
hanya dengan senter alin menyusuri jalan setapak melewati bukit ya ini masih pagi hari, sangkin paginya matahari pun belum terlihat
"Saliara, bunga itu pasti ada disekitar sini!" gumam Alin.
Gadis kecil itu memandang sekelilingnya seingatnya Arzan pernah cerita bunga itu berwarna warni
Tepat saat matahari bersinar gadis kecil itu melihat bunga yang dicarinya mekar didepan matanya "Indahnya!" gumam Alin seraya mengvideo kejadian itu
"I found you!" Alin memetik beberapa dan langsung pulang ke rumah
Tepat selesai Ruan Ruo telah mandi Alin sudah menyiapkan sarapan diatas meja "Where did you go this morning?!"
Alin tersenyum dan menjawab dengan tenang "I am didn't go anywhere"
"Seriosly Al! Where did you go?"
"Forest"
"Forest, I know. What FOREST??? Are you kidding me"
Alin terkekeh "Kalau nggak percaya ya sudah, aku disana mencari buah zaitun" Alin mengeluarkan sekantung plastik ya saat mencari bunga Saliara dia melihat pohon zaitun dan tak mungkin dia hanya akan melihatnya saja
Ruan Ruo menghela nafas "Dasar Robot kau kan bisa mencarinya sepulang kerja" gumamnya. Gadis kecil itu dengan sabar mendengarkan semua ocehan Ru
Ruan Ruo menyesap teh lemon buatan Alin "Al kau lahap banget makannya!" ucap Ru saat melihat Alin Terus membenamkan wajahnya dalam mangkuk
"Kenapa? Kau mau ini tapikan aku sudah membuatkan mu Roti isi selai seperti biasa"
Alin meliriknya sekilas dan lanjut makan namun seketika tangannya berhenti saat menyadari tatapan Ruan Ruo "Kau mau? Bukankah kau elergi masakanku?"
__ADS_1
Ruan Ruo hendak menjelaskan semuanya namun mulutnya tiba tiba saja disumpel oleh makanan disendok Alin "Makan lah cepat, aku sudah hampir terlambat!" ucap Alin. biasanya jam segini dia sudah berangkat
Alin menyuapi Ruan Ruo seperti anak kecil "Cepat Ru, kunyah lebih cepat lagi!" gumam Alin seraya terkekeh saat melihat wajah belepotan Ruan Ruo.
Kebetulan hanya tersisa satu mangkuk, sehingga mereka berdua harus berbagi "Kau buat sedikit sekali Al? Kenapa nggak sekalian banyak?" tanya Ru seraya membersihkan mulutnya. Alin tersenyum masam biasanya hanya dirinya sendiri yang makan masakannya, sehingga kalau mau buat banyak sangat disayangkan jika terbuang.
"Sebenarnya aku ada menaruh sisanya dikotak bekal, rencananya ntar aku akan memberikannya pada paman yang mengantar ku tiap hari" Alin membersihkan mejanya dan tak lupa dia meminum Air madu dengan perasan lemon yang telah ia buat.
Ia memakai jas dokternya dan membawa tas selempang kecil beserta tas laptop "Ru aku akan pulang lama, kalau kau lapar kau bisa panggil bibi atau pergi makan direstoran!" Alin hendak pergi namun sebuah tangan menahannya dan menariknya kembali dalam sebuah pelukan
"Kau kelupaan sesuatu!" ucap Ru dengan serius. Alin melebarkan matanya "Benarkah? Padahal tadi sudah aku cek"Alin mencoba memeriksa tasnya lagi namun dihentikan dengan tindakan Ruan Ruo yang tiba tiba.
Bibir hangat dan sedikit kasar itu menempel dikeningnya memberikan sedikit sengatan pada kulitnya yang halus. Wajah Gadis itu memerah biasanya dia yang akan memberikan kecupan dipipi Ru agar dia terbangun. Saat sadar Alin segera mengambil nafas dan mendorong Ru menjauh "Aku sudah terlambat Ru!"
Ruan ruo terkekeh kali ini dia berhasil membalasnya "Aku ikut keretamu, biasanya keretaku akan datang disiang hari dan aku ada keperluan di Istana pagi ini!" ucap Ru. Alin menarik tangan Ru "Kalau begitu, cepatlah!"
....
Belum beberapa menit Alin terpejam, pria itu sudah mengguncang tubuhnya lagi "Al kau mau apel?" Alin hanya membuka matanya sekilas lalu menutupnya lagi dia bergumam "Dari mana kau mendapat itu?" Ruan Ruo menggigit apel ditangannya "Aku masih lapar jadinya aku memetiknya dengan melempar kerikil" Alin membuka matanya sedikit kaget bukankah dia sudah memakan sarapannya tadi pagi dia bahkan juga menghabiskan Roti isi selai yang dia buat. Jadi selama ini, bagaimana dia bertahan hanya dengan dua lembar roti di setiap pagi hari? . Alin melihatnya dengan tak tega pada Akhirnya dia menyerahkan kotak bekal yang ia bawa tadi "Makanlah!" ucap Alin
Ray melihat ke arak kotak bekal ya Alin benar benar membungkus makanan sisa tadi, Tanpa menunggu Ruan Ruo ikut bersandar dan makan
"Al melihat langit bukan kah akan lebih baik jika disini ada bandara?"
Alin sedikit terusik namun setelahnya dia tertawa "Kau kan nggak tahan dengan Laut sebab itu jika disini ada bandara itu akan mempermudah, bukan hanya kau tapi juga banyak orang. Jika kau punya kuasa membuat nya kenapa kau tidak melakukannya sejak dulu?"
Ingin sekali Ruan Ruo mengacak rambut gadis kecil didepannya "Jelas itu adalah hal yang tidak mudah Al"
Sesampainya didepan Rs. Pusat Alin turun dengan ter gesa gesa saat melihat setumpuk pasien di luar UGD.
__ADS_1
Sedangkan Ru yang melihatnya hanya bisa bersimpati "Gadis itu benar benar robot" gerobak petani itu kembali berjalan
... ...
Saat waktu Istirahat tiba Alin menghela nafas lega. Sebenarnya dia terus memikirkan keadaan papanya, dia, dokter Gi, dan Jin an pergi ke kantin didepan "Dok besok aku ijin" ucap Alin dengan tak enak hati "Eh bukankah baru dua hari kau masuk kerja?" tanya Jin an. Alin baru memperhatikan perut Jin an yang membuncit dia terkekeh "Iya aku tau"
Gumamnya. Dr. Gi yang sedari tadi diam, tersenyum ramah dia sebagai yang lebih tua pasti tau gadis kecil itu punya Alasan "Kenapa kau ijin?" Pada Awalnya Alin tak ingin menceritakannya namun tak bisa sebagai dokter dia harus profesional "Papaku sakit dan aku harus membawanya berobat" Saat ditanya penyakit apa oleh jin an wajah Alin berubah suram "TBC tulang" semua nya terdiam. Dr. Gi memegang tangan Alin "Kau membuat keputusan yang tepat, disini masih kekurangan obat yang modern tentang pembuatan bandara pada warganya
"Nona, tuan mau kah engkau mampir makan bersama kami?" tanya seorang Anak kecil. Alin hendak mengangguk namun sayang ponselnya berbunyi Alin pamit meninggalkan Ruan Ruo untuk mengengkat telfon nya setelah mengangkat telfon wajah Alin menjadi pucat pasi "Kenapa Al?" tanya Ruan Ruo, Alin diam sebelum mengatakan "Papaku pingsan"
.........
Sesampainya di Rumah sakit Alin segera memeriksa keadaan pria paruh baya itu. Selama diperjalanan Alin bahkan tak mengatakan satu katapun
Saat keluar dari UGD, Alin menemui keluarganya "Alin gimana keadaan papamu?" tanya Mrs. Sofia pada anaknya itu. Alin hanya diam biar bagaimanapun dia masih harus bersikap profesional sebagai dokter karena disini Rumah sakit "Mama, Ru,Ray, dan kakak ipar ayo kalian ikut ke ruanganku dulu.yang lain tolong jaga papa karena sebentar lagi pasti papa akan sadar!" Ucap Alin.
sesampainya diruangan Alin memperlihatkan hasil rontgen ayahnya "Pasien mengalamai TBC tulang belakang..." belum sempat Alin menjelaskan lebih lanjut mamanya sudah pingsan duluan
"Ray baringkan mama ditempat tidur!" ucap Alin yang masih tenang. Alin duduk dikursinya dan mengusap wajahnya yang terlihat letih tak lupa kacamata ia turunkan.
"Ru besok aku balik ke london. Aku mau periksa keadaan papa"
"Aku ikut" ucap Ru seraya memeluk tubuh Alin.
"Kak sejak kapan ayah begini?" tanya Ray, Ray tau pasti kakaknya itu tau penyakit ayahnya. Alin mengangguk lemas "Aku baru tau saat pulang ke rumah kemarin, papa mengatakan padaku dia sudah mengidapnya sejak 5 tahun dan ia bolak balik pengobatan ke london"
"Apa ada cara mengobatinya, Alin ? Aku takkan memberitahu kakakmu atau dia akan menangis sepanjang malam" ucap kakak iparnya
Alin mengangguk "pasti ada cara!"
•
•
~•
__ADS_1