Hana menggeleng dan tersenyum "Tidak ada, ini hanya pemikiran ku sendiri. aku terlalu sempurna untuk mu" setelah itu Hana pergi keluar ruangan tanpa mendengar kan kata kata Rafka. Hana mengambil kunci motor lalu pergi ke arah garasi. di rumah yang cukup luas Rafka mencari Hana yang tiba tiba saja menghilang dibalik pintu.
"kemana dia pergi?!" gumam Rafka selagi mencari Hana.
__ADS_1
Brukk...
"ADUH..." pekik seseorang yang ditabrak Rafka. Rafka langsung meminta maaf "Maafkan aku, aku sedang terburu-buru mencari Hana"
ucap Rafka. Aisyah menarik lengan Rafka "dia sudah pergi percuma saja kamu tidak akan mampu mengejarnya karena dia naik motor"
Rafka menghela nafas dia yakin ada seseorang yang memaksa Hana. Rafka melepaskan tangan Aisyah dari lengannya dan dia seperti pernah melihat wajah Aisyah "Bukan nya kamu yang ditemui Hana di pasar malam?"
Aisyah mengangguk "Iya benar. aku teman smp nya Hana dan namaku Aisyah. senang bisa bertemu dengan mu lagi"
"Aku tidak punya waktu untuk ini. apa kamu tau ke mana Hana pergi? aku harus mengejarnya!" ucap Rafka to the point. Aisyah menggeleng
dan Rafka langsung pergi untuk menelfon seseorang
Rafka menemui Hanz di teras belakang rumah "Bagaimana ini bisa terjadi? tidak biasa Hana bersikap labil dan ceroboh seperti ini"
"Itu sebab nya, aku mesti mencari nya" ujar Rafka. Hanz mengangguk "Akan butuh waktu yang lama jika memakai mobil. kita akan mencarinya menggunakan helikopter" ucap Hanz
"Pilot asli nya ada pekerjaan lain. tenang saja tidak akan terjadi kecelakaan kok. semua aman terkendali" ucap Hanz ditengah momen yang tidak tepat. Helikopter yang mereka naiki goyang seperti akan jatuh dan benar saja mereka jatuh di dekat sungai yang entah dimana.
setengah sadar dengan samar Rafka mendengar suara Hana yang sedang khawatir "Bo...doh!" itu kata terakhir yang didengar Rafka sebelum pingsang
ketika sadar Rafka berada di rumah sakit dengan tangan di infus, disamping nya sudah ada sekretaris nya dan beberapa staff kantor . "Kenapa kalian semua ada disini?"
Tari mulai bicara "Kami semua mengkhawatirkan dirimu pak. ketika mendapat kabar kami langsung menutup restoran dan langsung kemari"
"Dimana Hanz dan Hana?" ucap Rafka yang mencarinya dan refleks bangkit untuk berdiri
__ADS_1
sekertaris menghentikan nya "Tidak ada seorang pun bernama Hanz dan Hana disini. Hanya anda yang dirawat karena kecelakaan"
Tari memapah Rafka ke tempat tidur "Pak, anda perlu istirahat dulu" ucap nya. Rafka duduk ditempat tidurnya "Saya baik baik saja. kalian pulang lah ada Johnatan yang mengurus ku disini!" ucap Rafka pada seluruh staff yang menjenguknya. Rafka meminta Johnatan selaku sekretaris nya untuk tidak membiarkan siapa pun masuk karena dia butuh waktu untuk sendiri
disisi lain. Hana sedang di ruangan menjaga saudara kembar nya yang belum juga siuman. Hana melamun memikirkan banyak hal yang terjadi dalam sekelebat mata "Ukh...****!" umpat nya tiba tiba seraya tertawa. tawa Hana membuat Hanz membuka matanya "kamu sudah sadar?" tanya Hana pada Hanzel.
Hanzel merubah posisinya menjadi duduk "kenapa kamu tertawa? apakah kamu senang melihatku terbaring? habis melamun lalu tertawa kamu perlu ke psikolog"
"Oh jadi kamu sudah sadar dari tadi"
Hana kembali tertawa di ruangan itu. lalu tiba tiba hana menjadi serius menatap Hanzel "why?!" Hanz menatap kembali Hana
"aku tidak perlu psikolog karena itu merupakan salah satu pekerjaanku. aku hanya sedang berpikir jika semua yang terjadi hari itu salah!" ucap Hana seraya mengambil ponselnya dan memperlihatkan sesuatu pada Hanzel "Apa maksudmu?" Hanzel masih tidak mengerti setelah melihat gambar yang diberikan Hana.
"Ada seseorang yang membuatku kesal. Jika dugaan ku benar itu artinya dia dalam masalah yang besar, pada intinya kecelakaan mu di helikopter itu sengaja dilakukan seseorang"
Hanz memeluk Hana "Adikku emang hebat. aku bahkan belum memberitahukan mu apapun mengenai kecelakaan di helikopter. saat itu kami ingin mengejar mu, seharusnya heli itu aman karena itu adalah heli yang sama seperti yang kamu pakai untuk sampai ke villa. Awalnya emang aman tapi selang beberapa lama saat mengudara tuas kemudi tidak lagi berfungsi aku sudah mencoba cara alternatif tapi itu juga tidak berhasil. heli tiba tiba mengarah ke sungai dan kami jatuh"
"bukan kamu saja yang kecelakaan hari itu. lucifer juga tidak berfungsi dengan normal dan pada akhirnya aku menabrakkan nya ke pohon" ucap Hana dengan santai. Berkebalikan dengan Hana yang santai Hanz cukup terkejut mendengar nya "Lucifer yang kamu maksud motor kesayangan bunda kan?" tanya Hanz memastikan. Hana mengangguk "Apa Lucifer tidak apa apa setelah menabrak?"
"Nice... kamu lebih merhatiin motor dari pada kembaranmu ini ya!" Hana memasang wajah kecewanya. Hanz menggeleng "Kamu pasti baik baik saja aku percaya kamu gadis yang kuat. lagian kan Lucifer itu motor kesayangan bunda jika tau lucifer lecet bunda pasti marah apalagi ini kamu menabrak nya ke pohon bisa bisa saat pulang kamu dicoret dari daftar di Kartu keluarga" jelas Hanz. Hana mengangguk setuju "Tenang saja, Lucifer sudah diurus kenalanku"
Hana kemudian nampak memikirkan sesuatu "Jika kamu sudah siuman, seharusnya dia juga sudah" gumam Hana tanpa sadar. Hanz tersenyum "kamu memikirkan Rafka?"
Hanz kira Hana bakalan membantah tapi dia justru mengangguk "Tentu saja aku memikirkan nya. dia tidak bersalah tapi terlibat masalah ini karena kita"
"Apa kamu menyerah untuk mendapatkan Rafka?" tanya Hanz. Hanzel tidak biasa melihat kembarannya yang merasa cemas akan sesuatu. Hana menggeleng lalu tersenyum dengan dipaksakan "Tentu saja tidak, seorang Khana Rumireo Radeya tidak pernah menyerah. Hanya saja untuk sekarang tidak aman bagi nya berada disekitar kita"
__ADS_1
"Ow... so sweet banget sih adikku" Hanzel mencium pipi Hana dan Hana refleks mendorong nya "Apa sih jijik! Geli tau nggak lain kali kalau mau cium orang sikat gigi sama bercukur dulu sana!" setelah itu dengan wajah merah entah karena marah atau malu Hana pergi keluar ruangan
-Berlanjut-