
-Author POV-
Wanita cantik itu melepas kacamatanya trus menatap Rafka dengan senyum sinis dibibir merah nya "Iya aku tau..."
Hanzel dan rafka sempat membisu karena kaget, Rafka berpikir dia tidak pernah melihatnya, sedangkan Hanzel berpikir adiknya itu tipe orang yang sibuk jadi tidak mungkin dia punya waktu hang-out sekaligus berinteraksi dengan orang luar, walaupun benar dia berinteraksi dengan orang luar dia tidak mungkin menghapal nama Mereka..
"Dia Rafka Hermawan, pria yang membuatmu menentang 70% saran investor. Tau kah kau Kak, aku tidak pintar menjalankan bisnis! jika saja aku tidak memegang kelemahan investor kali ini kau pasti akan kalah saing!"
Hanzel nyengir karena adik nya itu terlalu merendah diri terkadang sikap rendah diri nya tidak sesuai dengan apa yang telah dia lakukan "Ya aku beruntung memilikimu sebagai kembaran ku"
"Hanz.... Jadi Kalian kembar?" tanya Rafka. Keduanya sontak mengangguk bersamaan "Hanzel lebih tua 10 menit dariku. Kau memanggil kakakku 'Hanz' kalau gitu panggil saja aku Hani" ucap adiknya Hanzel. Rafka terdiam lalu membandingkan wajah adiknya Hanzel dengan wajah Hana yang dia ingat dan ternyata dari postur wajahnya benar benar mirip hanya saja versi adiknya Hanzel memakai riasan yang cukup tebal dan lebih seperti toko perhiasan berjalan. Rafka bertanya tanpa ragu "Bukan kah kita pernah bertemu di candi? Kau hana yang aku kenal itu kan Hani atau kamu punya adik kembar lagi"
Baru saja bertanya saat melihat ke arah mereka Hanzel dan Hana telah pergi "Hmm, apa jangan jangan mereka kembar 3 ya? Ya udahlah ngapain juga aku sibuk mikir"
Rafka istirahat di restoran "Tumben masih jam segini aku sudah lapar"
"Mbak pesan mie ayam goreng nya satu" teriak rafka dengan nada santai
"Mas pesan dada geprek satu, sama moccha latte!"
Setelah Rafka berteriak wanita dibelakangnya ikut berteriak untuk memesan, padahal mereka ada di restoran hotel HK yang sangat terkenal dengan pelayanan nya Biasanya Pelayan akan menghampiri meja dengan wajah ramah lalu menanyakan pesanan. Tamu di restoran mulai berbisik "Cihh, kampungan banget sih dua orang itu."
"positif thinking aja mungkin mereka baru pertama kali makan di restoran hotel!"
Bahkan pelayan pun tunjuk tunjukkan untuk melayani mereka berdua "Duh, aku malas melayani mas sama mbak yang itu, memang muka bule sih tapi kok kesannya kampungan" bisik pelayan satu ke pelayan lain dengan cukup nyaring, "EKHM..., jangan bergosip lebih baik kalian melayani tamu lain biar mereka aku yang tangani!" ucap sang manajer mengambil ahli
Pertama manajer mendatangi Rafka yang berpakaian santai, dia cuman pakai kaos polo dan celana pendek. "Permisi, tuan tadi anda pesan apa?"
"Kenapa pelayanan nya lama sekali?" tanya Rafka seraya memeriksa kualitas restoran yang akan dialihkan ke dirinya
"disini anda hanya perlu bersabar atau memencet bell maka pelayan kami akan mendatangi anda dan menanyakan pesanan. Anda tidak perlu berteriak seperti tadi tuan"
"Kenapa harus bersabar lagian disini tidak banyak tamu yang datang. Seharusnya saat melihat kami duduk pelayan sudah siap mendatangi meja dan menulis pesanan. apa terlihat kami tidak mampu bayar makanan disini makanya tidak dilayani?" saut wanita yang duduk membelakangi Rafka. Wanita itu berdiri lalu duduk didepan kursi Rafka yang kosong, Rafka sempat kaget lalu dia tersenyum seraya menyeringai "Tadi aku dengar perkataan kasar pelayan disini, kalau itu tamu aku masih bisa maklumi. Aku mau pelayan yang seperti itu dipecat saja. Dia tidak berhak memilih milih tamu untuk dilayani!"
"Tapi pak, pemecatan karyawan harus sesuai prosedur kami tidak bisa asal memecat diperlukan dokumen kritikan yang ditanda tangani penanggung jawab restoran" ucap manajer itu. Hana menyeringai lalu menunggu tindakan Rafka selanjutnya "bawa kertasnya biar aku tanda tangani sekarang!"
"Eh pak, tapi..." manajer hendak menjelaskan tapi di interupsi oleh Hana yang menunjukkan isi ponsel kepadanya "Ini.. Ini...?" manajer terkejut saat melihatnya
"Iya penanggungjawab kalian sekarang sudah diganti" gumam Hana dengan malas. Ponsel Hana menunjukan pengumuman penting seputar hotel HK, pengumuman nya baru saja rilis di situs web hotel HK
"Bagaimana nona tau urusan internal kami? Eh maksud saya bagaimana nona bisa mendapat kan pengumuman secepat ini?!"
"Mm..., aku rasa kau tidak perlu tau. Sebaiknya kau menyapa atasan baru yang duduk didepan mu" Hana menunjuk ke arah Rafka
"Apa anda tuan Rafka Hermawan?" tanya Manajer dengan gugup. Rafka menghela nafasnya "Ah, apa perlu kau melihat id card ku baru percaya? Kau boleh melihat nya tapi setelah ini aku mau dimeja ku nanti kamu menyerah kan surat pengunduran diri" wajar Rafka mendisiplinkan anak buahnya karena yang sekarang bicara adalah manajer yang nantinya akan jadi kaki tangan nya Rafka. Manajer haruslah cekatan baik dalam mengenali orang, mengelola masalah ataupun mencari informasi.
"T... Tidak perlu tuan, saya percaya segera saya akan bawakan kertas yang tadi anda minta" ucap nya seraya buru buru pergi ke belakang
Rafka menyeringai seolah dia sudah tau apa yang disembunyikan Hana "jadi yang disini Nona Khana, Hani atau Hana?" tanya Rafka. Melihat mimik wajah Rafka, Hana mengerti kalau dia perlu menjelaskan tentang dirinya sebelum timbul kesalahpahaman "Yah, Aku Khana, Hani tapi aku juga Hana. Orang yang kamu liat bersama Hanzel adalah sosok ku di ruang bisnis dan yang saat ini duduk didepan mu it's the real me so just call me Hana"
"Jadi ini alasan dari pertanyaan mu sebelum menghilang. Kamu bertanya apa itu menyangkut masalah internal atau eksternal? maksudmu kalau aku pilih eksternal maka kamu akan memakai sosokmu diruang bisnis, dan jika aku memilih internal...." Rafka mencoba menyimpulkan tapi Hana keburu memotong
"Ya seperti yang kau liat saat ini, aku tampil apa adanya. Mulut Hanzel tidak bisa menjaga Rahasia sebab itu tadi pagi aku mengabaikan mu seolah olah baru pertama kali liat di ruang meeting. Nah saatnya kau tentukan pilihan, mau yang mana? kebetulan aku perlu bantuan mu sesegera mungkin untuk revisi skripsi"
Hana dengan santainya menatap Rafka. Rafka tanpa berpikir panjang menjawab "Ini masalah internal. Jadi aku adalah anak piatu, tidak punya ibu dan aku pewaris satu satunya perusahaan ASF. Masalahnya setelah papaku menikah lagi aku kabur dari rumah"
"Trus?" Hana ingin mendengar penjelasan lebih dari mulut Rafka
"Aku udah lama hidup sendiri dan setelah aku kabur aku nggak pernah kontak sama dia, hanya sekarang usahanya ada diujung tanduk jadi dia ingin aku kembali dan sudah jelas setelah aku kembali dia pasti akan menyuruhku menikah dengan anak temannya. aku tidak punya keinginan menerus kan usahanya yang sudah mau gulung tikar terlebih lagi jika aku harus menikah. sebab itu aku perlu pasangan"
"oh kalau masalah begini Bukankah akan lebih enak jika kamu memilih diriku yang satunya. Kenapa kau memilih ku yang biasa? Aku ingatkan ya diriku yang biasa nggak punya uang untuk nyenengin papamu"
"Iya aku tau kok kamu juga sudah bilang nggak pinter bisnis, jadi kau tidak bisa menghamburkan uang seenaknya. Untuk masalah pengeluaran ntar aku yang atur, kita jalanin aja dulu ntar kontrak kita nyusul aja!" ucap Rafka dengan santainya
"Alah cuman gitu nggak perlu pake kontrak kali, lagian cuman beberapa kali ketemuan abis itu selesai. Anggap aja saling bantu teman" Ujar Hana dengan ramahnya. Rafka mengangguk setuju lalu mereka berdua di interupsi oleh manajer restoran "Tuan ini kertasnya udah saya sediakan"
"Sini mana biar saya tanda tangan?!"
__ADS_1
disebelah tanda tangan Rafka menyisipkan note : 'Kertas ini untuk sementara hanya berlaku sebagai peringatan, tidak ada pemecatan jika hal yang sama terulang, maka kertas ini berlaku sebagaimana mestinya! *SP2'
"Wow, baik sekali kamu" gumam Hana setelah membaca note nya Rafka. Manajer mengambil kertas itu lalu pelayan yang tadi bermasalah segera menghampiri rafka untuk meminta maaf.
"Han, apa hari ini kau luang?"
Tanya Rafka setelah pelayan yang meminta maaf itu pergi. Hana mengangguk "Ya aku free, rencana sih mau lanjut revisi skripsi" Hana merespon disela makan nya, jadi pipinya terlihat tambah chubby
Rafka menghela nafas 'Ada baiknya kalau aku menemui ayah hari ini, aku bosan di ikutin trus sama bawahannya' pikirnya. Hana mengangguk "Ya kau betul sekali, diwaktu luang begini seharusnya kau menemui ayahmu, kalau aku jadi kau sejak awal di ikutin, aku akan langsung protes!" Ucap Hana seolah olah merespon apa yang di pikirkan Rafka
"Ckck, Han apa kau anak indigo? Bagaimana bisa kau tau apa yg ku pikirkan?!" tanya Rafka. Hana menggeleng, dia bukan anak indigo "aku membaca mimik wajah dan gerak gerik tubuhmu. Suara, mata, omongan semua bisa berbohong tapi tidak dengan respon tubuh!"
"Jujur Han, kamu seorang psikolog kan?" tanya Rafka, Hana mengendikkan bahunya "No, apa yang membuat berpikir seperti itu?"
"Cara bicara mu" ucap Rafka dengan santai nya sambil makan. Hana menggeleng, karena arah pembicaraan nya mulai ke privasi tiba tiba saja dia teringat hal yang ingin di liat "Boleh liat ktp mu nggak?"
"Eh, kenapa kok tiba tiba? Kamu mau buat ktp kayak aku juga"
"iya Pengen, tapi aku nggak tau cara ngurusnya. Kata om ku nggak perlu bikin karena Aku nggak lama sih disini lagian aku juga nggak lahir disini, begitu pun orang tuaku"
"Nih ktp ku!" belum sempat Hana bercerita panjang lebar, Rafka langsung menunjukkan ktp nya "Kelahiran tahun ****, berarti kita seumuran"
"Seumuran? Bukannya kau jauh lebih mudah dariku" tanya Rafka ternyata dugaan nya benar Kalau umur Hana
Beda tipis darinya "Kau percaya ucapan ku yang dulu?! Hahaha... Ya aku jadi lebih muda darimu karena aku masih anak kuliahan"
"Tapi tenang aja biar masih anak kuliahan, aku bisa tetap di andalkan"
gumam Hana. Rafka menyeringai "Kalau gitu tunggu apa lagi, selesai makan ini aku mau kau ikut menemui ayahku"
"Ooo.. Okay, abis itu kita lanjut nyusun skripsi ya"
--------------
PUKUL 16.00
--------------
Hana turun dari mobilnya Rafka baru saja melangkahkan kaki, Hana sudah ditatap orang yang lewat disekitarnya
"Huh, kenapa liatin aku sampai segitunya sih?!" gerutu Hana pelan.begitu keluar Rafka buru buru mengikat jaket nya di pinggang Hana "Eh kenapa?" rafka mengambil tangan Hana lalu meletakkan nya di lengannya seperti cara orang muda bergandengan dengan pasangan mereka sambil jalan Rafka berbisik "ini bukan di Italia, nggak sopan pakai pakaian pendek!"
"ini nggak pendek Af, ini namanya MODE. Kalau bagian atas tertutup, bagian bawahnya boleh sedikit terbuka..." Hana mau menjelaskan lebih tapi dahi nya keburu disentil Rafka duluan "Yang kau pakai itu bukan sedikit terbuka, sekalian aja kamu nggak usah pake bawahan. Udah jangan protes masih syukur nggak ku suruh ganti!" Rafka menasehati Hana seperti ibu ibu yang menegur anaknya.
Hana bertanya Heran dengan apa yang dilihatnya "Kita ngapain di RS? Kenapa nggak di kantor aja ketemuannya?"
"Ya mana aku tau Han, namanya juga papaku lagi ada disini jadi kita kesini! Bentar ku telfon dulu" jelas Rafka singkat. Rafka menelfon seseorang sementara itu Hana menunggu didepan kursi administrasi, para perawat dan orang yang lalu-lalang tersenyum seolah olah menyapa Hana
"ini kan tempat Hanzel, pertukaran sementara kan ya" profesi utama Hanzel adalah seorang dokter, menjalankan bisnis adalah sampingannya untuk cari uang ceperan. Ide jahil muncul di pikiran Hana "Sus, saya mau ketemu Dr. Hanzel?"
"Apa ibu sudah punya janji temu?" tanya suster itu seraya membuka buku catatan nya
"No, saya hanya mau minta pertanggungjawaban darinya" ucap Hana dengan nada yang dibuat sedih
"Tanggung jawab untuk apa ya bu? Kalau pelayanan kami tidak baik. Ibu silakan tulis kritik ibu di kotak ulasan" ucap sang suster, Hana mulai akting menangis "Nggak, usah deh sus. Ini masalah pribadi... Saya titip pesan saja bilang kalau kecelakaan satu malam berbuah fatal" Mendengar itu sang suster kaget tanpa ragu suster bertanya pada Hana "Ibu Hamil diluar nikah sama dokter Hanz?"
Baru Hana mau membuat masalah dengan kembaran nya tiba tiba saja Rafka datang menginterupsi "Sus, dia adiknya dokter Hanzel dan kecelakaan itu adalah kecelakaan kecil dijalan, lupakan saja sus dia hanya bercanda saja saya minta maaf atas perilakunya barusan" jelas Rafka sebelum menarik tangan Hana.
Hana menggembungkan pipinya rencana nya gagal karena Rafka "Bagaimana kau tau Hanzel itu dokter?" tanya Hana. Rafka mengencangkan gandengan nya di Hana "Hanzel sudah memperingatkan aku tentangmu, tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendiri yang ada kamu bakalan berbuat onar!"
"Oh, jadi Hanzel sendiri yang memberitahumu. Yang ku lakukan tadi hanya sedikit mencemari nama baiknya lagian kamu tau tadi itu hanya bercanda" Hana tidak terlihat peduli pada kembarannya
"Ya bercanda tapi bakalan mempengaruhi reputasi saudaramu" ucapku pada Hana
"Aku cuman bosan Afka" Hana menggelengkan kepalanya
"Kalau emang bosan lebih baik kau bermain saja denganku" Rafka merasa itu lebih baik dari pada Hana berbuat onar
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Hana
"Ya tentu" Rafka mengangguk
"Kalau gitu habis ini kita main, ada beberapa permainan yang tidak bisa ku lakukan seorang diri" sangking bersemangatnya Hana lupa kalau sebelumnya dia punya jadwal mau revisi skripsi.
Didepan balkon lantai atas Hana menunggu Rafka yang sedang berbincang dengan ayahnya, samar samar Hana mendengar ".... Aku tidak mau berurusan lagi dengan keluarga mu. Aku bakalan balik ke itali, jadi jangan Menghubungiku lagi!"
"Ikatan darah tidak bisa diputus begitu saja, di dalam darahmu ada nama keluarga Hermawan. Kau harus menikahi Sisilia dan meneruskan usaha papa!" ayah Rafka masih keras kepala dengan keputusan nya
"Sejak kau menikah dengan wanita itu aku bukan lagi keluargamu. Bahkan kau juga sudah mengeluarkan ku dari KK, aku tidak ada lagi urusan denganmu. Sekarang aku sudah punya keluarga ku sendiri jadi berhenti menggangguku!" Rafka memberinya peringatan
"Siapa? Apa wanita yang datang bersamamu itu?" Ayah Rafka menunjuk ke arah Hana.
Mendengar nama nya mulai dibawa bawa Hana maju mendekat ke arah ayah dan anak itu. Hana menghela nafas menyingkirkan perasaan gugupnya karena suasana yang menerkam diantara ketiga nya "Saya Khana Rumireo om, pacarnya Rafka. Senang bisa bertemu denganmu"
"Sudah berapa lama?"
pertanyaan Ayah Rafka tidak begitu jelas sehingga membuat Hana berpikir "Hmm... baru sebulan saya datang ke sini, sementara Rafka baru.... "
"Bukan itu yang saya tanyakan! Rafka, aku perlu bicara empat mata dengan wanita mu ini" ayah Rafka menarik tangan Hana
Rafka ragu meninggalkan Hana sendiri, Hana tau apa yang dipikirkan rafka jadi dia mengangguk sebagai isyarat "Aku tidak akan jauh dari kalian!" ucapnya sebelum menjauh
Hana duduk diseberang kursi pak Hermawan "Ya jadi Khana Rumireo aku langsung ke intinya saja. Kamu butuh berapa banyak untuk pergi dari putraku?!" ucapnya dengan santai, suasana yang menerkam tadi perlahan mencair. Hana menghela nafas dan bersyukur dia tidak perlu membuang tenaga nya untuk mencairkan suasana "Hana tidak perlu uang om" dalam hati hana berkata 'Yang hana butuhkan skripsi hana cepat kelar, udah itu aja'
"Oh berarti kamu dari keluarga kaya raya. Siapa nama orangtuamu? Dimana mereka sekarang?" ayah Rafka bersikap tidak sopan padanya.
Hana menjawab dengan sebuah seringai diwajahnya "Ayah Hana bernama Ruan Ruo sementara ibu Hana bernama Alin Craetta. Keduanya sekarang ada didalam tanah" jauh didalam hati Hana meminta maaf pada orang tuanya yang masih sehat
"Sudah meninggal! Baguslah, Berarti harta warisan nya jadi milikmu. Kamu punya perusahaan apa?"
"Hana masih kuliah om, masih tahap nyusun skripsi dan Hana tidak Punya warisan, disini Hana numpang tinggal dari satu rumah ke rumah lain milik keluarga Hana"
"Kalau gitu kenapa kau nolak uang nya? Kan gampang kau hanya perlu pergi meninggalkan putraku"
"Hana tidak bisa om karena Rafka adalah pria yang baik " Hana menghela nafas sebentar lalu memberanikan dirinya untuk bertanya "om, Hana liat hubungan om dengan Rafka tidak lah baik. boleh Hana tau alasannya?"
"Kau hanya lah orang luar jadi tidak perlu mengurusi masalah ini" ucap pak Hermawan dengan nada galak
"satu pertanyaan saja deh om, apa om masih peduli dengan anak om?" tanya Hana tanpa ada keraguan
pak Hermawan berhenti bergerak dengan tatapan kosong untuk sesaat, jadi Hana menambahkan "Nakal seperti apapun anak bagi orang tua, mereka tetap yang paling berharga. wajar jika merindukan mereka, hal yang sama juga berlaku pada diri anak. bagi seorang anak sejauh apapun jarak mereka dari orang tua, jauh di hati mereka juga selalu merindukan kasih sayang orang tuanya"
"Kau terlalu banyak bicara...., tentu saja aku peduli padanya, rasanya baru kemarin aku menggendongnya dengan kedua tangan ku ini lalu kau datang merebutnya, itu membuatku tak suka padamu" oceh pak Hermawan mengingat saat dimana Rafka baru saja dilahirkan lalu seketika momen lama terbesit di kepalanya dimana Rafka mulai memanggilnya 'papa' lalu Rafka mulai berjalan dan juga dia ingat dimana mereka berdua bermain bola sambil bercanda penuh dengan tawa. Hana tersenyum puas karena kali ini pak hermawan berkata jujur "Hubungan kalian masih ada harapan, Hana mau Rafka tidak ada penyesalan seperti yang orang lain rasakan saat kehilangan orangtuanya. Om tenang saja, sebisa mungkin Hana akan menjaga Rafka dan memperbaiki hubungan kalian"
"Apa yang kau rasakan saat kehilangan orang tua?" pertanyaan Pak Rafka, membuat Hana mengingat kembali rasa sakitnya saat kedua orang tuanya sempat koma karena sebuah kecelakaan "Rasanya sama seperti yang om rasakan ketika Rafka pergi dari rumah tanpa kabar. satu kata untuk mewakili segalanya 'H A M P A' " ucap Hana dengan wajah sedih, pak Hermawan menolak mentah mentah pernyataan Hana "Saat Rafka pergi yang kurasakan hanya Marah yang terus menggebu gebu"
"Om marah ketika Rafka pergi itu hal wajar yang dirasakan tapi ketika Rafka benar benar pergi tak bisa kembali ketempat yang tak bisa dijangkau maka yang om rasakan hanya satu kata itu lagian aku yakin om pernah merasakan hampa tanpa adanya Rafka di rumah om" Hana tersenyum dengan senyuman yang bisa memiliki sejuta arti. hana tau pria tua itu telah meremehkannya, dari jauh Hana melihat rafka sudah berjalan ke arahnya "Aku sarankan om jangan terlalu menekan Rafka untuk segala hal, biar bagaimanapun semua orang ingin memiliki kebebasan, baik itu Hana, rafka maupun om sendiri. sekedar informasi saja selama ini Rafka sudah hidup dengan baik, akan ku pastikan akan terus seperti itu" bisik Hana dengan pelan
Rafka segera memeluk pinggang Hana "Sudah bicaranya, ayo pulang!" ucap Rafka, Rafka bertingkah seolah dia tidak melihat pria didepannya jadi Hana sedikit terkekeh geli melihat hal itu 'heh... Ayah dan Anak tidak jauh beda!' , dengan damai Hana berpamitan sebelum benar benar pulang.
Tanpa didengar Hana, pak Hermawan sempat berbisik dengan Rafka "dia punya sisi yang unik, jaga dia!"
saat di pertengahan Jalan Hana berhenti didepan sebuah kamar karena dia ingat telah melupakan suatu hal yang penting "Afka aku lupa, ada barang yang perlu ku ambil di ruangannya Hanzel. bisakah kau menunggu sebentar?"
"Iya sana, cepat kembali!"
Tak terasa Hari pun mulai gelap, rafka melihat ke luar koridor "huh, ini hari yang panjang!" sambil melihat lihat tanpa sadar Rafka mengintip salah satu kamar pasien dan kebetulan itu adalah kamar ibu tiri sekaligus mantan teman baiknya. walaupun Hanya terlihat kakinya saja, dari kaca Rafka bisa melihat beberapa banyak alat medis yang diletakkan didekatnya
"Apa dia baik baik saja?" gumam Rafka, sambil duduk dikursi tunggu depan ruangan kamar. seseorang menepuk pundak Rafka yang lagi merenung "Afka, apa aku begitu lama? maaf sudah membuatmu menunggu"
-Rafka ilustration
> Berlanjut
__ADS_1